Materi Caving

ananda_Orpala Kadipa
Standar

Tentang Caving

Disusun Oleh: Ananda Perdana Anwar

 

Susur gua atau jelajah gua (Inggris caving) adalah olah raga rekreasi menjelajahi gua. Tantangan dari olah raga ini tergantung dari gua yang dikunjungi, tapi seringkali termasuk negosiasi lubang, kelebaran, dan air. Pemanjatan atau perangkakan sering dilakukan dan tali juga diguanakan di banyak tempat.

Caving kadangkala dilakukan hanya untuk kenikmatan melakukan aktivitas tersebut atau untuk latihan fisik, tetap awal penjelajahan, atau ilmu fisik dan biologi juga memegang peranan penting. Sistem gua yang belum dijelajahi terdiri dari beberapa daerah di bumi dan banyak usaha dilakukan untuk mencari dan menjelajahi mereka. Di wilayah yang telah dijelajahi (seperti banyak negara dunia pertama), kebanyakan gua telah dijelajahi, dan menemukan gua baru seringkali memerlukan penggalian gua atau penyelaman gua.

Gua telah dijelajahi karena kebutuhan manusia untuk beberapa ribu tahun, namun hanya dalam beberapa abad terakhir aktivitas ini menjadi sebuah olah raga. Dalam dekade terakhir caving telah berubah karena adanya peralatan dan baju perlindungan modern.

Banyak keahlian dalam caving dapat digunakan di olahraga lain seperti penjelajahan tambang dan penjelajah perkotaan. Yakni SRT: single rope tachnic.

  1. 1 Gaya-gaya yang dipakai dalam SRT meliputi:
  2. Froglit Style: Style yang biasa dipakai oleh caver unakan satu tali. dengan satu kaki sebagai tumpuhannya serta satu kaki satunnya lagi menginjak footloop.
  3. Texas Style: Style yang dipakai dengan dua buah tali dengan bantuan alat pulley.
  4. Bisel : tehnik ini jarang dipakai oleh caver.

 

Satu set srt terdiri dari :

-2 Buah langkahbiner snap.

-3 Buah langkahbiner scru.

-1buah mr (million rapid).

-1buah autostop atau descender.

-2 Buah autostop simple.

-1buah jumar.

-1buah croll.

-2 Buah cowstell (terdiri dari cowstell pendek serta cowstell panjang).

 

  1. 2 Langkah-cara menempatkan alat-alat SRT:
  2. pakai harness terlebih dulu, upayakan catatan danger tertuput.
  3. masukan mr ( million rappid ).
  4. masukan croll upayakan croll dibagian yang sangat kanan.
  5. masukan costill serta upayakan cowstel terdapat dibagian yang sangat kiri.
  6. masukan 2 buah langkahbiner snap serta lagi scru.
  7. masukan otostop di langkahbiner scru serta upayakan letak otostop di dalam.
  8. pasang chess harness pada croll.
  9. pasang jumar pada cowstell yang panjang.
  10. pasang karabiner scru pada jumar yang dipakai untuk footlup.

 

Untuk jadi seorang caver mesti menguasai tekhnik-teckhik basic serta pengetahuan perihal caving itu sendiri, salah satunya yaitu :

Rigging: rigging yaitu langkah pemasangan dalam gua bergantung dengan ornamen serta type gua yang dapat di masuki.

SRT: srt yaitu langkah atau tehknik yang dipakai untuk menaiki statu gua dengan langkah spesifik di dalam srt itu sendiri juga ada beberaa langkah agar orang yang dapat menaiki senantiasa aman perumpamaan inter mediet, debíais, serta halangan.

Mapping: mapping yaitu pemetaan, di mana pemetaan ini yaitu statu langkah untuk tahu apa saja yang ada pada gua serta berapakah kedalaman gua dan tahu vegetasi apa saja yang ada pad agua tersebut.

Holling : holing yaitu statu langkah etahui type lubang yang ada pada ornamen gua tersebut dengan mengaplikasikan langkah apakah yang dapat digunakan.

  1. 3 Cara-Cara Pembuatan Angcor

Di dalam caving ada langkah atau cara-cara pembuatan angcor, angkor itu sendiri ada 3 angchor emas, perunggu, perak. ( standar angkor yang biasa dipakai 3 buah angckor ).

Langkah pemasangan angckor:

  1. menggunakan simpul playboy
  2. kemiringan verikal diusahakan 90-1300, namun standarnya 1100.
  3. back up belakang minimal ½ mtr..

Di dalam intermediat umumnya menggunakan simpul ½ delapan. di dalam srt pengaman minimal mesti ii buah pengaman. perumpamaan pengaman.

  1. cowstell pendek diletakan pada hanger.
  2. jumar mesti senantiasa menenpel jika croll dapat dilepaskan.
  3. autostop mesti terkunci jika jumar dapat dilepaskan.

 

Langkah mengunci autostop :

  1. jempol memegang tali karamentel statis dengan bentuk huruf c.
  2. lantas masukan tali karmentel sesuai dengan panduan yang ada pada autostop tersebut.
  3. masukan karamentel ke karabinel snap.
  4. lantas lingkarkan karamentel hingga terkunci tuasnya,
  5. masukan karamentel ke dua buah karabiner serta lantas lingkarakan kembali sehinga mengunci pada tuas kunciannya.

 

 

  1. 1 Deviasi

Didalam caving ada juga sebutan yang diberi nama dengan deviasi, deviasi itu sendiri yaitu satu langkah untuk meringankan caver agar tidak berlangsung benturan segera dengan tebing pada gua. langkah lakukan deviasi:

  1. pasang cowstil pendek pada ronga tali pada deviasi.
  2. copot langkahbiner debíais serta lantas pindahkan langkahbiner debíais pada tali karmentel di bawah croll.
  3. pasang jumar di bagian atas croll.
  4. lantas terlepas cowsil.

Yang menjadi tidak kalah penting dalam hal ini:

“janganlah dulu senang jadi orang yang terlatih, jadilah orang yang senantiasa berlatih”.

 

  1. 2 Pengertian dan Sejarah Penelusuran Gua ‘Caving’

Pengertian dan Sejarah Penelusuran Gua ‘Caving’ yakni Caving berasal dari kata Cave= Gua. Sedangkan orang yang menelusuri gua disebut caver. Jadi caving bisa diartikan sebagai kegiatan penelusuran gua yang mana merupakan salan satu bentuk kegiatan dari Speleologi. Sedangkan Speleologi secara morfologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu : Spalion = Gua dan Logos = ilmu. Jadi, secara harfiah Speleologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang gua, tetapi karena perkembangan speleologi itu sendiri, spleologi juga mempelajari tentang lingkungan disekitar gua.

Ada Beberapa Pengertian Penelusuran Gua “Caving’ menurut para ahli Penemu mamupun para Caver, yakni :

Menurut IUS (International Union of Speleology) anggota komisi X UNESCO PBB : “Gua adalah setiap ruang bawah tanah yang dapat dimasuki orang”.

Menurut R.K.T.ko (Speleologiawan) : “Setiap ruang bawah tanah baik terang maupun gelap, luas maupun sempit, yang terbentuk melalui system percelahan, rekahan atau aliran sungai yang membentuk suatu lintasan aliran sungai dibawah tanah.”

