Makalahku Bagian I

Standar

Panas terik, matahari membakar dan menyengat kulit. Untung saja aku tidak keluar rumah. Jam dinding menunjukkan makan siang, membingungkan tak ada yang bisa dimakan kecuali aku harus rela bersusah-payah masak utk makan. Aku tak ingin repot, biarlah rebus mie saja untuk pengganjal perut. Masih ada nasi dingin sisa kemarin, lumayan untuk menambah gizi. Kerakungan puas, ku nikmati sebatang rokok. Ku tatap jam yang melekat erat di tangan kiri. Oh, tidak! Aku telat kuliah. Bergegas naik, ganti baju, berangkat ke kampus. Tanpa mandi, tanpa gosok gigi.

Jalanan bak lahar merapi yang melintas kulit. Bias panas menembus lapisan kaca muka. Namun kuda besi ku tersendat seperti batuk. Oh, shit! Bahan bakar habis di tengah jalan. Aku berjalan menenteng tumpukan besi berlapis plastik jepang ini. 2km tak kutemukan orang menjual bensin. Apa maksudnya? Apa kah ini ujian? Ujian akhir hayat mungkin. Haha! Aku tertawa menikmati perjalanan.

Sang kuda sudah minum. Tinggal sedikit lagi aku tiba dikampus. Menuntut ilmu memainkan peran yang sudah diberikan. Jam sudah jatuh tempo. Dosen sudah mengajar. Para mahasiswa duduk rapi.
“Kumpulkan semua Tugas sekarang!”
Apa?! Tugas? Tugas apa? Aku tak mengingatnya. Aku terlarut dalam buaian canda melupakan kewajiban. 30 hari waktu yang diberikan terbuang dalam percandaan.

Ah, apa yang harus kulakukan? Permisi pak, keluar sebentar. Aku berpikir dan berpikir. Tertawa! Emang berpikir tugas selesai? Eitz, tidak bisa! Tidak bisa!. Sudahlah, ku calling teman seperjuangan meminta untuk menyelesaikan tugasku sekarang.
“tentang apa?”
“tentan sahabat, hakikat sahabat”
aku siap kemana saja dia membawa. Aku tak masuk mata kuliah pertama. Demi makalah yang bakalan diterima. Aku mengikutinya sampai kerumah. Secepat kilat kerjaannya. Terang saja kalau memang fasilitas lengkap. Sudah, kita jilid, print, copy, berangkat. Bergegas kembali menuju kampus. Namun ku belum tahu apa yang terjadi dikampus.

Sampai dikampus. Rekan Mahasiswa sudah keluar kelas.
“mana bapanya?”
“sudah bulikan uy”
“tugas kada dikumpul kah?”
“kada, yang belum bisa mengumpul tugas hari ini nanti saja minggu depan kata bapak. Lebih dari 30 orang yang belum mengerjakan. Ya, kira-kira 80 % mahasiswa yang ada dikelas.”
Sialan, kenapa tidak bilang dari awal. Sudah susah payah hilir mudik demi menyelesaikan. Sudah tidak mengisi daftar hadir, tugas tidak jadi dikumpul pula. Kesalahan ku sendiri kenapa harus buru-buru keluar ketika dosen meminta tugas. Bukankah setiap kesalahan selalu ada alasan. Bodohnya aku karna terburu-buru. Lagian aku juga tidak menanyakannya kepada rekan yang lain.

Jam mata kuliah pertama sudah berakhir. Kerongkongan kering akibat otak berpikir. Beranjak ku menuju kantin seberang yang jarang kukunjungi, jarang karena ku lebih terbiasa makan atau minum dirumah saja, meminimalisir pengeluaran. Hemat… Hemat!. Satu teh es sebatang rokok kunikmati tanpa obrolan. Salah seorang teman bertanya kenapa tidak masuk kuliah pak pertama, cuma ninggalin tas dikursi namun pemiliknya menghilang tanpa jejak. Ku katakan saja “koler.” jawaban singkat yang tak bisa ditentang. Mereka tidak tahu kalau aku sudah berjuang demi perhatian doseh. Ah, perjuangan yang sia-sia.

Lapar terasa. Makan dirumah hanya mie rebus dan sedikit nasi saja. Nasi kuning lauk telor 1 man!. Mudahan cukup menyehatkan pikiran dan memenuhi kebutuhan.

Tak terasa waktu berjalan. Teh es habis bersamaan makan. Tapi apa yang terjadi, firasatku permulaan terjadi. Aku kesal. Marah. Dalam hati. Mahal sekali. Uang merah Rp 10.000,- lembar di kantong satu-satunya sudah mengerut menjadi abu-abu (Rp 2000,-). Mahal sekali. Nasib anak kost. Cuma nasi seimprit dihargai delapan ribu. Sudahlah, aku bergegas ke kampus untuk masuk mata kuliah kedua. Mata kuliah favorit. Dosennya pun cantik. Aku suka. Hampir jatuh cinta. Hehe.. Tidak sedikit mahasiswa yang jatuh cinta kepada Dosennya. Benarkan kawan? Simpan pertanyaan itu untukmu. Ku lepas sepatu dan memberi salam. “Asalamualaikum”
Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s