Mentertawakan Diriku Sendiri Bagian II

Standar

Kami berdelapan denganku salah seorang perempuan yang juga sastrawan dari Sanggar Matahari (tiiiiiit. . Sensor.., kada usah di sambatakan ngarannya gin, urangnya terlalu top jer, ujer jua pang ). Sesampainya di UNISKA kami berdecak kagum banyak sekali penontonnya sampai – sampai lalu lintas pun menjadi macet, terang saja karna memang pertunjukan di halaman kampus dari jalananpun sudah kelihatan. Ramai pengunjung, penonton, pendukung, membuatku terasa panas pengap dan berdebu. “baaaah dangsanak, lawan siapa datang ? “. Sambut teman seperjuangan (bertemu sewaktu Workshop di Sungai Tabuk berjuang rahatan sehari itu aja pang. hiii!). “ni pang nah lawan anak buah, bedelapan! “. Dengan sedikit angkuh (manuhai kisahnya lantaran kadada angkatan nang tatuha ). Tapi sayang aku lupa namanya siapa?, seseorang yang juga anggota STB. Aku hanya ingat wajahnya, postur tubuhnya, dan rupanya. Kemudian aku di ajak langsung saja mengisi buku tamu yang berada di sebelah kanan pintu masuk. Senang rasanya ketika di suguhkan untuk  mencicipi kue asli Banjar seperti wadai cincin, untuk, apam. “hehe.., pas banar aku beluman makan tadi pas tulak. . Tiga buting lah?”. Pintaku memohon “silahkan”. Salut Buat STB, bukan karena gratisnya (ya itu juga point sih) tapi mereka menyisipkan tentang kue-kue daerah Kalsel, artinya mereka secara tidak langsung memperkenalkan Budaya kepada khalayak masyarakat Banjar bahwa wadai banjar tidak terlalu banyak di produksi harus kita lestarikan keberadaanya (wayo.., bujurjuakah kaya itu susunannya lih?). Beranjakku melangkahkan kaki menuju stand lukisan, lebih tepatnya sich kaligrafi. Terkagum-kagum sendiri dengan harganya yang luar biasa mahal (ups. . Salah..!, Itu memang harga yang pantas buat hasil karya yang begitu rumit namun begitu indah seperti ini). Belum tertarik tentang apa yang di pertunjukan di dalam kandang sana, hanya termenung memandangi dan menikmati lekukan-lekukan garis tanah liat (mungkin : tanah.. Ga tau juga sih) membentuk kalimat Asma ul-Husna, Shalawat kepada Nabi Muhammad, dan tulisan bahasa Arab lainnya.

” Sini nda..! “. Suatu sms perintah yang masuk ke handphoneku. Langsung ku menengok kearahnya dan berkata ” kena gin, lagi nyaman bediri nah ! ”.

Sambil menikmati dan memandangi lukisan tangan manusia yang menghasilkan lekukan kaligrafi Arab dengan sebatang rokok. Panas terasa di siang ini membuat kering kerongkonganku, langsung saja ku mengambil segelas air dalam kemasan dan menuju tenda yang memang sudah di sediakan panitia untuk undangan, mencari tempat yang agak rindang dan sejuk, kembali dan kembali lagi aku tesentak berteriak berdecak kagum “WOOOOW.. .bagusnya ih pakaian bubuhannya nich. .Banjar banar.. Aku himung melihat.. Tataan panggungnya bagus jua.. Ada pengantin basanding dimuka situ ha pulang.. Tau am tu bubuhan papadaan jua kah atau dasar pengantin bujuran kah?, alunan musik panting langsung ha pulang, urangnya bungas-bungas dan langkar-langkar ha pulang, bujuran nah !, apa lagi yang di muka waktu tarian yang pakai baju kuning tuh mirip sazkia adya mecca., menurutku.. Senyumannya tu na menusuk ke jantung hati, seeeh! Sayangnya ku kada patuh ih, mudahan ai kaina patuh!”. Seorang yang pendiam (sekali mau bepandir panjaaaang banar ). Suara Babun menggema musik Panting pun di dendangkan, Penari itu berlenggang menggerakan tangan dan kakinya menggiringi suarang Gong ” STB tu baisian alat musik yang lengkap lah ! “.

 

” hi ih “. (jer kawan di higa menyahuti, seapada bemodal ” hi ih “ empat hurup ya kalu, ya Allah mudahan ulun banyak rejeki dan sanggar Ar-Rumi banyak rejeki baisian alat musik Banjar lengkap kaya ini jua. Amiiin).

