Perjuangan Di Haul ke-8 Guru Sekumpul

Standar
Ahmad Hafy Badali dan Muhammad Amin Badali putra Guru Sekumpul saat haul ke-8 yang dikelilingi para habaib, ulama, tokoh masyarkat, serta para pejabat tinggi daerah

Ahmad Hafy Badali dan Muhammad Amin Badali putra Guru Sekumpul saat haul ke-8 yang dikelilingi para habaib, ulama, tokoh masyarkat, serta para pejabat tinggi daerah

Penuh perjuangan. Itulah yang tersirat dalam pikiran saat aku menghadiri Haul ke-8 Al Alimul Alamah Asyekh KH Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang akrab disapa dengan Guru Sekumpul.

Pukul 17.30. Aku baru saja menyelesaikan beberapa tulisan untuk mengisi salah satu halaman koran. Setelah sebelumnya mengikuti kelas penulisan Novel bersama dua orang penulis Kalsel favoritku. Bagiku, menjelang petang merupakan waktu yang sudah terlalu terlambat untuk menghadiri haulan Guru Sekumpul. Karena seperti yang kalian ketahui, Pengajian beliau saja sudah beribu-ribu umat manusia yang menghadiri. Apalagi ketika beliau wafat, dan haulan-haulan dari 1 sampai ke 7 kalinya diadakan. Setiap tahun, jamaah yang berhadir selalu bertambah dan melebihi hitungan angka manusia.

Memakai kopiah haji, berbaju Taqwa berwarna hitam dan celana panjang yang juga warna hitam. Tas kamera berwarna hitam diselempangkan di pinggang. Bayangkan, seperti apa saya kelihatannya, seperti kotoran berkaki empat kah? Ya, mungkin saja. Tapi warnanya hanyar terbalik.

Suasana ratusan ribu jamaah yang memadati halaman belakang Musholla Ar-Raudhah Sekumpul Martapura

Suasana ratusan ribu jamaah yang memadati halaman belakang Musholla Ar-Raudhah Sekumpul Martapura

Lalu lintas memang sudah padat merayap. Panitia dan tim keamanan haul pun sudah berjaga-jaga di tiap persimpangan. Aku berangkat dari Banjarbaru Kota melewati jalan Sei Pering dan tembus ke Guntung Alaban Komplek Sekumpul Martapura. Sayangnya semua kendaraan bermotor harus berhenti di sini. Semua jamaah diharuskan berjalan kaki untuk menuju Musholla Ar-Raudhah. Aku memutuskan untuk memarkirkan kuda besi butut yang tak punya mata -karena lampu depannya rusak dan tidak menyala- ini parkir di halaman rumah orang. Rumah bedakan, yang diseberangnya rental penyewaaan mobil. Jarakanya masih cukup jauh untuk pejalan kaki memasuki sekumpul. Sekitar 1 Km.

Di persimpangan Jl Pendidikan sudah terlihat shaf-shaf rapi para jamaah yang sudah membaca shalawat sebelum adzan magrib berkumandang. Tidak menyangka, kukira seperti tahun sebelumnya, jam segini jalan Guntung Alaban setahuku belum dijadikan shaf-shaf tempat jamaah yang sholat. Karena tahun sebelumnya jamaah lebih banyak di belakang untuk mengikuti imam di Mushola Ar-Raudhah. Kalau di depan tentu tak bisa. Maka dari itulah sebagian jamaah memilih imam sendiri untuk sholat berjamaah di beberapa titik di depan Musholla.

Selanjutnya, aku bertemu dengan seorang yang sudah akrab denganku. Seorang politis yang juga tak jarang menjadi narasumber.

“Eh, kemana hibak sudah urangnya?” Ujarnya dengan maksud menyapa dan langsungg menarik lengan kananku. Namanya H Jumli, anggota DPRD Kota Banjarbaru yang tinggal di Kecamatan Cempaka. Saat itu, entah dengan anak atau keponakan, ia duduk di warung gorengan untuk sekadar menunggu adzan magrib berkumandang.

Eh, Om. Lawan siapa pian? Kada handak ke dalam, kah?”

“Mana lagi kawa ke dalam jam seini.”

“He en lah. Aja beduduk ai dulu setumat nah. Bekajal banar jua sudah tadi ulun.”

“Minumkah dulu? Pesan gin?”

“Kada, ulun beduduk setumat aja habis tu bekeraut pulang begamatan ka tangah situ,” kataku mengakhiri percakapan.