Adapun Sejarah Penelusuran Gua ‘Caving’, yang dimulai dari tahun ke tahun, yakni :

Penelusuran Gua dimulai oleh John Beaumont, ahli bedah dari Somerset, England (1674) ia seorang ahli tambang dan geologi amatir.

Orang yang paling berjasa mendeskripsikan gua-gua antara tahun 1670-1680 adalah Baron Johann Valsavor dari Slovenia. Ia mengunjungi 70 goa, membuat peta, sketsa dan melahirkan buku setebal 2800 halaman.

Joseph Nagel, pada tahun 1747 berhasil memetakan system perguaan di kerajaan Astro-Hongaria.

Stephen Bishop, pemandu wisata gua yang paling berjasa dan membawa gua Mammoth diterima UNICEF sebagai warisan dunia.

  1. 3 Etika, Moral dan Kewajiban Penelusuran Goa

Etika, Moral dan Kewajiban Penelusuran Goa tentunya hal yang sangt penting diketahui terlebihi dahulu oleh para Penelusur Goa. Mengapa hal tersebut dianjurkan dan sangat diutamakan, disebabkan banyaknya hal-hal yang belum diketahui dalam Kegiatan Caving ini. Apalagi bagi para penelusur Goa yang baru mengenal situasi saat Caving.

Ada beberpa hal yang perlu ditinjau dan diperhatikan dalam Etika, Moral dan Kewajiban Penelusuran Goa sebelum melakukan Caving, Ddisetiapa kegiatan Penelusuran Goa, dimanapun, Kapanpun dan siapapun itu, Yakni :

Kode etik penelusur goa  dibuat karena goa merupakan lingkungan yang sangat sensitif dan mudah tercemar. Kode etik ini antara lain :

TAKE NOTHING BUT PICTURE (Jangan Mengambil Apapun Kecuali Gambar)

LEAVE NOTHING BUT FOOTPRINT (Jangan Meninggalkan Sesuatu Kecuali Jejak)

KILL NOTHING BUT TIME (Jangan Membunuh/Memotong Sesuatu Kecuali Waktu)

CAVE SOFTLY

Setiap penelusur gua sadar bahwa setiap bentukan alam di dalam goa dibentuk dalam kurun waktu ribuan tahun.

Setiap menelusuri gua dan menelitinya dilakukan oleh penelusur gua dengan penuh respek tanpa mengganggu dan mengusir kehidupan biota di dalam gua.

Setiap penelusur menyadari bahwa kegiatan speleologi dari segi olah raga maupun ilmiah bukan merupakan usaha yang perlu dipertontonkan dan tidak butuh penonton.

Para penelusur tidak memandang rendah diantara sesama penelusur, begitu juga sebaliknya penelusur akan dianggap melanggar etika apabila memaksakan kehendaknya padahal persiapan kurang.

Respek terhadap sesama penelusur gua ditunjukkan dengan cara

Tidak menggunakan bahan / peralatan, yang ditinggalkan rombongan lain, tanpa izin mereka.

Tidak membahayakan lainnya, seperti melempar suatu benda ke dalam goa bila ada orang di dalam gua.

Tidak menghasut penduduk untuk menghalangi rombongan penelusur

Jangan melakukan penelitian yang sama, apabila diketahui ada rombongan lain melakukan penelitian yang sama tapi belum dipublikasikan.

Jangan menganggap anda penemu sesuatu apabila anda belum melakukan mencari informasi.

Setiap usaha penelusuran merupakan usaha bersama. (jangan menonjolkan kemampuan pribadi dan ingat bahwa penelusur adalah tim)

Jangan menjelekkan nama sesama penelusur.

  1. 1 Kewajiban penelusur goa

Menjaga lingkungan baik kebersihan, kelestariannya, dan kemurniannya menjadi hal wajib. Termasuk konservasi lingkungan gua merupakan tujuan utama penelusur goa. Maka dari itu wajib bagi para penelusur memberi pertolongan kepada penelusur lain apabila membutuhkan pertolongan sesuai dengan kemampuan. Yang terutama menjaga sopan santun dengan penduduk sekitar.

3.2 Izin Resmi

Wajib memberitahukan kondisi berbahaya pada penelusur lain tentang kondisi sekitar lingkungan goa atau di dalam goa.ananda_Orpala Kadipa

Lombok Exotic (Bagian Pertama)

Standar

Kurasa ini adalah tulisan biasa. Terlebih mereka yang senang berwisata. Apalagi sudah berkali-kali pergi dan menikmati indahnya Lombok dengan pantai dan pulau-pulau di sekitarnya. Ya, boleh dikatakan, pantai-pantai di Indonesia adalah surga bagi para turis. Dan ini adalah kali pertama saya mendapatinya. Pergi ke Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Saya kira, tulisan ini bisa menjadi manfaat untuk sebagian orang, menjadi inspirasi beberapa orang. Atau bisa saja memuakkan, whatever-lah. Sing penting bisa berbagi cerita. Sing penting nulis. Itu aja.

Rinjani dan Gili Trawangan dari Balik Jendela Pesawat

Rinjani dan Gili Trawangan dari Balik Jendela Pesawat

Kesan pertama saat aku menengok tanahnya dari balik jendela pesawat, NTB memiliki tipe tanah yang tandus, gersang, cukup panas untuk ukuran pulau di luar Kalimantan. Well, saya berangkat dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dan harus transit terlebih dulu di Bandara Juanda Surayabaya.

Aku berangkat beserta rombongan. Tentu akan berbeda dengan perjalanan traveler kebanyakan yang hanya beberapa orang atau sepasang kekasih saja. Atau backpacker yang senang berpetualang. Ada 30 orang se-pesawat. Belasan di antaranya adalah kawan-kawan wartawan dari media cetak dan elektronik. Sisanya pegawai. Sudah, pokoknya begitu saja.

Bandara International Lombok

Bandara International Lombok

Dari Bandara International Lombok, kami diarahkan seorang Guide yang banyak bicara (namanya juga guide) dan bercerita tentang sisi negatif dan positifnya tanah jajahan Bali. Mulai dari tipe masyarakatnya, kelakuan dalam berlalu lintas, sampai sejarah kerajaannya. But, saya tidak akan memaparkan itu dalam catatan perjalanan ini. Puaaanjaaang banget, bro! Buka Wikipedia saja.

Keinginan saya pribadi tak lebih untuk menambah koleksi foto perjalanan saya bersama sejumlah jam tangan di aku instagram. Maklumlah, secara saya wartawan yang juga penjual jam tangan. Hobinya pamerin jam tangan dengan latar belakang tempat yang berbeda-beda. Itu misi saya turut serta dalam agenda perjalanan ini. Jadi kalau banyak foto jam tangannya, tolong dimaklumkan saja. Oh iya, jangan lupa follow instagram saya, ya! @anandarumi2. Beberapa foto yang saya posting di tulisan ini menggunakan Canon EOS 700D, Lensa Tamron 10-24mm, Samsung Galaxy Camera EK-GC 100, dan Canon Ixus 105.

