Mentertawakan Diriku Sendiri Bagian V

Standar

Kembali ku rasakan hiruk pikuk kota Banjarmasin menyelimuti kami berdua. Tak terasa matahari pun bersimpuh di persembunyiannya. Debu-debu jalanan menerka setiap rupa yang terbuka. Hari semakin larut malam kian mendera. Sesaat hujan menggurui hari. Jalanan yang kering kerontang akibat panas yang menggantang ( eh, menggantang tu bahasa Banjar lih?, biar am yang penting “NG” ) tertutupi tetesan air hujan yang menerpa jalanan.

Penuh kesan dan kenangan. Namun aku tidak bisa.., sungguh tidak bisa ku ungkapkan satu persatu kejadian yang terjadi di waktu itu ( aku mengingatnya. Namun tak bisa untuk menuliskannya ). Hari semakin larut, malam semakin gelap, hawa semakin dingin. Basahnya lilitan benang menusuk kekulit hingga ke akar. Aliran darah mengalir namun tesendat. Lilitan garis urat mendirikan perasaan beku di dalam perasaan. Dingin Terasa cuaca di malam itu menembus tetesan hujan yang menghempas lapisan kaca dimuka ku. Basah menyelimuti diri. Namun ku tetap bertahan. Tegar melewati rintangan ini.

Tatanan kota Idaman pun telah nampak, bangunan yang menjulang tinggi bersimbolkan intan permata sudah terlihat. Setiba ku di depan rumah makan yang tidak asing bagiku. Secara aku juga menjemputnya di tempat ini ketika berangkat pagi tadi. Ya sudah kembalilah dia kesarangnya ke tempat peristiratannya. (hehe, bulik kerumah maksudku, haduh bingung ku mencari kata-kata apa yang bagusnya). Segera saja diriku beranjak dari tempat ini menuju kampus tercinta. Melewati kerumunan manusia yang berkendara walau dingin melanda tak menggoyahkan nikmat ku berkendara menuju Sekretariat tersayang Sanggar Ar-Rumi STAI Darussam Martapura. Berharap semoga bertengger kumpulan manusia yang bercengkrama disana. Sesampainya ku ditempat. Aku bingung ?. Entah kenapa suasana terasa sunyi, sepi, senyap menurutku? Apakah tidak ada orang di dalam?. Melangkah kakiku menuju lorong – lorong bersekat mendapati pintu yang lumayan berkarat.

” wew, manaan urangnya tuk? Sunyinya? Kemanaan bubuhannya? “.

” buhannya ke CBS menonton Mamanda jer ! “. tukasnya cuek.

” kam beapa disini.?.. oh tahuaiku.., menggawi tugas RPP pasti ja,!! Ya kalu?? ( sambil ku menengok layar laptop di hadapannya ), beuuuih.. on-line sekalinya.!! Pantas ai awet burit iya banar beakar! “.

” iya am nah. Selajur ae mumpung gratis ! “.

Aku pun duduk sejenak sambil merenggangkan otot-otot yang kaku akibat lamanya berkendara. Sambil menghangatkan diri, ku nyalakan sebatang rokok dan menikmati sunyinya suasana di malam ini.

Malam semakin larut hari semakin dingin ( pasaran banget kata-katanya! ) aku  berdiri beranjak dari tempat dudukku.

 

” aku bedahulu mendatangi bubuhannya nah. Kam kada kesanaka kah ? “. Tanyaku.

” kaina kesana ai menyusul. Kam bedahulu ja! “.

Melangkahku ke tempat dimana Si Putihku bertengger. Ku ayunkan kaki ini agar bisa membuat kuda besi ini menghantarku ke tempat yang dituju ( maklum Si Putihku kadida satatarnya!! ). Kerumunan manusia di hadapanku membuat diri bertanya – tanya di dalam hati. ” mana bubuhan Rumi lah ? “. Menatap ke arloji lusuh yang setia menemaniku kemana pun ku pergi, waktu menunjukkan pukul 10.00 malam. Kumpulan manusia di tengah pasar ini membuat perasaan salut dari hatiku yang paling dalam buat masyarakat kab. Banjar, Martapura khususnya, mereka merespon adanya pertunjukan Mamanda ini di tengah-tengah masyarakat umum, mudah-mudahan ini tidak hanya untuk malam ini saja,tapi malam-malam berikutnya pun harus ada. Karena tidak sedikit kesenian dan kebudayaan Banjar lahir di daerah ini. Maka oleh sebab itu, dengan adanya perayaan dalam rangka penobatan Bupati Banjar menjadi Raja Muda atau yang disebut Pangeran menjadi peluang untuk generasi muda pecinta Seni dan Budaya menyalurkan bakatnya. Melestarikan kebudayaan Banjar, memperkenalkan kepada masyarakat bahwa daerah kita kab. Banjar mempunyai kebudayaaan yang sangat luas yang kaya dengan kesenian.

