Ambisi Membebani Hati

Standar

Garis – garis indah nan nampak di hadapan menerangkan tentang cahaya indah maha karya sang pencipta. Hilang.. Hilang dalam pandanganNya remuk tak tersisa namun terasa hampa tanpa karuniaNya. Panggilan menggema di indra pendengar anak manusia. Terhanyut dalam sahutan dan pujian atas kebesaranNya. Matahari tergelincir dari titik tengah pandangan manusia bumi, butiran air kesejukan mulai menjalar dari ujung kulit teratas seriuh getaran dingin yang merasuk ke jendela hati hingga ke relung jiwa. Tangan ini bergerak menuju magnet sang molukel – molukel H2o yang berlari dari ujung jari berarah ke tiap kisi – kisi kaki. Panjatkan pinta kepadaNya dengan iba kesaksian Satu dan tiada lain daripadaNya dan pujian kecintaan hati disisi kekasihNya agar Suci dan lapang karena Perintah.

Ampunkan atas kesalahan pujian atas kebesaran dan kesucian zatNya di lantunkan detik – detik nafas kehidupan. Tadahkan tangan berharap keridhoan dan keikhlasan yang abstrak bagi makhluk menyelimuti tiap detak jantung. Sejenak bersandar menghantar pikir ke dalam sanubari nyata. Menatap layar putih beraliran listrik beku penuh tanya. Apa yang harus dilakukan tanpa ilham. Hasrat tak ingin mengulang kata – kata pujangga yang terlampau sering terlihat dan terdengar di kerumunan manusia sastra. Membuka lembar demi lembar catatan kaki sang maestro ulung membuat hati berbicara, berlirih kagum tentang untaian lembut karya. Dia lah manusia Qorni, hafiz kalam ilahi, pemaham kalam Pembawa Cahaya Hati utusan Sang Khalik Pententram Bumi.

Kembali lembar demi lembar di titi dengan kulit jari – jemari hingga berhenti di Susunan hurup berbunyi TERLALU MEMBEBANI DIRI. Retina menyambar pikiran dan hati terbawa menelusuri rentetan tulisan yang tercipta. Larangan demi larangan terhaturkan di dalam sana. Umar RA. Berkata : Kami dilarang dari Takalluf ” Terlalu Membebani Diri “. Kata yang singkat melompat merasuk ruang – ruang hasrat mengirim pesan ke dalam otak. Larangan membebani dalam berkata dengan mempersulit meja kerja. Membuat hal – hal ganjil memperluas lafazh berbuah Tenar. Membebani diri berbuat paksa jiwa persulit tubuh membawa urusan taqwa di selimuti tujuan emosi nafsi. Larangan membebani di ruang teduh ilmu – ilmu meniti sesuatu yang tidak mampu, tenggelam dalam sungai dangkal berpegang dengan pelampung kecil kesalahan, bertanya sesuatu yang belum terjadi.

Menengadah berpikir menoleh ke lingkaran waktu. Masih ada detik untuk merintis kata – kata. Pandang pun kembali di ruang putih penuh susunan kata. Sanggahan dalam berpakaian dan penampilan berlebih bermewah terlontar dari ungkapan, menyiakan waktu berhias. Begitu berulang larangan diri berbuat hal hina memelihara sengsara hanya menjalankan harapan hati keridhaan manusia. Larangan membebani diri terlontar dalam mata pencaharian. Memberi di atas kemampuan. Sang penguasa menanggung janji memberi manfaat pada kumpulan manusia, membebani diri mengumpulkan harta jauh di atas kebutuhan. Beribu makna terasa dalam di jiwa. Memandang kembali ke lingkaran waku. Cukup!.. Cukup di sini. Hasrat diri Harus segera beranjak dari papan hitam bergegas kembali menuntut cahaya ilmu sebagaimana mesti.

Pasayangan, 14 Des ’10

( Di karang ketika sesudah shalat Dzhur sebelum berangkat Kuliah ^_^ )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s