Pukul Sekitar pukul 11.30, perjalanan paling wajib adalah menuju Kantor Pemerintahan Kota Mataram. Di sana, para pegawai harus menunaikan hajatnya terlebih dahulu sebagai kunjungan kerja dan secara formal. Biasa, ngobrol, tukeran cinderamata, berfoto bersama, selesai. Dan resmilah rombongan kami menjadi tamunya Pak Walikota Mataram.

Ini taman yang saya maksudkan

Ini taman yang saya maksudkan

Sementara itu sedang berlangsung di dalam gedung kantor, saya berkesempatan untuk sekadar keluar dari Bus Wisata dan smoking sesaat. Tepatnya di taman samping Kantor Walikota Mataram. Setelah saya ketahui, taman itu namanya adalah Taman Sangkareang. Ada air mancur di tengahnya. Beberapa titik di sekitarnya juga terdapat beberapa fasilitas publik dan olahraga. Taman ini tepatnya bertetangga dengan pendopo Walikota Mataram. Acara formal selesai, ngobrol ngalur ngidul dan beberapa batang rokok sudah dimatikan, wisata pun dilanjutkan. Cabuuuuuutt!! Oh, iya, satu orang di antara kami tidak ikut, seorang gondrong jurnalis Duta Tv sudah meagendakan perjalanannya sendiri menuju Kampung Banjar di Mataram. Setelah pada akhirnya mengapa saya tidak mengikuti dia saja. Ah, sudahlah, nanti saya ceritakan.

Pendopo Walikota Mataram

Pendopo Walikota Mataram

Satu jam setelahnya, perjalanan dilanjutkan menuju taman Narmada. Di sinilah semua rombongan mulai berhamburan. Beberapa baju batik juga diganti dengan T-Shirt. Yang tadi tampak rapi mulai berhamburan. Eh, ada yang lepas jilbab juga. Ya, maklum sajalah, keluar kandang. Aku sih asik aja, nambahin koleksi foto seperti niat awal.

Taman Narmada terletak di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat atau sekitar 10 kilometer sebelah timur Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Taman yang luasnya sekitar 2 ha(hektar are) ini dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Mataram Lombok, Anak Agung Ngurah Karang Asem, sebagai tempat upacara Pakelem yang diselenggarakan setiap purnama kelima tahun Caka(Oktober-November). Selain tempat upacara, Taman Narmada juga digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja pada saat musim kemarau.

Taman Narmada

Taman Narmada

Nama Narmada diambil dari Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang sangat suci di India. Bagi umat Hindu, air merupakan suatu unsur suci yang memberi kehidupan kepada semua makhluk di dunia ini. Air yang memancar dari dalam tanah(mata air) diasosiasikan dengan tirta amerta(air keabadian) yang memancar dari Kensi Sweta Kamandalu. Dahulu kemungkinan nama Narmada digunakan untuk menamai nama mata air yang membentuk beberapa kolam dan sebuah sungai di tempat tersebut. Lama-kelamaan digunakan untuk menyebut pura dan keseluruhan kompleks Taman Narmada.

Itu kolam pemandiannya

Itu kolam pemandiannya

(Terima Kasih Wikipedia… ^_^). Begitulah singkatnya. Katanya, ada kolam air awet muda di sana. Pengunjung yang masuk ke dalam pun wajib memakaio kain kuning yang dililitkan di tubuh. Ada yang memakainya untuk membasuh muka. Ada yang membasahi seluruh kepala. Beberapa kawan sempat memoto kawan yang lain ketika ia sedang memandang handphone, eh disangka serius banget sedang berdoa. Fotonya jadi barang bukti buat bahan bullying. Ada-ada saja. But, saya tak bisa menceritakan secara detail karena gak ikut masuk ke dalam. Ya, malas aja sih. Di luar sedang asik foto-foto. Ada pura. Ada kolam, eh… ada anjingnya juga nunggu di atas nangga. Mau balik badan turun tangga takut mencolok. Ntar dikira si anjing saya takut sama dia. Padahal  sih takut beneran. Untunglah, si anjing nyeloning saja turun tangga melewati saya. Sampai lah saya di depan pura pada undakan tanah yang paling tertinggi. Kata orang penduduk sini, Taman Narmada adalah perumpamaan atau miniature dari Gunung Rinjani. Makanya dibuat mendaki kayak gunung gitu. Ya gitu, deh pokoknya.

Itu kolam pemandiannya

Itu kolam pemandiannya

Kira-kira saya beserta rombongan menghabiskan satu jam hanya sekadar berfoto-foto dan mendengarkan ocehan guide. Maaf, ya, untuk perjalanan di hari pertama ini belum ada cerita pantai. Nanti di bagian kedua. Keep Folloe me, oke!

Banyak yang menawarkan sejumlah kerajinan tangan dari kerang dan T-Shirt Lombok di sekitar Taman Narmada. Termasuk Mutiara, sebagai salah satu batu mulia produk andalan Lombok. Yang dipuja-puja kaum jet set dan artis Hollywood. Tapi sudah diwanti-wanti oleh Guide kalau jualan di luar bukan mutiara asli, melainkan imitasi. Tapi, katanya, kalau sekadar untuk hiburan ya tidak apa-apa lah. Siapa juga yang tahu. But, sejak awak berangkat saya juga sudah diwanti-wanti dan bertekad kuat untuk tidak membeli apa pun. Kembali ke misi awal, hanya menambah koleksi foto saja. Titik.

Di Belakang Patung Ini Tempat Sumur Air Awet Muda, katanya

Di Belakang Patung Ini Tempat Sumur Air Awet Muda, katanya

“Yang belum masuk, angkat tangan!” ini joke paling standart dan rutin dilemparkan Guide kepada para rombongan setelah duduk dalam bus. Ya tentu saja tidak ada yang angkat tangan. Kalimat inilah yang selalu terlontar saat melanjutkan perjalanan hingga dua hari ke depan oleh, setelah saya ketahui, namanya Herman. Gak pake “Syah”.

Bus berangkat, dan inilah yang saya sayangkan. Seharusnya, kunjungan ke pura-pura-an itu cukup satu pura. Ya setidaknya di Narmada tadi sudah cukup. Beberapa kawan juga sudah terlihat lelah. Tapi lantaran paket wisatanya memang harus begitu, ya ngikut saja. Saya melupakan saja nama tempat kedua ini. Waktu sudah agak sore sekitar pukul 14.30 Wita. Selain pura yang entah saya tidak terlalu tahu namanya dan malas men-searching-nya di google, saya duduk di warung kopi terdekat bersama tiga orang sahabat. Satu fotografer, satu journalis Banjar Tv, satu Lurah, dan seorang lagi staf dari bagian Humas Protokoler. Jadilah kopi hitam. Apa sehh??>?>??>

Taman Narmada

Taman Narmada

Setidaknya cukup menyegarkan mata. Ya, sugestinya, kan gitu. Untunglah di belakang warung terdapat mushola yang jaraknya tidak terlalu jauh. Setelah kewajiban ditunaikan perjalanan dilanjutkan menuju Lombok Exotic. Kalimat ini sebenarnya sudah saya temukan di plafon Bus. Ternyata, Lombok Exotic juga menjadi salah satu prdoduk T-Shirt, Aksesoris, dan Souvernir resmi bikinan Lombok. Kalau Jogja, mungkin Joger kali ya?!?!?!?!

menyempatkan berfoto

menyempatkan berfoto

Sekali lagi, saya menahan diri untuk tidak membeli apa pun. Sebenarnya sih bukan akal-akalan, tapi emang benar buat menghemat. Gak nyangka, kalau nafsu belanja udah memuncak, kadang lupa berapa budget yang kita bawa. Meski khawatir, ternyata kekhawatiran saya sangat berguna dan tidak membuah penyesalan saat pulang ke kampong halaman. Nanti deh saya ceritakan.

