Mentertawakan Diriku Sendiri Bagian VI

Standar

Hembusan dinginnya malam menembus lapisan kulit yang menemani perjalananku menuju kost di malam itu. Cahaya bulan redup menerangi jagad semesta. Ku lihat jam sudah menunjukan pukul 12.30 am. Hmm.. sudah lewat tengah malam gumamku dalam hati. Tepat di depan pagar beton berhias teralis besi terpampang luas di hadapan. Ku dapati gelapnya jendela di kamarku. Mungkin teman – teman di kost sudah tertidur semua. Sedikit demi sedikit ku melangkah agar tak terjadi kebisingan yang di dengar teman-temanku yang sudah terlelap dan terhanyut dalam alam bawah sadarnya. Berharap kedatanganku tak mengganggu ketenangan mereka. Beranjak kakiku melangkah ke kamar mandi membersihkan keringat, peluh, debu yang menempel di kulit akibat menempuh perjalanan yang berputar – putar menurutku, tetesan air pun perlahan membersihkan sisa – sisa endapan yang tidak menyenangkan. Sejuk menyegarkan dan membuat fresh otak ini ketika butiran – butiran kecil Hidrogen yang menjalar di permukaan hingga ke dalam lapisan kulit yang terdalam. Cukup rasanya aku membersihkan diri bersegera saja merapikan tempat peristirahatan kerajaanku. Ku rebahkan tubuh ini dengan perlahan. Ku sandarkan kepala ini dengan Teliti . . Namun. . .

” Gubraaaak..!!! ” suara pintu yang terhempas membuat tanda tanya dalam hati. Terbangun aku dari lamunanku yang cukup lama mengingat hari kemarin ketika ke Banjarmasin. Benar saja ternyata kawan – kawan yang tadi berangkat ke acara kondangan atau yang di sebut perkawinan di tempat teman dan keluarganya sudah datang. Melongok ku sambil memandang jam dinding.

” APA..!!! Sudah pukul 11.50 am !. “. Tersentak ku terkejut. Ternyata lamunanku di tempat tidur menghabiskan beberapa jam. Terlarut sungguh terlarut. Terasa malas tubuh ini untuk bergerak. Malas adalah tafsiran kala ini. Tetap saja tak beranjak diriku dari tempat tidur. Hawa nafsu mengikat akal sehat dan pikiranku. Menatap mataku ke handphone bobrok yang Terbaring rapi sedang di charge. Ku ambil dan segera saja keinginanku berhasrat mengupdate status di salah satu jejaring sosial yang telah familiar dikalangan masyarakat atau hanya sekedar mengetahui status dan kabar dari teman – teman di hari ini. Terpaku diriku menatap layar hape dan tersenyum kecil. Pemberitahuan. .salah seorang sastrawan Banjarmasin ( nama di rahasiakan ) menerima permintaan pertemananku. Bayangkan..! betapa bahagia hati ini. ( biasa aj Nda..!, jangan tapi Lebay..! ). Ku geser navigasi ke bawah dan kulihat 1 catatan seorang penulis cerpen Chantika. “11 Tahun teater Wasi putih “. Ku baca dan ku cermati hurup demi hurup karya beliau. Memang . . Memang pantas kalau beliau di sebut seorang sastrawan, seniman, seorang penulis handal. Dalam 1 catatan tersebut telah membawa emosi dan decak kagumku kepada karya beliau. Bayangkan.. kata-kata yang lugas namun beraturan tertumpah melewati desiran – desiran emosi gejolak jiwa dan perasaan hati di malam itu.

11 Tahun Teater Wasi Putih Politeknik Negeri Banjarmasin

oleh Harie Insani Putra 11 Desember 2010 jam 23:41

Ini hanya tulisan yang gagal untuk serius 

 

Lampu dimatikan, pertunjukkan pun dimulai. Silent please..!

 

11 tahun adalah waktu yang tidak relatif singkat. Seperti orang berumah-tangga, waktu selama itu bisa menghasilkan berpuluh-puluh anak (jika tidak mandul plus vakum atau tidak ikut program KB).  Kita tahu, untuk tetap bersetia di bidang kesenian cukuplah rumit. Terkadang ada badai besar yang siap menyapu seisi rumah, atau hanya angin kecil yang bisa membuat mata kalimpanan.

