Kantuk Melanda

Standar

Tiap lembar ku lewati
tiap huruf ku cermati
tiap makna ku dalami
tiap perkataan ku resapi
lelah hati ini

sudah 60×3 menit aku menerawang di dalam rentetan kertas-kertas putih tak beruang
laksana rana ketika di shoot
diafragma membuka mengimbangi speed
memory tak selalu penuh
masih banyak ruang kosong yang harus di isi
perlahan, perlembar, perkata, permakna tersave dalam file tanpa virus

menggoda kehidupan yang mengumpulkan sastrawan sudah kumakan
wajah deportan titian pemudapun terlewatkan
angin besar menggerus ladang-ladang terhantarkan
berselimut diri
seperti cerita dua lelaki
tentang perempuan yang memburu hujan

empat kubu susunan kertas
tersamping tanpa alas
meniti mizan kesedihan Muriel
perjalanan cinta kimya
sang Putri Rumi

semua di ukir dalam enam pertanyaan
oleh Ignas sang 19 Mei
berlarut dan menangis, teriris,
tertatah ketika Aidh al-Qorni menyodorkan Renungan isy Kariiman…

Huh, sarapan pagi penuh dusta
menyudahi makan malam penuh kertas
hingga terpana menyelami matinya seorang Penari Telanjang

hati ingin…
Hasrat bergema
namun kantuk melanda
ku sudahi saja untuk membuka
membuka dunia baru di bawah Sadar

Pasayangan, 4 Des 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s