Seharusnya dengan Penobatan Bupati Banjar menjadi Raja Muda menjadikan bagi kita – kita seniman muda untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah terkait hal-hal yang berhubungan denang kesenian dan kebudayaan daerah Banjar. Sungguh ini gagasan bagus menurutku, semoga saja gagasan yang di maksudkan beliau sependapat dengan para seniman yang berada di daerah kab. Banjar khususnya dan Kalimantan Selatan pada umumnya. Karena ini adalah suatu pintu agar ide-ide kreatif dari para seniman daerah ini masuk ke dalam ruang lingkup pemerintah dalam melestarian kesenian dan kebudayaan daerah seperti contohnya ini. Kesenian yang hampir hilang di telan zaman, mungkin anak muda sekarang tidak terlalu mengetahui dan mengerti tentang Mamanda, kuda gepang, Madihin, Puisi bahasa banjar, bapantunan, tarian banjar, dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Hanya sebagian dari sebagian kalangan kecil yang menaruh minat kepada kesenian dan kebudayaan daerah, sungguh sangat di sayangkan. Namun aku optimis ke depan bahwa acara ataupun event seperti ini akan terus berkembang dan terus di selenggarakan.

 

Melangkahku menuju sisi panggung dan melihat teman – teman sanggar Ar-Rumi di barisan depan penonton. Dengan usaha yang tidak mudah untuk menerobos ke bagian depan, aku pun harus berjejal dan mengucapkan ” Permisi.. Umpat lalu lah !! ” di setiap kepala – kepala yang ku lalui . Akhirnya aku sampai di tempat yang di maksud, berkumpullah aku dengan teman – teman sesanggar setelah bertegur sapa seadanya. Menatapku kepada pemain – pemain Mamanda yang ada di hadapan, tidak asing bagiku, mereka adalah seniman – seniman senior Kalsel yang beberapa orang dari mereka juga sering mengisi program acara televisi di TVRI KALSEL ” Warung Bubuhan “. Lucu sekali komedi dan banyolan Bahasa Banjar yang mereka lontarkan mengocok perut kami semua yang menonton. Teringat sewaktu aku dan teman – teman di sanggar Ar-Rumi memainkan Mamanda di Gedung Juang Desember tahun lalu ( kada ingat ih tanggalnya., yang jelas tahun 2009 ). Sebagai Gt. Muhammad Seman putra Pangeran Antasari yang bertindak Panglima Perang. Berkecamuk cerita benteng Orange Nasau yang akan di rebut oleh kompeni Belanda ( nah larut am kisahnya., sudah gin hinggan sini haja ! ). Tak lain dan tak bukan Bapak Abdillah yang ada di hadapanku sekarang adalah sutradara waktu pementasan kami di kala itu. Salam kagum beserta hormatku kepada beliau dan kerabat seperjuangan beliau yang telah mengajarkan kami dan membawa bekal ilmu tersebut hingga saat ini. Semoga saja sanggar Ar-Rumi tidak hanya terlibat Mamanda satu kali itu saja, tetapi berkali-kali agar kesenian ini tidak tenggelam begitu saja. Waktu menunjukan pukul 11.45 malam. Pertunjukan pun berakhir. Penonton Bubar namun kami tetap bertahan di depan panggung.

” Waaah.. kayapa habar sanggar Ar-Rumi wahini ?”. menyapa kepada salah seorang anggota

” Alhamdulillah lancar dan baik-baik saja pa’ai ! “. Sambil bersalaman kepada semua anggota Ar-Rumi di situ. Senang hatiku melihatnya. Beliau masih mengingat sanggar Ar-Rumi. Mereka bercerita dan saling bercengkrama satu sama lainnya, sedangkan aku!, apa yang kulakukan?, aku hanya duduk manis di atas Si Putih sambil menikmati sebatang rokok yang baru saja kunyalakan. Sambil tertawa Mentertawakan Diriku Sendiri. ” hahaha..  kesenanganku ketika bisa berkumpul dengan kalian semua sahabatku, kalian yang mengajarkaku apa itu arti hidup, Hidup adalah Teater dan Teater adalah Hidup. Aku memainkan peranku sebagai Ananda yang tak bisa apa-apa, untuk apa berlagak SKSD dengan seniman – seniman seperti kalian dan beliau, melihat renyahnya komunikasi di kala ini sudah membuatku senang. Sampai rokok di tanganku habis 1 batang.