Sebelum naik ke dalam bus lagi, saya yang pakai kemeja HItam Merah. Kok, Tangan lebih putih dari mukanya ya? bahaya nih.. efek matahari!

Sebelum naik ke dalam bus lagi, saya yang pakai kemeja HItam Merah. Kok, Tangan lebih putih dari mukanya ya? bahaya nih.. efek matahari!

Kembali ke dalam Bus setelah “Shoping Time” berakhir. “Buset, aku udah gak nyadar. Habis 500 ribu Cuma buat beli kaos doang,” ucap seorang sahabat saat masuk ke dalam Bus. Tuh, kan, apa kubilang. Kalau beli oleh-oleh untuk satu orang keluarga gak adil rasanya kalau yang lain gak dibelikan. Ujung-ujungnya nafsu belanja memuncak. Mending gak beli buat siapa-siapa sama sekali. Awalnya melihat-lihat ke dalam… sebutlah distro… saya kepingin juga beli celanda pendek ya siapa tahu buat mandi di pantai nantinya. Dan sandal jepit buat jalan-jalan santai. Siapa tahu! Eh, ternyata kita tak pernah tahu.

Tuh, Lombok Exotic, katanya.

Tuh, Lombok Exotic, katanya.

Bus berangkat. Beberapa orang juga sudah tertidur di dalam perjalanan. Ada juga yang mengeluh pengen buru-buru check in hotel. Ada yang ingin pup lah, kencinglah, mandilah, makanlah, macam-macam, pokoknya segala bentuk alasan dari jaman jabot dikelurin demi beristirahat.

ananda_para penjual aksesoriTahu-tahunya, peket wisata kembali menjadi kambing hitam. Herman mengaku sdah terlanjut memberitahu pihak hotel bahwa rombongan akan check-in habis setelah magrib. Dan perjalanan selanjutnya adalah ke toko mutiara yang asli. Asli bro, original. Ya, sebagai kaum Adam sih dengarnya biasa aja. Yang kaum hawa juga. Awalnya biasa-biasa saja. Sumpah. Malah gak kepingin sama sekali. Maunya ke hotel. Kekeuh banget.

“Ya sudah kalau gak ada yang beli gak apa. Yang penting kita berhenti dulu. Sekadar melihat-lihat. Karena rutenya memang sudah harus begitu. Lihat-lihat aja dan sekadar menambah wawasanlah, yang ini mutiara asli. Yang ini imitasi, jadi bisa tahu cirinya bagaimana. Dan yang di toko ini sudah bersertifikat.” Promo Herman.

Bus berhenti, Herman bersua. “Baik bapak ibu. Ini toko mutiara yang asli. Yang kepengen lihat silakan. Yang mau tetap di Bus juga tidak apa-apa. Sebentar saja. Kurang lebih setengah jam ya. Karena perjalanan menuju hotel juga masih jauh,” katanya.

jualan mutiara

jualan mutiara

Satu orang turun. Dua orang turun. Tiga orang, empat orang, dan akhirnya semuanya turun. Ya, daripada ketinggalan saya juga ikut turun. Kembali ke misi awal saja, nambahin koleksi foto. Padahal semua gadget sudah pada low bat. Biarlah, yang penting bisa smoking sejenak.

Suasana di dalam Distronya khas Lombok

Suasana di dalam Distronya khas Lombok

Semuanya menyebar. Dari segala penjuru mata angin. Dari yang banyak tanya sampai yang mulai menawar. Dari yang tanya harga sampai yang jaim. Singkatnya, saat balik ke dalam Bus, beberapa di antara mereka menenteng bug kecil tempat mutiara bersembunyi. Yah, akhirnya kebeli juga. Tuh, kan, gara-gara lihat, kan. Mata memang senang menjerumuskan.

coba tebak yang lagi ulang tahun yang mana hayo

coba tebak yang lagi ulang tahun yang mana hayo?

Perjalanan selanjutnya. Hanya kegelapan yang saya temui. Karena saya tidur. Dan bangun sudah di sebuah restoran. Di pusat keramaian. Hari sudah petang. Tempatnya cukup bagus diiringi musik tradisional yang nyaman. Sengaja lebih dulu diajak ke tempat makan dengan asumsi kalau sudah sampai ke hotel para tamu pasti sudah malas keluar-keluar karena sudah kelelahan.

cie bersih-bersih kolam pak

cie bersih-bersih kolam pak

Formasinya prasmanan. Semua makannya lahap. Dan ada kejutan perayaan ulang tahun juga kepada seorang Bapak. Ternyata ada kejutannya juga ya. Ternyata mereka juga menyiapkan kue ulang tahun kepada si bapak ini. Hehehe. Keren juga, ngerjain orangtua itu mengasyikkan. Mimik muka kagetnya itu lho… oh iya, saking tertawa-tawa saya pun hampir kelupaan harus mengabadikan moment tersebut. Akhirnya saya kebagian dokumentasi tiup lilin, salam-salaman, dan tepuk tangan.

Ini pemandangan di belakang hotel waktu pagi

Ini pemandangan di belakang hotel waktu pagi

Acara makannya sudah berakhir bro. Seperti biasa, keluar hotel kita mendapati lagi masyarakat yang jualan mutiara dan T-Shirt. Jarak restoran tak terlalu jauh dengan hotel yang kami tinggali. Hotel Bintang Senggigi namanya. Lumayanlah, ada kolam renangnya. Di sinilah penyesalan saya bermula, ternyata pihak hotel tidak menyediakan sandal. Sialan, hal ini membuat saya harus ke kios terdekat untuk membeli sandal jepit. Dan terbelilah sandal bermerek sky way di kios depan hotel. Dan satu lagi yang saya harus sesalkan, tidak etis rasanya kalau berenang dengan celana panjang. Shit! Kenapa saua tidak jadi membeli kolor tadi ya. Itulah kawan, tidak ada penyesalan yang datangnya di depan. Akhirnya saya berpikir, akan keluar malam ini dengan niat membeli celana pendek alias kolor untuk sekadar nyebur. Hiks!

Uniknya daerah Senggigi adalah, hampir semua bangunan hotel dibangun di bibir pantai. Jadi otomatis, buka pintu, bibir pantai di depan matamu. Deburan ombak dan pemandangan pasir putih pun menantimu setiap pagi. Tapi ini kan sudah malam ya. Brrrr… udaranya sangat dingin.

Aku mendapatkan kamar nomor 209 dan terpaksa harus bertiga. Itu juga setelah negosiasi dan bertukar teman kamar yang sejiwa dan “Rasuk Pamandiran” saya berkumpul dengan teman-teman dewasa muda dan para fotografer. Gak seru kalau harus satu kamar dengan orangtua. Gimana gitu.

