Pasukan Pemburu Seni Bagian I

Standar

Cerita ini bermula dari pengalaman yang kami alami dalam satu malam saja. Beranjak dari Martapura ke Banjarbaru dan kembali ke Martapura. Ya, itu lah kami reGenerasi Sanggar Ar-Rumi Pasukan Pemburu Seni. Begadang setiap malampun menjadi seni. Wah, jangan sampai deh kalau air Seni juga di seni-senikan. Yang penting berkesenian dalam hal-hal yang positif saja. Menyelam dalam seni sembari menanam benih kebaikan pada diri manusia.

 

Malam menjelma di pelupuk mata para penggiat itu. Suara jangkrik mangariau di telinga insani, memberikan rasa lelah setelah kami latihan teater di kampus untuk pagelaran malam seni di penghujung Tahun. Ya, begitulah. Membuka peluang kerja sama kepada salah satu media cetak harian terkenal di kalsel yang memberikan kami jalan untuk memperkenalkan seni kepada kalangan masyarakat kota intan.

 

Tubuh diselimuti letih tentu terasa. Kami ber-7 sebut saja Coger, 2Q, Sadang, japank, Chandra, Dewa, dan Nanda menemui sang Wartawan Radar Bapak Deny dirumah keluarga beliau di Tanjung Rema. Tentunya juga bersama ketua umum Sanggar beserta istrinya. Membicarakan hal-hal yang akan dilakukan untuk besok, hari-H, maupun sesudahnya. Dari perlengkapan, persiapan acara, hiburan, hingga Renungan. Semua dikonsep secara matang.

“aku berharap kepada kalian semua untuk meramaikan Martapura” kata bapak Deny memotivasi kami semua yang hadir agar tidak meremehkan acara ini.

“aku sebenarnya juga terlibat kepanitiaan malam itu di Vila Bunga’s. Malahan mereka dari pihak panitia mendatangkan artis ibu kota untuk acara tersebut. Namun hasrat hatiku ingin memeriahkan taman CBS dimartapura. Aku tidak terlalu menggubris (bahimat) mengurusi disana. Aku cendrung acara yang di Martapura ini.” semua mata tertuju kagum dan seperti menerima penghargaan dari sang maestro. Sejenak ku berpikir dan menafsirkan pendapat beliau, tentu saja ini tanggung jawab yang tidak kecil untuk Ar-Rumi, ini adalah suatu motivasi besar agar kami bermain total dan puas. Terima kasih banyak deh pokoknya atas partisipasi dan semangat beliau kepada kami khususnya dan Martapura pada umumnya. Salut untuk beliau yang sudah menyisihkan bahkan mengorbankan waktu untuk suksesnya acara ini.

 

Nasi sop ala Banjarpun sudah habis dilahap, walaupun sebagian dari kami tidak habis memakannya karena sebelum berangkat memang sudah makan malam. Tak apa sih, sekedar untuk tambah darah. Air bening yang dihantarkan dari ujung ke ujung pun sudah habis. Kerakungan puas seraya jebul asap rokok mengawasi perbincangan kami dimalam itu. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 23.00 wita. Segera saja kami berpamitang pulang dan kembali kesarang.

 

Jalan gelap penuh gelombang yang menjadi titian ban kuda besi mengiringi hingga ke sekre, sambil santai menikmati malam berbincang tentang seni. Setelah sampai kami berdiskusi tentang tempat yang akan dikunjungi lagi. Lagi.. Ya lagi-lagi taman Banjarbaru. Kenapa harus disitu. Mungkin itulah salah satu tempat yang memfasilitasi pelampiasan hati dalam berseni. Tak ada larangan. Tak ada aturan. Ya, bebas saja menyuarakan suasana yang dirasakan.

“Cari tempat nongkrong yang enak dong!, sambil ngopi.”

“kita ke posko seni saja, di Minggu Raya Murdjani.”

“oke.” kamipun memutar lilitan karet gas menuju Minggu Raya sambil bernyanyi.

 

Hawa dingin menyelimuti namun selalu saja takkan pernah mematahkan semangat kami untuk berseni. Walaupun hanya untuk bercengkrama saja. Pasti!, itu pasti kami lakukan dimana saja. Sesampainya disana. Langsung saja ku pesan kopi hitam buatan Bunda. Yang lain juga “batampah” minuman yang berbeda selera. Pesanan sampai kamipun mulai bercengkrama. Membuka bicara tentang malam tahun baru di Martapura. Sambil minum asap rokokpun menemani kami semua. Perbincangan yang memakan waktu namun menyenangkan bagiku.

“ah, chandra tertidur dilipatan tangannya.”

“ni anak mang ga kuat menggiring kita” jawa Coger.

“tu anak ga kuat nahan mata, ga kuat begadang kayanya.” jawabku seperti meremehkan. Waktupun berjalan. Minuman hangat dan dingin juga mendengarkan pembicaraan kami malam itu, sampai waku kian larut tak terasa.

“kenapa baru datang sekarang?, dah telat lo. Kan pak Ogi hari ini ulang tahun. Berbagai macam acara yang ditampilkan disini.” kata bunda sambil memberikan kopi yang kupesan. Wah, sayang kami tidak mengetahui sebelumnya. Andai saja mengetahuinya lebih awal. Pasti ikut nimburung tuh.

“pak Arsyad Indradi dan bang Ben masih ada disini lho!, nah itu mereka” seraya menunjuk kepada beliau. Sang maestro handal, penyair senior Banjarbaru. Senang rasanya ketika bertegur sapa yang ramah kepada sang sastrawan Tua yang eksis menulis hingga sekarang. Rasa salut kami kepada beliau.

“yah, masih ingat?, ini Ananda!” berusaha meyakinkan beliau.

“oh, ya, Ananda Rumi!” jawab beliau singkat. Terang saja beliau terburu-buru untuk pulang, mungkin karena waktu sudah terlalu larut malam. Tak apalah hanya sapaan singkat tetapi menyenangkan. Untuk apa aku banyak bicara. Beliau ingat itu sudah cukup. BERSAMBUNG..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s