Balikkan Hati Sadarkan Jiwa

Standar

Garis – garis indah nan nampak di hadapan

menerangkan tentang cahaya

indah maha karya sang pencipta

rasa diri hilang dalam pandanganNya

remuk tak tersisa namun terasa hampa tanpa karunia

Panggilan menggema di indra pendengar anak manusia

Terhanyut dalam sahutan dan pujian atas kebesaran.

 

Matahari tergelincir dari titik tengah pandangan manusia bumi

butiran air kesejukan mulai menjalar

dari ujung kulit teratas seriuh getaran dingin yang merasuk ke jendela hati

hingga ke relung jiwa

Tangan ini bergerak menuju magnet sang molukel – molukel kehidupan

yang berlari dari ujung jari berarah ke tiap kisi – kisi kaki

Panjatkan pinta kepadaNya dengan iba kesaksian Satu

dan tiada lain daripadaNya

pujian kecintaan hati disisi kekasih

agar Suci meniti lapang karena Perintah

 

wahai Dzat yang maha kaya

Ampunkan atas kesalahan

pujian atas kebesaran dan kesucian

terlantun detik – detik nafas kehidupan

Tadahkan tangan berharap keridhoan

keikhlasan yang abstrak bagi makhluk

menyelimuti tiap detak jantung

 

Sejenak bersandar menghantar pikir ke dalam sanubari nyata

Menatap layar putih beraliran petir penuh tanya

Apa yang bergerak tanpa qudrat serta iradat

Hasrat tak ingin mengulang

ungkapan para pujangga

yang terlampau sering terlihat, terdengar di kerumunan manusia

Membuka lembar demi lembar goresan sang kekasih

membuat hati berbicara

berlirih kagum tentang untaian lembut karya

pemaham kalam illahi Pembawa Cahaya Hati

utusan Sang Khalik Pententram Bumi

 

Kembali lembar demi lembar di titi dengan kulit jari – jemari

berhenti di Susunan hurup berlantun larangan MEMBEBANI DIRI.

 

Retina menyambar pikiran

hati terbawa

menelusuri rentetan tulisan yang tercipta

Larangan demi larangan terhatur

 

Wahai sekalian manusia

kalian dilarang dari Takalluf

” Terlalu Membebani Diri “. makna singkat melompat

merasuk ruang – ruang hasrat

mengirim pesan ke dalam ruang akal

janganlah membebani dalam berkata

mempersulit pena

Membuat hal – hal ganjil memperluas lafazh berbuah Tenar

Membebani diri berbuat paksa jiwa

persulit tubuh membawa urusan taqwa

di selimuti tujuan emosi nafsi

janganlah membebani di ruang teduh ilmu – ilmu

meniti sesuatu yang tidak mampu

tenggelam dalam sungai dangkal

merangkul pelampung kecil kesalahan

bertanya sesuatu yang belum terjadi

 

Menengadah berpikir menoleh lingkaran waktu

Masih ada detik untuk merintis hati

Pandang pun kembali di ruang putih penuh janji Sanggahan dalam berhias diri

tampilan berlebih bermewah terlontar dan terungkap

menyiakan waktu bersolek Tanya

Begitu berulang

janganlah diri berbuat hina

memelihara sengsara

karna menjalankan harapan hati keridhaan manusia

 

Laranglah hasrat membebani diri

tergopoh dalam mata pencaharian

Memberi di atas kemampuan

penguasa menanggung janji sejahtera

pada kumpulan manusia

membebani diri mengumpulkan harta

jauh terlampau di atas kebutuhan.

 

Beribu makna terhantar ke relung jiwa

Memandang kembali lingkaran waktu

Syukurkan qolbu dengan apa yang sudah di beri

Balikkan hati

sadarkan jiwa

dari papan hitam

kembali menuntut cahaya illahi.

 

Keraton, Martapura 15 Des ’10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s