Mandi ari hangat sudah. Beli sandal sudah, packing, nonton tv sebentar, dan  kamu berencana pergi keluar untuk sekadar mencari hiburan. Menggunakan taxi, pada permulaannya kami berangkat berdelapan. Namun karena seleksi alam, tinggal lagi berlima. Satu orang beralasan pulang karena mengantuk, dua orang lagi karena mau istirahat. ??? beda, ya?

Ada sebuah café di tengah keramaian Senggigi. Akkkhh… aku lupa namanya. Tapi yang malam kedua aku ingat kok. Nanti kuceritakan. Hampis semua tempat hiburan, Bar, Café, Pub, Bilyard, dan segalga tetek bengeknya dihuni oleh Turis. Kesannya, kita seperti orang asing. Kesannya kok ini kayak kampungnya mereka gitu. Sayang saya gak sempat memotret di sini, karena semua gadget sedang isi energi. Shit!

Kita yang singgah tampaknya seperti kayak orang asing. Itu sih perasaan saya saja. Apalagi menunya, Inggris semua. Aku pesan yang standar saja. Paling cappuccino dan cola. Dua teman saya, Sebut Umbu dan Yoyo berbadan besar dan doyan nge-Gym pesan tequila dan bir bintang. Dua orang cewek yang satu berbadan besar itu menghabiskan satu mangkok kentang goreng dan banana split. Dan teman cantik, berhidung mancung, berambut pirang, dan yang namanya mirip dengan anak saya ini minum Lemon Squash. Saya jadi ingat, memanggil namanya serasa memanggil anak saya sendiri. Aaaaahh, sudahlah, persoalan pribadi.

Pada intinya sih, kita makan gorengnya bareng aja sih. Tapi entah mengapa yang berperut besar selalu lebih banyak jatahnya. Sekitar pukul 01.30 dini hari. Café memang sudah tutup, tapi beberapa pengunjung memang dibiarkan saja selaur-larutnya berdiam menghabiskan minumnya. Mau tidur sekalian juga boleh. Bahkan, ada tersedia kamar-kamarnya juga. Ya, mungkin ada harga sewa. But, semua tamu di sini bule.

Malam yang cukup melelahkan, kami kembali ke hotel sekitar pukul 02.00. Singkatnya, aku bersiap tidur. Charge beberapa gadget persiapan besok paginya menuju pantai. Horrreee…. Gili Trawangan nama pulaunya. Beberapa kawan masih ada yang ngobrol di beranda kolam renang. Hari pertama, biasa saja. Selanjutnya, terserah saya. Bersambung…

 

Pantai Gili Trawangan, Ini foto bocorannya untuk postinganmendatang. Keep Follow Me, Ya!

Pantai Gili Trawangan, Ini foto bocorannya untuk postingan mendatang. Keep Follow Me, Ya!

 

 

Antara Satpam RS Swasta dan Asuransi Kesehatan

Standar

Kalimat “Sehat itu mahal” tak akan pernah mati ditelan zaman. Bahkan terus abadi sepanjang masa. Pun demikian juga dengan keluhan para pasien dan petugas rumah sakit. Apa pun bidangnya, hampir semua merasakan hal yang sama.

 

Saya turun ke lobi terbawah, keluar ruangan untuk sekadar mengepulkan asap tembakau. Secara, ini rumah sakit, bro! Meski beberapa kali di RS Daerah saya mendapati orang-orang dari golongan ahli hisab seperti kami melakukan hal tersebut di lorong-lorong tanpa ada teguran dari petugas atau pun perawat. Hanya plang-plang kayu serta plastik saja yang menegur dengan bentuk tulisan tanpa suara. Tidak di sini, di RS Swasta.

 

Sekali lagi ini bukan promosi, hanya menyampaikan pengalaman seorang satpam rumah sakit. Sebut saja inisial nama belakangnya “A” dengan akhiran “gus”. Kami pun beramah-tamah. Seputar 5W+1H. Tak jauhlah dari hal siapa keluarga?  dari mana? lingkungan tempat tinggal? alasan berada di rumah sakit ini? dan yang paling mainstream adalah kalimat. “Kenal gak sama si “anu” dia tinggal di sekitar itu? Orangnya bla… bla… bla!” betul, gak sih, guys?Karena mertua saya tinggal di Mandiangin, jadi tak saya ketahui seorang tokoh yang satpam itu tanyakan kepada saya. “Mungkin mertua saya lebih tahu. Nanti tanyakan.” Begitu saya menjawabnya.

 

Saya mengisahkan perihal keberadaan keluarga di sini sedikit saja, seperti rujukan dari bidan di kampung Mandiangin hingga melahirkan dan bermalam di RS Pelita Insani di Jl Sekumpul Martapura ini. Katanya satpam sih memang baru berdiri, ya hampir setahun. Sekali lagi, ini bukan promosi. Alasannya singkat saja, karena sedari umur kandungan 3 bulan, 5 bulan, 7 bulan, dan 9 bulan awal, kami (dengan istri) rutin cek ke dokter yang sama di ruangan yang sama dengan kartu anggota yang sama dan fasilitas yang sama. Tentu saja ikatan emosi antara dokter dan pasien itu penting. Untuk membangun kondisi kenyamanan psikis yang berdampak positif pada perasaan. Saya percaya betul dengan proses itu. Semoga tidak keliru.

 

Sembari saya sedang berasap, Si Satpam Agus pun membuka cerita. “Memang harusnya begitu. Perihal biaya, kadang-kadang kita sangat perhitungan sampai membuat hati kesal. Apalagi profesi kecil seperti kita-kita ini. Padahal, uang bisa dicari, ya, tentu saja. Tapi, namanya kenyamanan hati kita bisa memilih. Yang mana terbaik untuk anak-istri. Persoalan biaya mahal bukan untuk dipikirkan, tapi dibayar,” Katanya meski sebenarnya dia tak tahu profesi saya wartawan. Mungkin dia bercerita begini karena asumsi masyarakat bahwa RS Swasta lebih mahal dibandingkan RS Daerah. Memang betul. Ada harga ada rupa, itu juga betul. Kenyataannya memang begitu, kan?

 

Beberapa waktu lalu istrinya juga melahirkan. Lantas dibawalah ke salah satu Rumah Sakit Daerah di Kota Banjarbaru. Karena dia mempunyai kartu asuransi sejenis BPJS/Askes/Jamsostek/Jamkesda/Jampesal/Jamkesmas/bla-bla-bla dengan segala tetek-bengeknya itu, maka dipakailah fasilitas termaksud.

 

Sebelumnya, ketika saya datang ke RS ini dan ditanya oleh petugas administrasi apakah ingin memakai asuransi? Saya menjawab tidak. Karena memang tidak memiliki kartu apa pun. Atau memang ada dari kantor, tapi sekarang belum saya pegang karena belum disuruh mengambil. Atau sedang dibikinkan tapi belum selesai-selesai. Ah sudahlah. Singkatnya, kubeberkan perihal itu kepada satpam dan dia respon dengan mengangkat dua jempol. Apa coba?