Tendapun di rapikan, alas panggung di gulung dan di simpan, alat – alat musik di masukan ke dalam ruang yang sudah di sediakan.

 

” kita minuman dulu yu ? “. Kata salah seorang kami.

” barang ja. Mun bubuhan kam rasa nyaman. Ku nyaman jua !! “.

” tapi siapa yang membayarinya ? “.

” aja gampang. Aku membayarinya “. Salah seorang dari kami menimpali.

” bujur lah ! “.

“hi ih bujuran, munnya kada cukup duitnya kita kumpulan munnya kada cukup jua hanyar kita patungan ! “. ( kumpulan lawan patungan apa bedanya lah ? )

” AKUUUUR “.

” Bagus ae ” . Jawab ku mengakhiri. Berangkat lah kami menuju warung harapan. Harapan mudah – mudahan masih ada warung yang buka.

Sesampainya diwarung. ( handak tutup sudah sidin si acil warung! )

 

” Cil, kopi sebuah ! “.

” Cil, mie bekuhup sebuah ! “.

” Cil, soto banjar limau kulit lah. . Eh limau kuit toh ! “.

” ulun soto banjar biasa aja ! “.

” Uluuuun. . .!”.

” hadang dahulu hadang..?? ( jar acil warung ! ) tunggal ikungan pank !! “.

” iiiiih ayu ae mun damintu ! “.

Canda tawa pun berkembang berhisan bualan dan cercaan sembari meminum suguhan yang telah di sediakan.

” Nah.. Ini program kita gasan malam tahun baru ini “. Salah seorang teman menyodorkan layar tangtopnya ( ups ! ) laptopnya kepadaku.

” bagus ae. Nyaman ja kita pokoknya, aku kada tapi ngalih jua urangnya “. Jawabku singkat, padat, tidak mengerti.

Kamipun saling bercerita dan mentertawakan hal-hal yang lucu di dalam cerita.

” buhan kam tahu kada ? “.

” kada tahu !!! “.

” si anang kijil tuh kada tahu di jalan “.

” ai. . Kenapa bisa kaitu ? “.

” ingat kada waktu kita ke Be-je-em-an waktu m’elangi si onang – oneng di Rumah sakit ulin ? lawan jua yang kita nonton bubuhan Wasi Putih pementasan Chantika plus Teater Komedi Thapuntalnya Sabuah Cinta malaman tuh, inya maka tasasat jer ! “.

” ai kenapa bisa kaitu ? “.

” ku takuni ai. Ikam urang mana? Jar inya aku urang Banjarmasin

. Haaaan.. bungulnya lagi Inya urang Banjar maka kada tahu jalan -jalanan di Banjar !, kada aneh lah? “.

” ai kenapa bisa kaitu? “.

” ikam tahu kuripan lah? Kada jernya!. Gatot pang tahu lah? . . Kada jua jernya!

Sultan adam pang tahulah tambusnya kamana? . .kada jua jernya.. Hau.. kenapaan.??. Maka ikam ini urang Banjar kanapa maka kada tahu ?? “.

” hi ih. Kenapa bisa kaitu “. Mereka menyahut.

” mauknih., sahutan nang lain pank !, jangan bisa kaitu.. bisa kaitu tarus !! “

“ tarus pank kanpa bisa kaitu ?? “

 

“ sekali lagi manyahut kaitu ku hamputakan cangkir ni nah..!. Jadi ujarku . . Aku ini na urang Pelaihari bediam di Martapura tahu haja jalan-jalan di Banjar. Iiiiih. . Sakalinya beucap lawan ndih ku ” aku ni bujur haja urang Banjar tapi lawas bagana di Pesantren “.

” hahahahaha “. (kakawanan menawakan kisahku)

” ai. . Kanapa maka tatawaan ? “.

” Lucu kisah ikam tu! “.