 

Menuliskan perjalanan Teater Wasi Putih sejak berdirinya 11 tahun lalu bukanlah hak saya. Terlebih, sejarah, aktifitas, proses kreatif, hasil produksi yang telah mereka jalani tidak terekam cukup baik dalam ingatan saya. Maka, ibarat sebuah panggung pertunjukan, saya sedang duduk di antara deretan kursi penonton.  Apa yang sedang saya lihat, itulah yang bisa tulis saat ini. Mari kita mulai.

 

Tiket Gratis, Terimakasih.

 

Pintu masih tertutup. Tim produksi teater Wasi Putih bersiap menjual tiket seharga Rp.10.000,- plus tambahan dari pihak sponsor. Saya kagum ada pihak yang sadar mensponsori agenda kesenian, walaupun bentuknya berupa barang, disuruh jualan maksudnya.  Meski begitu, secara tidak langsung kita diajarkan sebuah filosofi ekonomi yang sederhana; untuk dapat uang, beranilah menjual dan berusahalah untuk kreatif.

 

Tim produksi Teater Wasi Putih sudah kreatif, buktinya kali ini mereka berinisiatif menjual buku-buku sastra di depan pintu masuk. Siapa tahu laku, bukankah itu bisa menambah uang kas mereka untuk produksi teater berikutnya? Kenapa perlu uang kas? Karena semuanya memang tidak gratis. Mahal lo sewa gedung pertunjukan di Taman Budaya Kalsel itu! Kalau dibelikan beras, cukuplah untuk persediaan makan 3-4 bulan. Kemudian, bagaimana jika buku-buku sastra itu tidak laku? Hehehe, itulah resiko dagang. Apalagi harga buku sekarang rata-rata di atas Rp.10.000,-. Tapi itu harus dipahami seperti (barangkali) anda  memahami arti sebuah tiket dalam pertunjukan teater. Bukan soal seniman perlu uang untuk memenuhi kehidupannya, tapi ada persoalan teknis mulai dari sewa gedung, ongkos pembuatan stand banner, spanduk, pamflet, operasional saat latihan maupun pementasan, kostum, pokoknya banyak deh. Intinya, sebuah pertunjukan membutuhkan dana yang tidak sedikit.

 

Di depan pintu masuk, salah seorang kru Teater Wasi Putih menghampiri saya sambil mengajak berjabat tangan. Saya pura-pura sok kenal, meskipun tak pernah kenal sebelumnya, atau ingatan saya saja yang parah, sehingga saya lupa. Maaf, maaf, maaf.

 

Setelah basa-basi sebentar (terkadang ini perlu dilakukan agar suasana bisa mencair, tidak lagi sedingin es batu), dia… (akh, sialan. Saya lupa menanyakan namanya. Maaf…maaf…maaf). Dia mengajak saya untuk masuk ke gedung pementasan. Saya terpaksa menolak tawarannya itu untuk satu hal. Saya tidak akan masuk kalau gratis, sementara di dalam sana, pasti ada peluh yang menetes, barangkali juga tangis, atau kepala-kepala yang mendidih demi suksesnya sebuah pertunjukan.

 

Saya harus menghindari orang-orang yang memiliki hak luar biasa untuk mengijinkan penonton masuk ke gedung pertunjukan dengan gratis. Mereka harus saya jauhi. Mereka harus dihindari. Kalau sampai saya masuk ke gedung pertunjukan tanpa mengeluarkan uang, itu sama halnya saya telah mengkhianati diri sendiri. Pengkhianatan itu kejam, Jenderal! Kalau itu terjadi, saya bisa sedih sendiri. Untuk apa hidup 31 tahun jika hanya untuk mengkhianati diri sendiri? Dasar sampah! Dasar pengkhianat! (seperti seorang psikopat, kepada diri sendiri saya memaki).

 

Saat sepi, saya buru-buru membeli tiket. Akh, selamat! Hari itu saya seperti menjadi orang yang berbahagia. Kebahagiaan itu mungkin sama yang dirasakan para pedagang pentol di pojok gedung pertunjukan sana. Dari jauh mereka datang, berharap ada rejeki yang bisa mereka bawa pulang.Kebahagiaan hari itu juga adalah rejeki yang luar biasa. Horee…Tim Nasional Sepakbola Indonesia ternyata berhasil mengalahkan Thailand (gak nyambung, ya?).

 

Dus. Jangan berpikir saya orang hebat karena sejak tadi saya menyinggung soal tiket gratis. Ini hanya sebuah kebetulan, pementasan di dalam sana menggunakan cerpen jelek saya untuk divisualisasikan ke dalam pementasan. Jujur, hasil pementasannya jauh lebih baik tinimbang naskah cerpen saya lo. Sungguh, aktor-aktor yang hebat. Sungguh sutradara yang hebat. Mereka seperti intan yang barangkali belum ada yang menggalinya dan membawanya keluar untuk dipoles dan ‘dijual’. Nah, wajar kan kalau akhirnya saya dapat tiket gratis berhubung naskahnya diambil dari cerpen saya? Terimakasih, saya tidak mau.