 

“Bagus. Kamu tahu, istri saya melahirkan di RS Daerah. Karena memang ada asuransi kesehatan (BPJS) maka saya pakai. Dan saya menyesal. “Dusta wara”. Apa rasanya jika kamu sebagai suami harus menelantarkan istrimu yang sedang kesakitan di ruang administrasi lantaran urusan isi mengisi nama begitu lama. Belum lagi, sebagai suami, tugas saya merangkap sebagai jongos rumah sakit. Masak impus habis saya disuruh beli sendiri? Bolak-balik apotek-kamar pasien! Mengantar dan mengambil segala bentuk kertas! Tak ada perawat yang datang ke kamar sebelum keluarga pasien yang mendatangi dulu ke ruangannya. Asuransi apa itu? Pelayanan kesehatan macam apa?”

 

Saya pikir, gratis sih gratis, ya. Tapi, ya gak gitu juga keles! Atau saya salah. Mungkin juga. “Lho, kenapa begitu, bang? Bukankah seharusnya sudah ada petugas yang mengurus itu semua sesuai bidangnya?” sahut saya seolah membela.

 

“Itulah hal yang tidak aku mengerti sampai ini dengan pelayanan rumah sakit daerah.” Jawabnya.

 

Saya hanya mengangguk. Sedikit tidak percaya. Karena memang seumur hidup saya, hingga tulisan ini dituliskan, tidak pernah masuk rumah sakit dalam konteks “dirawat di ranjang pasien.” Begitu juga istri saya. Ini adalah kali pertama dia (istri saya) berbaring di ranjang pasien dan ditusuk oleh infus. Dan tentunya melahirkan.

 

Belum lagi, Satpam Agus melanjutkan, pengapnya ruangan dan obat-obatan yang menyengat di RS Daerah. Kegaduhan di setiap ruangan. Apalagi kelas biasa, sebut saja kelas ekonomi, anak-anak bermain berlarian di lorong tanpa teguran. Mungkin ada beberapa orangtua yang menegur namun tanpa ada respect dari petugas rumah sakit.

 

“Kalau di sini tentu saja kami tegur dan disiplinkan. Setiap lantai CCTV berhadapan diawasi di ruang pengawasan. Kalau ada anak-anak yang membuat kegaduhan di lorong ada petugas kami yang menegur. Termasuk yang sembunyi-sembunyi merokok. Gak bakalan bisa. Selain CCTV semua ruangan juga sudah ada sensor asap. Bahkan toilet sekalipun.”

 

Entah apakah satpam ini memang niat berpromosi, saya diam saja.

“Terus, segala macam obat, makanan, dan pemeriksaan, perawat rutin mengantarkan ke kamar, mau itu kelas III sampai VVIP sekali pun pelayanannya sama. Yang berbeda hanya jarak lokasi lantai dan batasan ruangan. Setiap kamar bersih, tidak ada bau-bau obatan yang menyengat apalagi kegaduhan. Ada perlu, tinggal pencet bel. Perawat yang datang pasien, buka sebaliknya. Berbeda sekali dengan yang aku temui di RS Daerah, yaitu tadi, pasien yang mendatangi perawat, bahkan harus rela disuruh-suruh beli obat, yang menyuruh mukanya hanya layar hepe saja. Entahlah apa itu namanya bbm-an chating, aku tak paham. Anak muda zaman sekarang.”

 

Nah, kalau soal perawat RS daerah mainin hape sambil melayani pasien ini sering kulihat langsung di RSUD Banjarbaru dan Martapura saat menjenguk teman dan liputan berita. Mungkin sedang mainstream perawat model begini.

 

Saya manggut-manggut lagi. Menghela napas panjang dan mematikan puntung di tempat tersedia. Tak berapa lama menyampaikan keluhan itu, seorang petugas parkir datang menghampiri kami, melaporkan dan mengeluhkan seorang sopir yang sulit dikasih tahu untuk memindahkan mobil “All New Avanza” Putih mengilat. Tersebab, kata petugas parkir, ada ambulance RSUD Zalecha mau masuk. Lha, kok gitu?

 

“Padahal sopir mobil ini sudah berkali-kali saya kasih tahu, jangan markir mentok pas di depan ruang IGD. Sejak awal datang malahan. Karena ada saja ambulance yang keluar-masuk. Seharusnya orang-orang bermobil seperti ini lebih paham dari satpam. Dia kan lebih pintar. Orangnya malah manggut-manggut dan menjawab “Sebentar… sebentar saja. Saya nunggu istri saya dulu.” Jawab dia begitu, dik. Banyak juga pengguna motor yang keras kepala untuk diatur motornya. Heran! Saya merasa malu kalau harus menegur mereka-mereka terlalu sering. Karena saya yakin betul orang-orang berpendidikan seperti mereka ini mengerti yang mana baik dan tidak sesuai aturan. Bisa dilihat dari cara mereka berpakaian dan apa yang mereka pakai.”

 

Mendengar kalimat itu, saya sedikit terhentak. Kalau yang pakai mobil, kan bisa aja dia menyewa di rental! Eh, tapi mungkin gak sih mobil rentalan pakai boneka-boneka warna warni gitu di depan kacanya? Ada namanya segala lagi di gantungan spion. Entahlah, sebab sering juga ngeres mau markir sesuka hati. Tapi bukan di sini, yaaaa… melainkan di Bank dan pasar. Semoga prasangka saya tidak salah, beda lingkungan beda karakter tukang parkirnya dong… dong… dong. Ya, khaaan?!?!

 

“Lha. Terus, kenapa ada ambulan RSUD Zalecha yang mau ke sini, bang? Rujuk maksudnya?”

 

“Itulah, dik. RS Zalecha sering sekali merujuk pasiennya ke sini. Dari yang mau melahirkan sampai yang mau mati. “Parak mati hanya diantarnya ke sini.” Mereka beralasan lantaran alatnya tidak lengkap dan pasien susah untuk ditangani? Yang lebih sering karena ruangan sudah penuh. Hampir setiap hari.”

 

Hah? Susah ditangani. Karakter macam apa ini? Trus RSUD Daerah sebesar itu kok alatnya tidak lengkap. Heran? “Susah ditangani bagaimana maksudnya, bang?” saya tanya, kan.

 

“Barusan kemarin ada pasien tabrakan di wilayah Gambut. Mereka, petugas RS Zalecha itu mengatakan, korban kecelakaan motor. Kepalanya terhempas dan rengat. Pendarahan. Dan di RS Zalecha tidak bisa menangani. Masak pasien yang mengerang kesakitan disuruh diam. Bayangkan bagaimana perasaan keluarganya saat mendengar petugas rumah sakit yang bilang begini dengan korban. “Bapak diam dulu. Bapak gak bisa diam apa? Kita ini mau merawat,” begitu. Coba kalau kamu yang jadi keluarganya atau orangtuanya atau saudaranya pasien. Karena harus operasi, mereka lepas tangan dan pasien dirujuk ke rumah sakit ini,” papar Satpam Agus.