Ahmad Hafy Badali dan Muhammad Amin Badali putra Guru Sekumpul saat haul ke-8 yang dikelilingi para habaib, ulama, tokoh masyarkat, serta para pejabat tinggi daerah

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

Aku duduk sejenak. Menarik nafas. Dan mengeluarkan kamera dalam tas yang berselempang. Aku memotret beberapa suasan jamaah yang duduk dengan zikir dan shalawat. Ada juga yang membaca Al-Quran atau melihat-lihat jamaah lain yang berlalu lalang. Frame demi frame telah kuambil. Setelah dirasa cukup, aku beranjak pergi untuk melanjutkan perjalanan yang berat. Jarak yang cukup dekat, namun harus ditempuh dengan hati-hati dan akurat. Karena kuyakin, akan banyak jamaah yang membenci orang sepertiku. Salah langkah, bisa saja kakiku menimpa kepala-kepala mereka.

“Permisi Om lah. Ulun harus bejalan ke tengah!”

“Oh, Silahkan! Kalau untuk liputan spot disini memang kurang cocok,” sahutnya sembari aku melanjutkan langkah perlahan.

Nah, aku akan berbagi tips untuk berjalan di sekumpulan orang-orang yang siap akan sholat. Sebenarnya ini tidak akan kulakukan kalau aku sekadar ingin hadir mengikuti semua amalan secara runtun, berdzikir, bershalawat, sholat berjamaah, dan membaca puji-pujian kepada Rasulullah. Tapi kali ini bukan tempo sewaktu aku masih Santri Pondok Pesanten Darussalam. Kali ini aku membawa tanggungjawab sebagai seorang bujangan yang berprofesi menjadi wartawan. Atau lebih tepatnya sebagai seorang Jurnalis, karena aku tak hanya diwajibkan menulis, tetapi juga memotret peristiwa, kejadian, atau apa saja yang berhubungan dengan ranah Jurnalistik lainnya. Tugas adalah tugas. Ibadah, tetap diniatkan.

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

Dengan kamera yang menggantung di antara ketiak sebelah kiri, aku perlahan melangkah kaki ke sajadah-sajadah para jamaah. Karena memang hamparan sajadah itulah satu-satu pijakan bagi kalian yang ingin berlalu lalang. Mungkin perjalananku baru sampai 100 meter namun sudah memakan waktu kurang lebih 15 menit. Bajuku basah karena keringat. Rasa lelah dan dahaga juga menghampiriku. Adzan magrib dari Mushollla Ar-Raudhah Sekumpul mulai menggetarkan setiap anggota badan. Beberapa jamah terlihat berdiri karena terlihat salah satu ulama, -entah siapa aku tidak melihat terlalu jelas- baru memasuki shaf dengan para protokoler panitia haul menuju mushala Ar-Raudhah. Setelah semua kembali duduk karena diperintah petugas, aku berhenti di salah satu kios portable atau lebih tepatnya gerobak dorong.

Hari menejelang gelap dan adzan sudah usai berkumandang. Kemudian para jamaah berdiri bersiap melaksanakan kewajiban. Sedangkan aku, terperangkap di antara mereka. Aku memang tak membawa sajadah. Karena tidak berniat untuk singgah atau konsisten di satu titik saja. Melainkan harus berjalan-jalan mencari spot yang bagus untuk menjadi berita. Pada akhirnya aku duduk di kios tadi dan menunggu sholat berjamaah usai. Sembari memotret mereka yang sedang khusyuk menghadap Tuhan dari berbagai sudut pandang.

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

Suasana shalat magrib berjamaah di Guntung Alaban saat penulis bertahan di salah satu kios

Perjuangan tahap kedua dimulai. Setelah melepaskan kedua sandal, aku memasang tekad untuk bermuka tebal dan rasa permisi yang kuat. Sembari mengayunkan tangan di antara pundak-pundak mereka yang beramalan wiridan selepas Sholat Magrib. Mau bagaimana lagi, tak mungkin menunggu mereka semua berdiri. Tugas adalah tugas. Bagaimanapun caranya harus aku jalankan. Tetap dengan aksi penuh kehati-hatian. Melewati putih-putih umat Rasulullah dengan segala kelas umur. Tak peduli muda ataupun tua. Semua dilewati dengan rasa sedikit bersalah. Karena tidak datang lebih awal.