 

Penonton Teater di Kalsel itu Tidak Ada?

 

Caci maki saja kalau dugaan saya ternyata salah. Usai membeli tiket, saya masuk ke gedung pementasan. Kok cuma ada sepuluh orang saja di dalam? Payah! Saya keluar dari gedung dan mojok bersama paman penjual pentol. Eh, ternyata di luar sudah banyak orang! Curiga. Mereka calon penonton atau sekadar cari tempat untuk pacaran? Duh!

 

Sebentar lagi jam 8 malam. Kalau tidak ngaret, pertunjukan akan segera dimulai. Tapi orang-orang masih banyak memilih berada di luar. Mau nonton gedung pertunjukannya atau teaternya sih? Ayo, segera masuk dong.

 

Saya masuk kembali. Duduk di barisan ketiga dari depan. Karena pementasan belum juga dimulai, saya nyalakan lagi sebatang rokok. Hanya itu yang bisa saya lakukan. Mencemari udara gedung dengan bau asap rokok ditambah bau mulut saya. Tengok ke belakang, belum banyak orang, lihat ke samping, kursi-kursi kosong tak berpenghuni, tengok ke kanan, ada gadis cantik. Asyik, xixixi (Maunya sih begitu, biar jadi inspirasi cerpen lagi kayak  Chantika dan Bola Matanya). Mmm…gadis itu duduk di pojok sana sendirian, gelisah sambil menekan tombol-tombol HPnya.  Bagaimana kalau saya dekati? Tapia apa yang harus saya lakukan ketika berhasil duduk di sampingnya? Dia pasti curiga. Banyak kursi masih kosong tapi kenapa harus duduk di sampingnya. Menjadi orang yang dicurigai itu tidak enak. Apalagi yang mencurigai gadis secantik dia. Tapi saya sudah lupa caranya memulai sebuah pembicaraan kepada perempuan.Tolol banget si Harie ini. Jika pun masih ingat caranya, apakah cara-cara lama masih mempan untuk perempuan yang hidup di zaman sekarang. Hi, boleh kenalan? Maaf, boleh kenalan? Ups..kaku dan baheula banget. Apa langsung saja minta nomor Hpnya? Sebuah permulaan yang terlalu cepat, bukan?

 

Dia masih duduk sendirian, tapi tidak lagi memainkan tombol-tombol Hpnya lagi. Aha..! Dia melamun sekarang. By the way…ngelamunin apa ya dia? (Akh…sudahlah. Out the topic nih. Tapi sungguh, ada makhluk cantik di ruangan itu dan semoga tak ada yang menyadarinya. Egois dan goblok sekali. Mana ada lelaki yang tidak menyadari ada perempuan cantik?).

 

Pengunjung malam itu mungkin berkisar antara 300 orang, bahkan lebih mencapai 500 orang (semuanya manusia), yang bukan manusia tidak terhitung jumlahnya (merinding mode on. Jangan-jangan semuanya peliharaan Andi Sahludin, sang sutradara muda penuh vitalitas bin kreatifitas yang menggawangi suksesnya pementasan malam itu).

 

Apa?! 300 orang? Yakin semuanya adalah penonton dari luar lingkaran? Maksudnya bukan dari teman-teman mereka sendiri? Orang-orang yang memang sengaja datang untuk nonton teater.

 

Saya perhatikan para penonton. Di antara mereka ada ibu-ibu yang membawa anaknya, ada pasangan suami-istri, juga para muda-mudi. Saya khawatir mereka semua seperti jejaring sosial. Tampaknya saja tak saling kenal namun sebenarnya  mereka terhubung dalam siklus saling keterhubungan. Mungkin saja ibu itu hadir ingin menyaksikan pementasan anaknya. Pasangan suami istri yang sudah berumur itupun hadir karena anaknya ada di atas panggung sana. Juga para muda-mudi itu, kalau bukan teman-teman kampus mereka sendiri, mungkin saja mereka adalah anggota kelompok teater binaan dari senior-senior Wasi Putih. Kalau ini benar, lantas mana penonton teater yang katakanlah bukan dari lingkungan mereka sendiri; lingkungan teater, kerabat, teman, dan keluarga. Adakah? Jika ada, berapa jumlahnya?