“Baiklah. .hadirin dan penonton, kita akan saksikan dance dari STB selamat menyaksikan! “. Di sambut tepuk tangan penonton.

 

“aku pinandu sidin nang jadi MC ini kakawanan bahari waktu di komplek kijang mas. Palui. . Hi ih Palui rasanya kakawanan mangiyaunya, kada tahu jua ngaran aslinya siapakah?”. “hah, ada dancenya jua kah?.. Beuih, mantap ih.” kata ku bergumam sendiri. Tak berhenti sampai disini namun pertunjukan demi pertunjukan berhenti disini, maklum break sebentar adzan dzuhur. Singkat kata singkat cerita (gasan mahandapi kisah) mereka pun kemudian menampilkan teater komedi. Lucu menurutku, tak maksud menyindir ataupun membandingkan ataupun meremehkan teater-teater di Banjarmasin seperti Wasi Putih, STB, BAHANA, AWAN, SAMPAN, HALILINTAR, WOW, HIMASINDO dan yang lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena saking banyaknya, mereka mempunyai performance akting yang sangat tinggi, membangkitkan semangat diri bahwa aku harus berteater seperti bahkan lebih dari mereka.

Matahari tergelincir dari tepat keberadaanya di jihad atas kepala. Perut ini terasa lapar karena memang tidak menyempatkan diri untuk makan 1 butir nasipun hari ini. Maaf untuk STB Karena kami beranjak pergi sebelum pertunjukan berakhir, namun rasa salutku tidak berhenti hanya di halaman kampus ini, aku berharap di lain waktu kembali dan lagi STB menampilkannya di daerah luar, tidak hanya di Kalsel bahkan di luar Kalimantan untuk membudayakan kesenian daerah Banjar yang mulai mati suri di telan zaman. (kaina main di kab. Banjar buhanyalah ?, di Martapura, aku himung melihat bubuhan kam berataan). Tapi aku Optimis kesenian dan kebudayaan Banjar akan terus berkembang seiring zaman dengan dukungan para seniman dan pemerintah tentunya.

Perjalanan menuju pulangpun dimulai namun aku teringat pesan bang Andi Sahludin ” tuntung ini buhan ikam berataan bailang ke Wasi Putih lah.. Bawai Ini naaa ! “. Menunjuk ke gadis di sebelahku. ” Siiip Bang. .tunggui haja “. Sesosok lelaki yang ku kagumi ketika pertama kali bertemu di Workshop Teater Sungai Tabuk oleh Bang Yadi Mariadi. Lelaki yang penuh semangat dan selalu menggebu-gebu apabila dia berkata. Secara dia seorang sutradara handal yang menyutradarai pementasan CHANTIKA malam itu (ingat aja kalu bubuhan kam? Kayapa?, mantap lo?) yang juga telah membawa Teater Wasi Putih mengukir beberapa prestasi yang… Sulit di ungkapkan dengan kata-kata (Bang.. Lajari ulun apa yang kawa pian lajarakan Bang lah.! Sesuka – suka hati pian ja). Singkat kata singkat cerita (gesan mehandapi kisah) menujulah kami ke sekretariat Wasi Putih, SELAMAT MENYAKSIKAN !, (upps!, apa hubungannya lah??). Terputar-putar kami masuk lingkungan UNLAM yg luas dan megah. (himung jua kan kita sebagai urang Banjar melihat kampus di daerah saurang luas kaya ini., yaa.. walaupun saurang kada kuliah disitu kada papa yang penting himung! ) dengan berkat peribahasa ” Malu bertanya sesat di jalan ” pun akhirnya kami tiba di tempat yang di maksud.

 

“Bang, umpat betakun. Bang Andi nya ada kh?”.

“Andi siapa?” jawabannya kasar.

“Andi yang di wasi putih!”.kataku meyakinkan.

“kada tahu ku, mun handak ke Wasi Putih masuk jalan sebelah sini na! “.

Aneh gumamku. Masa tidak tau dengan bang Andi sahludin sang sutradara terkenal itu lho!. Kulihat perabotannya yang ada di belakangnya, eh… ternyata anak pencinta alam. Memangnya orang pencinta Seni dan Budaya dengan pencinta alam itu tidak rukun ya? Selalu membuahkan pendapat yang berbeda!. Hmmm.. menurutku tidak juga sih, Karena di daerahku juga terjadi hal yang seperti itu,  hanya sedikit tegur sapa yang hangat di sebagian antara UKM kampus. Ingat! ini hanya sebagian lo bukan seluruhnya. Tak ada yang patut tersinggung apa lagi tersungging.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s