Akhirnya perjalanan lama itu ditunda sementara. Aku singgah di rumah Kak Abdil yang masih berkaitan keluarga. Bapak Zani kakak dari ayahku bersama Ibu Fifah sudah ada di dalam rumah. Tapi tak semudah itu. Pagar rumah memang telah dikunci karena halaman rumah juga sudah penuh dengan jamaah yang melaksanakan shalat berjamaah. Tak ada pilihan dan memanggil orang di dalam untuk membukakan pagar pun tidak mungkin. Singkatnya, aku masuk dengan meloncat pagar. Bayangkan berapa pasang mata yang focus melihat aksiku meloncat pagar. Ini bukan momentum konser music live lho, tapi acara keagamaan, haul Guru Sekumpul.

Suasana di depan paimaman Mushola Ar-Raudhah samping kubah Guru Sekumpul

Suasana di depan paimaman Mushola Ar-Raudhah samping kubah Guru Sekumpul

Dengan penuh perhitungan, tas pinggang dieratkan serta kedua sandal yang telah kulempar ke balik pagar. Aku meloncat. “Hap”, tak ada yang menangkap. Aku berhasil mendarat dan memasang kedua sandal. Dan perlahan, lagi-lagi, melewati jamaah yang masih wiridan hingga ke dalam rumah.

Hanyar ja kah? Jam berapa tadi tulak?” kata Kak Abidl menyapa.

Jam setengah enam Ka. Menuntungakan gawian dulu tadi sedikit,” jawabku.

“Beeeeeiiih… payahnya. Urang mun tulak haulan handak ke dalam tu sungsungi, jadi kada manggangu urang,” tutupnya kemudian menuju tempat beruwudhu. Dan segera aku juga menunuaikan sholat Magrib yang tertinggal dari jamaah lain.

**

“Bu, ulun langsung kaluar, amun bakaina sawat asrakal kada sampat mamutu!” itu kuucapkan setelah sebelumnya duduk di depan tv melihat tayangan langsung pembacaan Maulid Habsyi dari dalam Musholla Ar-Raudhah sekumpul.

Suasana di dalam Musholla Ar-Raudhah

Suasana di dalam Musholla Ar-Raudhah

Tampaknya tak perlu kuulang. Tapi tak apalah, tak ada melarang jika aku mendeskripsikan kembali. Karena inilah yang namanya perjuangan. Sampai di depan pagar, aku kembali melakukan perhitungan. Menghitung berapa langkah lagi aku melewati kepala-kepala dan membokongi para jamaah yang sedang khusyuk. Memang, perasaan bersalah itu singgah di dalam pikiran ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Kuletakan kedua sandal di balik pagar untuk menuju keluar. Aku melakukan aksi lompat pagar untuk kedua kalinya. Di antara layar tancap itu aku melangkah, meniti jemari di antara pundak jamaah. Sampai akhirya para penjaga menghadangku di depan pintu gerbang musholla Ar-Rhaudah.

“Kada boleh masuk Ding, sudah hibak!” ujarnya.

“Setumat aja ulun Bang, handak memotret di atas aja. Boleh ai kalu lah? Ulun wartawan.”

“Darimana?”

“Wartawan di Media, bang!”

“Mana ID Cardnya?”

???????????????????????????????Penjaga itu melirik ID Card pers di dada yang sedari awal masuk telah kukalungkan. Hanya agak tertutup tali atas sehingga harus kugeserkan agar tampak.

“Ya sudah. Masuk ja”

“Arah kemana menuju tangga naik ke atas tuh?”

“Terus aja arah ke pewudhuan. Habis tu kam belok kiri masuk ke ruangan. Disitu kam sudah behadapan tangga naik ke atas.”

Dengan memegang kedua sandal di dada, aku perlahan melangkah kembali melewati titik-titik kecil hamparan sajadah jamaah. Hingga memasuki ruangan yang dimaksudkan penjaga. Kedua sandal kuletakkan di bawah anak tangga pertama. Dan perlahan menaikinya. Sampai di lantai dua aku kembali melewati cara yang sama. Hanya saja karena lantainya sudah berkeramik jadi hanya sediki sajadah yang dihampar disana. Dan sampai lah aku ke pintu keluar lantai dua. Yang tak lain adalah atap Mushola Ar-Rhaudah Sekumpul Martapura.

**

???????????????????????????????“Eh, pian ni melelain pada nang lain. Urang baju putih-putih semuanya. Pian kenapa memakai warna hirang!” ujarku menyapa bercanda Joe, salah seorang rekan fotografer yang kutepuk pundaknya di sisi jendela. Padahal ini bukan perlakuan yang baik sesame fotografer. Yakni menepuk pundak saat si fotofgrafer sedang membidik. Bisa kehilangan momentum dia.