” ai. .dimana letak lucu.?? . Hadang dahulu. Balum tuntung ku bekisah, jadi ku padahkan ai

” ikam jangan kaitu..! Aku gin santri jua.. lawas bagana di pesantren jua tujuh Tahun na !! ” (Sambil manyurung jari telunjuk kanan, jempol kanan, jempol kiri, telunjuk kiri, tengah kiri, manis kiri, dan kelingking kiri, ) tapi aku tahu ha di jalan Banjar. Ikam pesantren dimana gerank ? “.

“ ai..apa jarnya?? “.

Jadi jernya

” aku Pesantren di Gambut “.

 

“ Oooh.. Al – Mursyidul Amin kah? “. jer ku pulang. .pantaaas inya kada tahu di jalan, urang ni rupanya kada penjalan buhannya ae., kayapa handak bejalanan kaya saurang, sakulilingan pahumaan haja di dalam situ..!! “.

” hahaha, wkwkwkwkwk, wkakakakak. . Ckakakakak ” ( gelagakan kakawanan tatawaan lucut menawakan kisah nintu ! ).

” tapi bagus haja pank bubuhannya ae ya kalu.?,inya kada tapi tahu lawan raminya dunia, kada tapi panjalan, takurang dusanya pada kita, aku pang nang nyatanya dahulu, urangnya panjalan banar.  Pesantrennya bujur haja, Lingkungannya kada salah tapi ikungan urangnya haja lagi nang kaya apa manggunaakan kasadaran dirinya.,iya kalu? Bujur kalu? Iya kada ? “.

” Muha nyawa kada rata nda’ae. Mun memadahi urang musti ai ikam tu !. Tapi munnya kakawanan memadahi ikam, mana pang ada ikam asi, ikam gawi ampun kam saurang jua ai ! “.

” hehehehe “. kembali ku Mentertawakan Diriku Sendiri tanpa perasaan bersalah. Singkat kata singkat cerita ( gasan mahandapi kisah ) Acil warung pun tertawa mendengar ocehan, candaan, dan cerita dari kami yang tidak bisa aku ceritakan satu per satu. Malam semakin larut, hari semakin dingin.

” berapa cil berataan ? “.

” napa – napa haja ? “.( Jer acil).

” ikam napa ! ? “.

” mie sebuah. Teh secangkir ! “.

” ikam pang napa !? “.

” mie haja wadai sebuting ! “.

” ikam pang napa !? .”

” mie, teh lawan wadai tiga buting ! “.

” uma banyaknya!, boros nih ! Kam pang napa Nda ? “.

” mie lawan banyu putih berapa cangkir kah kada ingat ku ! “.

” bah ngini jua, nang gratis tu kada usah di hitung gin. Kam napa ? “.

” aku mie haja lawan banyu putih secangkir ! “.

” Dusta banar. Tadi ikam pina manuang tarus banyu nya ka cangkir sampai habis banyu sidin di eskan. Minta isiakan baasa. Minta isiakannya lawan banyu teh ha pulang.. ! “.

” bah seapada , palingan malam ini haja, malam isuk iya pulang..!! “.

” ikam pang napa ? “.

” mie lawan lapat talu buku “.

” beeeuih.. Sama haja nginih. BOROS ! “.

” jadi berapa cil ? “.

” sekian “. ( jer sidin. Apang ku kada ingat pang sidin waktu itu sidin menyambatakan berapa kah jer ? ).

” malam isuk kita kesinian aja pulang buhannya ae, nyaman murah ! “.

” ai waninya ?! ( kata salah seorang temanku menimpali ). Kalu pina di larangi sidin. Larangi cil ai ! “. Kami pun tertawa terkikik menahan sambil menunjuk kepadanya .

 

” malam isuk pulang laaaah !!!”. ( Jer acil menyahuti ).

” beh , acil ni memancing bisa banar..! kada mematuk cil ae. Hehehe “. Jawabku menimpali.

 

” Tukar cil lah !”.

” JuaL ! “.

Kamipun melangkah menuju kuda besi masing – masing.

” kamanaan lagi kita nih ?”.

” malam banar dah. Kita bulik kerumah masing – masing ja gin dah ! “.

” aku kesekre dulu, kendaraan ku tinggal disitu ! “.

“aj dah ku bulik langsung ja nah !”.

“ berelaan berataan lah !! “. Kamipun berangkat menyusuri gelap malam yang dingin namun indah menuju tempat untuk beristirahat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s