 

Saya sedikit kecewa dengan keluhan Satpam ini. Seorang perawat, kan seharusnya mengerti, bukan memarahi apalagi membentak apalagi menyruh pasien diam seperti itu. Karena, belum tentu sepenuhnya benar, kan? Lagian saya tidak pernah mengetahui dan merasakan secara langsung bagaimana pelayanan di RS Daerah. Hush, jangan sampai deh. Kalau mendengar cerita dan pengalaman dari kawan-kawan sih, sering. Termasuk juga menulis beritanya, tapi RS Daerah yang di Banjarbaru lho ya. Saya sering ke RS sekadar menjenguk sahabat sebagai pasien, tapi tidak untuk dirawat menjadi pasien. Alhasil, kembali lagi kepada kita sebagai ladang curhat Si Satpam ini, dan juga orang-orang sekeliling anda sebagai pembaca. Setiap orang pengalamannya beda-beda dong. Kali aja si satpam ini ketiban apes di RS Daerah. Apa betul pelayanan rumah sakit umum daerah separah yang disampaikan satpam ini? Menyesakkan.

 

Tak berapa lama, bapak mertua saya keluar dari pintu lobi dan mendatangi saya bersama satpam. Ternyata kedatangannya dengan alasan yang sama. Maklumlah kami ahli hisab. “Senyaman apa pun di dalam, tetap harus keluar. Demi ini,” katanya seraya menunjuk sebuah kertas+kapas tergulung isi tembakau yang telah akrab dengan kami para lelaki.

 

Singkat saja, obrolan beralih ke pertanyaan satpam ke mertua saya tentang si preman tobat. Seorang tokoh di Mandiangin yang loyal dengan sahabat, tapi jika disakiti bisa menyayat. Untunglah katanya dia sekarang taubat sering berkopiah haji dan shalat. Namanyar Ramli. Saya tak tahu embel-embel dan tetek bengek berjalannya cerita itu saat si satpam bertemu orang yang tepat untuk menyambung pembicaraannya, yakni mertua saya.

 

Saya sudah merasa cukup menghirup udara segar. Lantas minta izin permisi meninggalkan mereka berdua yang sedang asik mengobrol perihal preman tobat. Saya masuk lift meski harus rela pusing. Padahal cuma dari lantai 1 ke lantai 3. Sebetulnya pakai tangga kan lebih menyehatkan! Ya… ya… ya alasannya Cuma satu: MALAS!

 

Sampai dalam kamar, ternyata istri saya sudah tertidur. Tapi itu tidak penting. Saya mengambil perkakas, meng-charge beberapa gadget yang memang sudah lowbat. Membuka laptop dan bersiap menulis. Sebelum saya mulai menulis, suara satpam Agus terdengar dari bawah. Saya buka jendela, dan melihatnya tampak sigap mengatur ambulance bertuliskan RSUD Ratu Zalecha yang sedang parkir di depan IGD bersama petugas parkir yang lain di bawah sana. Saya berdoa dalam hati, semoga pasien yang dirujuk kali ini bukan korban yang sudah hampir mati.

 

Kampanye Neraka

Standar

Baru saja saya menyaksikan sebuah program yang memang saya jadikan sebagai program talkshow terfavorit. Memang subjektif kesannya. Tak apa. Sang bintang tamu mengatakan, kita sedang berada dalam undangan promosi lokasi prostitusi moral. Yakni, kampanye Neraka.

Ibarat promosi, kita adalah manusia polos tanpa ilmu yang tidak mengetahui apa-apa, sedang dibawa oleh para malaikat menuju surga dan neraka. Di surgalah, kita diperlihatkan kedamaian, kesejahteraan, penuh ketenangan dan tentram. Lantas dibawalah kita untuk melihat neraka yang didalamnya dipertontonkan kegembiraan, pesta pora, kesenangan dan sejumlah hiburan. Yang diisi para pesohor-pesohor bintang dunia, cantik-cantik, glamaour dan penuh gairah. Sang malaikat pun bertanya. “Jika diminta memilih, anda pilih yang mana?” maka kita pun menjawab. “Neraka. Karena menggembirakan dan menyenangkan.” Lantas kembalilah kita di kehidupan nyata.

Singkatnya, tiba masa pemilihan tersebut. Sebagaimana yang telah dijanjikan, maka dimasukkanlah kita ke dalam neraka. Tapi, alangkah terkejutnya kita dengan keadaan dan gambaran yang terjadi. Di dalam neraka, penuh dengan siksaan, orang-orang dibantai dan dibakar. Mereka yang memang tak bermolar digantung rambutnya. Disetrika punggungnya. Sampai mati dan dihidupkan lagi untuk disiksa. Mereka yang mengingkari janji dipotong lidahnya. Dipulihkan, lantas dipotong untuk ke sekian kalinya. Sampai mereka berucap tobat dan insyaf, namun apa daya. Sudah di dalam neraka. Maka kita pun melakukan pembelaan dengan bertanya kepada malaikat.

“Tuan Malaikat, bukankah neraka kemarin yang diperlihatkan tidak seperti ini?” lantas malaikat pun menjawab. “Kamu ini bagaimana. Kemarin, kan lagi kampanye. Promosi!”. Dan, apa lagi yang bisa kita perbuat.

Sebuah kelompok persaudaraan terbesar dunia pernah berucap, kebenaran yang kau dengar hari ini belum tentu menjadi kebenaran besok hari. Lantas, apa yang bisa kita percaya. Semua kembali kepada iman. Kepercayaan di dalam diri. Sebelum masuk neraka dan menyesal, alangkah baiknya kita bertafakur. Memikirkan baik dan buruk itu boleh, tapi terlalu membedakan bisa menjadi perpecahan. Alhasil, apa-apa yang kita janjikan tak semua bisa ditepati. Maka, berjanjilah sedikit saja, tapi berbuatlah kebaikan sebanyak-banyaknya. Tanpa harus menebar janji. Apalagi menjanjikan neraka.

Menakar Pilpres

Standar

Bapak dan ibu, para pembaca koran yang tentu saja saya muliakan. Gegap gempita pemilihan kepala Negara Republik Indonesia sudah membuat kita menyelam ke dasar yang terdalam. Sejumlah informasi dipaparkan dengan gamblang. Sebanyak mata kita menampung gambar-gambar itu sudah ditayangkan. Baik yang memperkuat keyakinan atau yang membuat dahi berkerenyitan. Kita boleh saja men-judge yang ini benar dan yang itu salah. Pun sebaliknya. Semua masih menjadi teka-teki. Karena memang, mereka, para calon pemimpin Negara kita yang gagah berani, yang siap mengemban beban Negara Republik Indonesia ini, belum menjadi.

Lajunya perkembangan teknologi dan informasi membuat pencari referensi gelagapan. Hingga kalimat ini dituliskan, saya belum juga menentukan pilihan. Bukan tidak ada, tapi belum memutuskan. Bukannya tidak ada yang bagus, tapi tentu saja masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden punya kekurangan. Tinggal lagi kita menakar, mana yang benar-benar dibutuhkan rakyat seperti kita-kita ini.

Yang setiap hari bekerja membanting tulang, membanting pulpen, bangun pagi pergi ke sekolah, memotret, mengantarkan anak sekolah sembari ke kantor, pulang petang, masuk sift malam, pulang pagi dengan kepulan asap rokok, dan isitirahat di siang hari, terima gaji di akhir bulan.