“Ah, sama haja, situ saraba hirang jua. Sampai ka salawar lagi. Lamun aku baju aja. Salawarnya levisnya warna biru,” jawabnya sembari tawa kecil kawan-kawan di antara bacaaan rawi Maulid. Kurang beradab. Tapi yakin saja, suara kami tidak akan sampai ke dalam Musholla.

Aku mengeluarkan kamera, mengambil beberapa frame dan momentumnya. Sembari menyahut beberapa shalawat yang dilantunkan Ahmad Hafy Badali dan Muhaamad Amin Badali, keduanya adalah putra Guru Sekumpul.

???????????????????????????????Muhammad Amin yang berdagu seperti lebah bergantung, mewarisi perwajahan yang sangat mirip dengan ayahnya. Suara, gerakan bibirnya saat membaca huruf-huruf hijayah, tatapan mata, dan perawakannya yang kini telah beranjak dewasa. Mata yang penuh dengan tatapan kedalaman ilmu dan cahaya itu juga diwariskan kepada Ahmad Hafy, keterampilan, kehalusan kulit, dan gerak-gerik sang Guru hadir dalam diri keduanya. Keberadaan Amin dan Hafy seaolah-olah menjadi obat rindu para jamaah kepada Guru Sekumpul. Tak ada yang pernah bisa mendeskripsikan kebaikan rupa dan kemuliaan kedua putra Guru Sekumpul, karena nyatanya, melebihi apa-apa yang tersirat dan tersurat. Sang pewaris Quthbul Gauz.

Di atas sini kurang lebih ada 6 fotografer yang sebagian sudah saling mengenal. Dan di antara ada dua wartawan televisi lokal Kalsel yang meliput kegiatan sejak tadi sore. Mereka memang telah datang lebih awal.

???????????????????????????????Beberapa momentum pembacaan syair maulid, asrakal, sudah kita laksanakan. Beberapa frame foto juga sudah kami ambil dengan seksama dan cukup untuk pemberitaan masing-masing media cetak dan elektronik. Sejenak, kami kadang merasa beruntung karena sedikit lebih leluasa bergerak dan melihat-lihat langsung suasana di dalam Musholla. Namun bukan berarti karena telah difasilitasi oleh panitia kami rekan pers bisa semena-mena. Sesekali tetap larut dalam alunan dzikir dan shalawat yang dibaca ratusan ribu jamaah sana. Menurutku, haul kali ini lebih banyak jamaah yang datang serta lebih terkoodinir dengan solid oleh panitia. Kerja keras panitia pasti terbayarkan dengan barokah pahala yang tak pernah terhitung oleh manusia.

Setelah pembacaan Maulid Al Habsyi dilanjutkan dengan Dzikir Nasyid. Berbeda dengan tahlilan biasa. Ada dua regu yang berdzikir dengan kalimat berbeda, beberapa guru pesantren yang memang sudah dikenal dengan sebutan penyairan maulid melantunkan syair yang juga khusus untuk Dzikir Nasyid. Kemudian jamaah menyahut dengan Dzikir Tahlil. Kalimatnya berbeda beda, di Syair pertama jamaah menyahut dengan Lailahailallah. Sedangkan di dzikir kedua jamaah berucap A hu A hu Allah beberapa kali sesuai ketukan syair. Begitulah. Dan ratusan ribu jamaah itu juga harus bergerak senada dengan dzikir ke kiri dan kanan. Salah gerak sekali atau seorang saja, kepala bisa terantuk jamaah di sebelah. Apalagi jika salah satunya menggoyangkan kepala dengan kencang. Coba.

ananda_haul guru sekumpul ke-8 di Komplek Ar Raudah Sekumpul Martapura19Aku melihat hamparan jamaah dalam shaf-shaf yang teratur di bawah. Seperti suasana Masjidil Haram. Yang pernah kulihat dalam televise-televisi Arab Saudi. -Karena memang aku belum berhaji. Tapi niat itu ada. Dan yakin sajalah, rejeki ke sana pasti ada. Hanya saja Allah mengatur waktu yang tepat). Dalam momentum ini, saya merinding. Memang pada momentum ini saya tidak ikut berdzikir berduduk bertelempoh seperti jamaah lainnya yang berada di bawah. Tetapi memotret dengan teknik slow shoot agar menghasilkan efek gerak pada bingkai kamera. Sesekali saya menikmati alunan tubuh yang berdzikir itu. Layaknya gelombang air laur yang berirama teratur dan perlahan. Meneduhi segala pikiran dan ingatan akan kegemerlapan dunia. Semua hilang, hilang dalam kefanaan. Melainkan hanya satu. Kepada Nya.

