Kecelakaan

Standar

Kuliah selesai akupun mulai nongkrong dan bercengkrama kepada rekan-rekan. Kami membahas tentang pengalaman ketika kami kecelakaan. Ternyata memang benar, semua dari diri pribadi pernah mengalami kecelakaan. Contohnya aku, aku kecelakaan waktu itu tepat pada tanggal 1 Januari 2009. Jalanan panjang menuju Banjarmasin kulalui dengan Roda dua. Pada waktu itu tepatnya ketika masih pagi sekali, sekitar kurang lebih jam enaman lah, aku beranjak dari Martapura dengan keadaan mata mengantuk, mengantuk sekali, terang saja malamnya aku begadang menyambut malam pergantian Tahun dengan acara pementasan Teater di salah satu sanggar di Kab. Banjar. Kornologisnya begini : Aku berangkat dari Martapura pagi dengan keadaan Mata yang sangat lelah dan mengantuk sekali. Tubuh terasa letih karena tidak tidur satu malam. Kenapa aku paksakan ke Banjarmasin? Waktu itu Orang Tuaku meminta aku untuk ke Banjarmasin menjenguk bibi yang sedang melahirkan di rumah sakit Banjarmasin. Mereka bilang sanggup Tidak? Ya sudah aku bilang saja sanggup. Ku putar laju Gas sampai kecepatan 100km/h. Dan lempang saja, secara jalanan memang masih sepi dari lalu lalang Transportasi. Aku sadar ketika berat mata ini. Dan aku ingat waktu aku kaget di tengah jalan karna tertidur. Ah, tanpa pikir panjang tetap saja ku tarik si putih (sebutan untuk sepeda motorku) menuju Banjarmasin. Niat dan harapanku makin cepat aku sampai dirumah nenek di Pekapuran maka makin cepat juga aku tidur tenang. Yah, lumayan istirahat sejenak sebelum menjenguk kerumah sakit. Tapi apa yang terjadi? Belasan kali aku tertidur dan belasan kali aku terbangun di tengah perjalanan ketika aku berkendaraan. Mata ini kian berat, berat… Dan sangat berat. Ketika aku memasuki daerah Gambut aku sudah seperti bermimpi. Senyap sekali, tenang tiada bunyi di alam bawah sadar. Hanya beberapa menit, aku mengintip… “Braaaaaaak.”
aku terpelanting berguling-guling di aspal licin, Si Putih terseret pecah dan patah, aku terbangun sadar dan bergumam dalam hati “wah, bakalan pengeluaran lagi nih, tekor lagi perekonomian.” aku bangun dan mengangkat kendaraanku sendiri. Hanya luka di tangan, namun dadaku perih seperti terhempas keras. Aku lihat keseberang, oh, sungguh malang, kasihan yang kutabrak seorang anak umurang SMA gemuk dengan kulit tangan terkelupas dan berlumuran darah disana. Seorang ibu yang tersandar dipinggir jalan menimang balitanya menangis histeris. Aku terperanjat kaget. Aku lihat sepeda motornya yang aku tabrak, wah… Amazing! Itu kenalpot sudah seperti hurup alif. Mencuat ke atas. Ban sobek dan body plastik yang pecah. Kasihan mereka. Nanum setelah beberapa menit kenapa polisi datang tiba-tiba? Siapa yang menghubungi mereka. Karna aku ingat waktu bangun dari guling-gulingan tak ada Polisi di lokasi kejadian. Ah, ya sudahlah singkatnya aku di bawa ke pos polisi gambut. Padahal aku ingin masalah ini di selesaikan kekeluargaan, tapi kenapa hal ini malah ditawarkan ketika aku sudah sampai di Kepolisian. Singkatnya aku dimintai keterangan, mulai identitas diri sampai hal-hal yang tidak penting menurutku. Sengaja aku tidak buru-buru melapor orang Tuaku, aku tak ingin mereka gundah gelisah dengan kabarku, tapi apa? Apa yang bisa kulakukan tanpa orang Tua? Pembelaan apa yang harus dibicarakan ketika persidangan? Ya sudahlah, sewaktu gundah melanda sempat saja tuh aku on-line mengupdate status dengan Tulisan “aduh, Musibah, semoga dikuatkan Allah.” wah, banyak sekali yang koment bertanya-tanya. Aku hanya bisa membaca sambil sedikit tertawa. Ya, aku tak pernah ambil pusing suatu masalah, aku yakin nanti akan kelar juga, singkatnya aku pulang ke Banjarmasin naik angkot, sampai dirumah nenek di Pekapuran aku di pertanyakan “Mana motormu Nda?” kuceritakan saja apa yang sudah terjadi. Wah mereka kaget, Orang Tuaku langsung berangkat ke Polisian untuk mengurus semua penyelesaian. Aku tak tahu apa yang terjadi disana. Mata ini mengantuk berat, berat sekali, aku rebahkan badan dan aku tinggal semua pertanyaan dengan ketiduran. Teman-teman mentertawakan pengalamanku ada yang kasihan ada juga yang prihatin, pokoknya bermacam-macam respon.

Dan satu lagi dari cerita temanku yang namanya mempunyai makna “Cahaya Malam”. Dia bercerita bahwa menabrak kakek Tua, terganggu penglihatan dan tidak waras pendengaran, waktu itu dia berumur kisaran SMP, singkatnya dia menabrak sang kakek ditengah jalan, namun dia sadar seperti terpesona dan takjub melihat kakek terbang berputar terpelanting di atasnya hingga sampai keseberang. Terang saja aku tertawa mendengar ceritanya yang berlebihan. Kemudian dia menabrak pembatas jalan dan terjatuh. Kakinya luka namun dia tak menyadarinya. Setelah kejadian Pembakal di kampung lokasi kejadian menyuruhnya untuk bersembunyi dalam rumah Pambakal, karena waktu itu dia masih kecil. Ya, tentu saja hal itu membuat kalang kabut pihak berwajib mencari penabrak si kakek. Kasihan mereka. Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s