 

Analisa di atas memang kurang bisa dipertanggungjawabkan. Tapi bagaimanapun, teater banua kita atau kesenian banua kita secara umum, bersifat tak ubahnya sebuah komunitas belaka. Dari mereka untuk mereka. Dari kami untuk kami. Ya itu-itu saja. Ya mereka-mereka saja.

 

Mengkondisikan masyarakat yang haus akan minuman rasa kesenian memanglah sulit. Tidak bisa hanya dari para senimannya saja yang ngotot (urat leher sebesar ibu jari) tapi juga perlu kesadaran tingkat tinggi dari para petinggi pemerintahan. Mulai dari menyediakan fasilitas yang memadai, menyusun konsep berkesenian yang matang, membantu atau memberikan kemudahan demi kemudahan. Terpenting lagi adalah, pejabat mau datang dengan atau tanpa mobil mewahnya untuk nonton teater atau acara-acara kesenian lainnya. Kenapa?

 

Sebenarnya ada nilai lebih jika mau hadir ke taman budaya Kalsel. Tidak melulu nonton teater saja. Di sana Anda bisa lihat fakta tentang air yang menggenang di halaman taman budaya saat malam hari. Anda bisa melihat betapa senyapnya taman budaya yang konon tempat asah kreatifitas. Anda bisa lihat, dengar, dan rasakan banyak hal di sana.

 

Teater Komedi Wasi Putih

 

Dalam sesi kedua, Teater Wasi Putih menampilkan komedian yang membuat tubuh ini tak henti-hentinya bereaksi. Mulut tertawa, kaki menghentak ke lantai, seperti yang dilakukan juga oleh para penonton lainnya. Lucu gitu loh. Tak kalah dengan Opera Van Java! Swear!

 

Teater komedi yang diberi judul Tapuntalnya Sebuah Cinta besutan Adi Ridha Putra mengangkat cerita yang cukup sederhana. Ceritanya begini; ada dua keluarga masing-masing memiliki anak dan anak mereka tersebut ternyata saling menaruh hati (pacaran). Hubungan mereka itu terancam karena kedua orang tua mereka masing-masing melarang agar anaknya mencari pasangan di kampung sebelah. Padahal yang sudah terjadi adalah demikian. Tentu saja hal itu dirahasiakan hingga orang tua masing-masing pun tidak saling mengetahui siapa pasangan anak mereka sebenarnya.

 

Kenapa orang tua mereka melarang agar anaknya tidak mencari pasangan di kampung sebelah? Disitulah letak kunci teater komedi ini. Ternyata orang tua mereka, dari pihak perempuan yang ayahnya berstatus duda juga mencintai seorang wanita bersatus janda, ibu dari pihak laki-laki.

 

Ini semacam cinta yang rumit, cinta yang tak mau kalah, cinta yang serba salah. Orang tua mereka tetap bersikeras ingin menikah, bahkan sudah mengundang penghulu untuk meresmikan hubungan mereka. Di pihak lain, sang anak ngotot juga ingin menikah. Daur am…

 

Tapuntalnya Sebuah Cinta cukup diakhiri dengan kebingungan tanpa akhir. Jika itu terjadi dengan Anda, kira-kira apa yang akan Anda lakukan? Begitulah kira-kira pesan yang bisa saya tangkap saat menikmati pertunjukan teater dengan gaya open ending ini.

 

Tulisan ini tidak bisa mewakili semua yang terjadi di atas panggung kala itu. Bukanlah ceritanya yang menarik, tapi kreatifitas dan improvisasi para pemain – yang di luar dugaan – serta variasi-variasi yang disengaja – membuat pertunjukan malam itu sungguh ruar biasa. Saya mulai kecanduan nih…

 

Pulang ke Banjarbaru

 

Tubuh saya selalu kalah dengan angin. Tapi anginlah yang selalu mengabarkan tentang ingatan dan kenangan. Hari itu – Selasa, 7 Desember 2010 – ternyata saya belum mengucapkan selamat ultah ke teater Wasi Putih. Sekaranglah saatnya. Selamat Ultah buat Teater Wasi Putih.Horee…horeeee… Kalian adalah orang-orang hebat. Semoga teater Wasi Putih selalu bisa melewati hari demi hari dengan semangat yang tak kenal menyerah.

 

Lampu sudah kembali hidup. Pertunjukan pun usai. Janganlah semangat kalian redup, karena ini baru dimulai. [ ]

 

Salut 4 jempol ku sodorkan kepada beliau.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s