???????????????????????????????Aku berdiri sembari menyandarkan kedua tangaku di pinggiran atap mushola yang bentuknya seperti plang nama nisan di kuburan muslimin. Di atas lampu neon hijau tulisan arab Mushola Ar-Raudhah. Melihat raut muka jamaah yang terpejam, terlarut, yang mabuk akan mengingat Tuhannya. Tiba-tiba getaran itu terasa dari dinding-dinding mushola. Suara “Hu” yang keluar dari ratusan ribu jamaah membuat atap-atap, dinding dan kaca mushola bergetar. Itu kurasakan setelah tanganku betul-betul memegangnya. Lalu aku bergumam, begini ternyata dahsyatnya dzikir yang dilakukan ratusan ribu kepala manusia. Bahkan aku yakin sekali, semua benda mati baik itu dinding rumah, pepohonan, tumbuhan, sampai segala pojok ruang yang ada di komplek sekumpul malam ini bergetar, turut berdizikir. Dan tentunya akibat gelombang suara “Hu” yang serempak. Itu semua terjadi. Betapa dahsyatnya gelombang suara manusia jika digabungkan. Sungguh sangat luar biasa. Ah, sungguh, aku terenyuh saat momentum ini. Sampai semua hilang tenang dan tentram saat dzikir terakhir diiringi shawalat kepada junjungan Nabi Besar Muhammad Rasululullah SAW.

???????????????????????????????Semua amalan telah dilaksanakan. Juga doa haul khususnya kepada Guru Sekumpul. Tinggal lagi Adzan untuk segera melaksanakan shalat berjamaah. Aku bersama Om Oneal, seorang fotografer ternama dari Banjarmasin berinisiatif untuk turun terlebih dahulu. Karena konsekuensinya, jika memang bertahan sampai akhir shalat Isya berjamaah, lebih baik sekaligus saja. Karena kurang nyaman jika kau memutuskan untuk berjejal-jejal. Tapi, proses itu memang harus dilalui. Seakan kita memang tak diberikan pilihan.

Keluar Musholla dengan cara yang sama. Aku berjalan di depan Om Oneal mencari-cari alur jalan yang sedikit terlihat tidak terlalu padat. Setidaknya menyisakan setapak ruang untuk jamaah yang memilih keluar. Syukurlah. Sampai kami berdua di Guntung Alaban, Iqamah usai berkumandang.

“Pian ni sengaja kada besandal kah tadi masuk ke dalam?” tanyaku kepada Om Oneal.
“Kadanya pang, sandalku di parak gerbang langgar. Tapi kada mungkin lagi jua aku maambil bacacarian, biar aja sudah barilaan,”
sahutnya.

Beberapa shaf di sebalah kanan kami sudah mengangkat takbir. Untungnya di alur sebelah kiri pinggir jalan tersedia untuk para jamaah yang keluar. Tapi tak boleh diserobot. Langkah para jamaah juga harus satu senti satu senti. Salah langkah bisa tercebur ke comberan selokan. Jadi harus antri, seperti membeli BBM di SPBU.

Akhirkanya aku terlepas dari sesak dan jejal berbagai macam aroma. Aku berjalan perlahan menuju kuda besi yang telah kuparkirkan di rumah penduduk yang jaraknya masih kurang lebih 1 Km. Jaraknya itu tak akan terasa jauh jika kalian menjalaninya bersama dengan banyak orang. Dan beramai-ramai seperti saat ini.

**

Malam semakin larut, semakin dingin, dan awan tampak lebih gelap dari sebelumnya. Beberpa “U Turn” Jalan Ahmad Yani ditutup demi kelancaran lalu lintas. Tak berlama-lama karena lalu lintas keluar juga belum terlalu padat, aku telah sampai di sekretariat kawan-kawan, Onoff Solutindo Project. Bergegas membuka komputer dan menyambungkannya ke internet. Karena kantor redaksi memang sudah menunggu hasil setoranku di malam ini. Malam perjuangan penuh berkah. Penuh keringat dan lelah. Di luar hujan turun deras sekali. Aku merebahkan diri sembari menarik nafas panjang relaksasi. Rasa syukur kuucapkan dan segera beristirahat usai melaksanakan kewajiban. Untuk kembali menemui hari yang sama dengan cerita berbeda. Dan menyaksikan hasil fotoku terbit besok di halaman depan koran. Barakallah, Allahuma Yarham, Al Alimul Alamah Syekh Zaini Abdul Ghani Sekumpul Martapura.[]

???????????????????????????????