Atau kita-kita yang sedang mempersiapkan undang-undang, peraturan daerah, duduk di kursi ternyaman untuk menyampaikan pesan dari rakyat, mengetuk palu, membacakan riwayat hidup, menjadi imam dan khatib di masjid, menerima gaji di awal bulan, atau sekadar yang duduk di perempatan lampu merah dan menengadahkan kedua tangannya. Apa yang sebenarnya kita butuhkan di Negara yang tercinta ini? Atau tak perlu kita, saya saja dan anda tak perlu ikut andil dalam pemilihan.

Ibu dan bapak pembaca Koran yang semoga hari ini berbahagia. Setiap kita punya idola. Baik itu seorang utusan Tuhan, tokoh agama, pemimpin daerah, penyanyi, artis, penulis, dan sebagainya dan sebagainya. Beberapa orang yang saya idolakan sudah menentukan pilihannya. Yang ditampakkan dengan foto profil di beberapa sosial media mereka. Haruskah kita ikut-ikutan? Semua tergantung suara hati anda.

Kita boleh menimbang, tapi jangan keseringan, karena timbangan yang berulang-ulang bisa menjadi timpang. Kita boleh saja menghitung-hitung, tapi jangan berlebihan. Karena hitungan yang berlebihan bisa menjadi selisih paham. Kita boleh saja mengajak untuk mengikuti jalan yang dipilih, tapi ajakan yang keras kepala bisa menimbulkan kebuntuan. Pilihlah berdasarkan apa-apa yang memang betul-betul kita perlukan, bukan lantaran kita inginkan. Apa lagi ikut-ikutan. Termasuk memilih tontontan. Oh, Ya Tuhan, semoga Anda-anda paham dan mengerti maksud saya. Jikalau saya boleh, maka bolehkan saja saya mengutip perkataan Jack Canfield, Apapun yang Anda katakan kepada orang lain akan menghasilkan dampak dalam diri orang itu. Apa pun yang adan katakan akan menimbulkan dampak di dunia ini.

 

Proses Dewasa Dalam Novel Kebisingan Hati Karya Ananda Rumi

Standar

Kebisingan Hati_Ananda Rumi_Thumbnail Cover ReszeKebisingan Hati

Oleh: Ananda Rumi

Rilis : 2014
Halaman : 177
Penerbit : OnOff Project

Bahasa : Indonesia

 

“Semuanya terwujudkan dari mimpi yang terkadang dinilai sepele…

…jika ia memang gigih untuk menggapainya”. (hal.150)

Dalam beberapa minggu terakhir ini, teman-teman yang berdomisili di banjarbaru masih hangat membicarakan sebuah Novel karya Nanda dengan cover depan bergambar sebuah es krim bertuliskan Juice Heart Noise, yang mungkin tidak asing bagi muda-mudi pecinta musik lokal (band Indie), karena memang itu salah satu lambang sebuah band Indie dengan nama Juice Heart Noise tersebut.

 

Kebisingan Hati, kisah beberapa remaja menuju proses pendewasaan dalam menentukan arah hidup dan menemukan cara untuk menggapai sebuah mimpi. Sebuah novel yang cukup ringan, bahkan bagi seorang yang kurang suka membaca sekalipun. Kisah percintaan penuh konflik dan sekitar kesenangan bermusik tentu akan membuat pembaca betah berlama-lama memelototi tiap kata di dalamnya.

 

Mengisahkan tentang Andra dan Verda dua remaja yang terlihat sebagai pasangan serasi, mungkin sempurna, bahkan sering membuat orang sekelilingnya iri melihat mereka. Namun hal yang terlihat di luar tak selalu sama dengan hal yang ada di dalamnya. Bahwa hubungan mereka tak sesempurna yang orang lihat.

 

Andra remaja pindahan dari Jakarta ke Kalimantan, digambarkan sebagai seorang pria tinggi berbadan langsing, cerdas, keras kepala, bisa dibilang pria kutu buku berpenampilan keren. Anak kuliahan yang memiliki hobi bermusik namun juga berambisi menjadi wartawan.

 

Verda juga bukan orang asli Kalimantan, ia remaja pindahan dari  Medan. Andra dan Verda kuliah di kampus yang sama, Kampus Hijau. Sebuah kampus di daerah Martapura. Disanalah cinta mereka dimulai, berawal dari pertemuan di acara OSPEK mahasiswa. Di kampus itu pula awal Andra bertemu Ezha, Oliel, dan Udud yang akhirnya sepakat untuk membuat sebuah band. Band yang mereka bentuk ini berkembang dari nol sampai band mereka memunyai fans. Band yang dianggap Oliel sebagai tujuan hidupnya, bahkan Oliel rela berhenti dari pekerjaannya demi band itu.

 

Hubungan Andra dan Verda baik-baik saja sebelum Andra yang berprofesi sebagai freelanceyang terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan sebagai pemain gitar bass sebuah band yang iya buat bersama teman-teman sekampusnya. Andra semakin larut dalam kesibukannya hingga Verda merasa kehilangan Andra sebagai kekasihnya. Sampai-sampai ia merasa lebih nyaman berada di sisi Erland, penjual Drugslangganan Verda yang dulu juga pernah menyatakan cinta kepadanya. Hal ini yang membeuat hubungan Andra dan Verda tak seindah yang orang liat.

 

Verda yang ketergantungan drugstak bisa lepas dari Erland. Namun tak ada yang tau akan hal itu. Alanis, sahabat Verda yang bekerja di salah satu majalah ternama itu pun tak tau, apalagi Andra yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan karena kesibukan Andra dan ambisinya untuk menjadi seorang wartawan, membuatnya keluar dari bandnya yang mereka namai JUICE HEART NOISE. Akankah cinta Andra dan Verda dapat bertahan, Apakah JUICE HEART NOISE tetap bertahan dengan keluarnya Andra?

 

Setelah membaca novel ini, saya berandai-andai novel ini akan difilmkan untuk memberi warna di dunia perfilman Indonesia yang akhir-akhir ini didominasi oleh film-film bergenre horor-komedi. Yang tentunya film yang akan kaya dengan pesan moral. Seperti salah satu film Thailand kesukaan saya SuckSeed.

 

Ananda cukup handal dengan tulisannya membawa pembaca seperti menonton kisah di dalamnya. Andra, diambil dari nama panggilannya sendiri. Ezha, Oliel, dan Udud juga diambil dari nama teman sekampusnya yang memang mereka berempat peernah tergabung dalam sebuah band.

 

Meskipun novel ini cukup ringan, namun isinya penuh makna. Seperti, impian adalah salah satu dan satu titk awal dari goresan pena kehidupan yang akan anda tulis, impian juga merupakanbahan bakar manusia untuk tetap bisa bersemangat dalam menjalani hidup. Hingga hidup ini tidak  tanpa arah dalam menjalaninya, namun ada tujuan dan impian yang ingin dicapai. Upaya meraih impian tersebut mungkin tidaklahmudah, dan tidak semulus pipi bayi, tapi tetap terus diperjuangkan. Jugaperhatiandalam sebuah hubungan adalah jantungnya percintaan, yang tampanya sebuah hubungan tidak akan terasa nyaman.

 

Bagi para pemusik mungkin novel ini ingin berkata, “kebersamaan adalah pondasi utama dalam sebuah band, Sebuah band bukan kendaraan yang ditunggangi beberapa orang untuk mincapai mimpi seseorang, namun untuk mencapai tujuan bersama”…

 

@EzhaMahesa