Pasukan Pemburu Seni Bagian II

Standar

Ah, aku takkan berpanjang lebar membicarakan yang sudah lewat. Yang pasti sajalah, untuk hari ini. Sejenak ku menatap langit, lingkungan MGR dan sekitarnya. Sekarang sudah terawat, tak terlalu nampak gelandangan yang berlalu-lalang di sekitar sini. Kupandang lukisan-lukisan yang terpampang disana. Goresan pensil diatas kertas memberikan kekuatan jiwa merangkai talenta kreatif sang pelukis handal. Tak hanya mahir melukis, beliau juga kreatif dalam seni Airbrush. Beliau menaungi anak muda yang sering nongkrong diminggu raya untuk menularkan bakatnya dalam berkesenian apa saja. Bidang apa saja dalam kesenian yang memberikan sudut pandak positif dari kalangan orang banyak. Beliau adalah Hands Ranjiwa, Perupa Anyar di Sudut Minggu Raya. Rasa salutku dari dalam hati untuk beliau. Padahal ini bukan kali pertama aku bertemu beliau. Beberapa minggu sebelum ini pada suatu malam aku sudah bertemu dan berkenalan beliau, namun bodohnya aku, dasar bodoh.. Kenapa aku tak mengetahui hal ini. Beliaulah yang mengelola dan berkarya atas semua seni Rupa yang terpampang di Pos kecil mirip gardu ini. Wah, suatu kehormatan untuk beliau. Sejenakku berdiam, meminum kopi dan menikmati sebatang rokok, ku buka buku kumpulan cerpen karangan Hajriansyah. Seorang cerpenis asal Banjarmasin. Halaman demi halaman kubaca dan kuresapi tiap makna. Pas, pas sekali, sangat berkenaan dengan malam ini. Cerpen yang berjudul Lukisan Surga. Penulis menceritakan bahwa tidak mudah hidup dalam berkesenian. Apa lagi menjadi seorang pelukis, perjuangan yang gigih yang membawanya berkeliling Nusantara. Wah, asyik dong bisa jalan-jalan sambil berlibur!. Haha, bukan.. Bukan itu kawan keliling Nusantara untuk mencari jati diri. Hidup berkelana dalam seni. Aku sempat mengutip dan mengingat sedikit yang diungkapkan Hajriansyah dalam tulisannya.

“Aku sudah memikirkan, aku akan jadi pelukis saja, sepertinya profesi itu lebih mudah dibanding yang lain.”

“Lebih mudah bagaimana?”

“Ya, lebih mudah! Bayangkan hanya dengan memegang kuas kecil, coba bandingkan dengan tukang cat rumah dengan cat dinding yang kuasnya dan bidang garapannya lebih besar, pelukis bisa mendapat uang lebih banyak. Terus, waktunya tidak dibatasi, tidak dikejar-kejar tenggat waktu, dan bisa lebih banyak santai dibandingkan pekerjaan yang lain. Belum lagi kalau sudah punya nama, lukisan sebesar daun jendela bisa dihargai ratusan juta rupiah. Apa tidak enak itu!”

“Resikonya sudah kau pikirkan?”

“Resiko apa? Bandingkan dengan tukang cat rumah yang bisa saja terjatuh dari ketinggian dan patah tulang, atau persendiannya terpelintir. Apa pelukis punya peluang merasakan yang demikian? Kalau resiko, semua pekerjaan juga ada resikonya, tapi apa melukis bisa membuat orang patah tulangnya ketika bekerja, atau kena semprot atasan bertubi-tubi, atau terserang stress akut yang mendekati gila, seperti seorang pengusaha yang bangkrut dan dikejar-kejar penagih hutang?”

“Sepertinya benar juga, ya.”

“Ya,  iyalah. Belum lagi masalah modal lima ratus ribu bisa buat tiga sampai lima buah lukisan dengan ukuran sebesar daun jendela dan pintu. Dan kata temanku yang pelukis ternama itu, lukisan seperti itu bisa menghasilkan uang puluhan juta, hanya untuk pelukis pemula, apalagi kalau sudah senior. Bayangkan uang yang bisa didapat dari pekerjaan itu. Wah bisa cepat kaya aku.”

“Masa iya?”

Ah, kau ini. Percayalah kata-kataku; aku sudah observasi ke teman pelukis itu. Kau tahu kan, berapa minggu ini aku jarang dirumah, sebenarnya aku sedang melakukan observasi melihat-lihat kawanku itu melukis setiap hari aku ke sana, ke studionya. Kuperlihatkan bagaimana ia memulai melukis, dengan sketsa awal yang ekspresif. Kemudian ia mendasari kanvasnya dengan warna-warna gelap, katanya sih supaya terkesan lukisan itu berat, berbobot, baru kemudian ia memberikan detail-detail dan kontur untuk mempertegas objek. Dan terakhir, dengan memberikan finishing warna-warna yang cemerlang untuk memperindah dan menarik hati orang-orang berduit itu. Begitulah prosesnya lukisan itu menjadi indah, menjadi bernilai tinggi. Prestisius!”

“Wah hebat kamu, sampai bisa memperhatikan hal sedetail itu. Sepertinya kamu bakal jadi orang kaya, hidupmu prospektif. Wajamu, saja, sekarang sudah demikian bercahayanya, calon orang kaya.”

“Ha..ha..ha!”

“He..he..he…” []

Wah, tulisan yang sungguh dalam maknanya menurutku, salut deh untuk sastrawan Banjar yang satu ini. Pas banget nih, ngena banget menurutku dengan suasana di mala mini. Ketika kamu nongkrong di posko seni seorang pelukis. Namun hati bertanya-tanya, bagaimana pengalaman hidup beliau sebelumnya?, sudah menjelajah ke negri mana saja?, wah darimana ku dapat informasi itu?. Ku tutup buku dan seraya meminum the dan berpikir, selembar kertas yang terhampar mirip Koran, terang saja secara kertas ini adalah foto-copu dari salah satu Koran terkenal di Kalsel. Pas, tepat sekali. Apakah malam ini suatu malam keberuntungan?, di kertas itu tertulis jelas info-info tentang beliau sang pelukis handal Hands Ranjiwa. Langsung saja mata ini terpaku membaca dengan seksama. Tulisan sang jurnalis Abi Zarrin Al Ghifari, Banjarbaru.

Suatu titik terang menyulut dalam jiwaku,  seperti ruang gelap tak bersekat mendadak silau menerima hadirnya cahaya yang menerangi kegelapan tanda tanya. Dan akupun mengambil kesimpulan. Beliau yang tidak tinggi lebih dari aku ini bukan asli orang Banjar lo!, Lahir di Sumatera Barat dan menyelesaikan sekolah Seni Rupa di kota Padang, merantau ke Jakarta. Memang tidak mudah hidup dalam berkesenian, agama dan adat-istiadat dilingkunganya membuat hasrat seninya tidak memperoleh tempat di hati keluarga dan masyarakat setempat. Beliaupun bertandang ke Jakarta untuk bertarung mengadu nasib dalam kejamnya suasana ibu kota. Samapi suatu saat beliau disarankan rekannya untuk berhijrah ke Yogyakarta. Dan terang saja, secara Yogya memang terkenal dengan keramahan lingkungannya, teringatku akan kenangan ketika masih umuran SMP di Jogja, mengikuti orang tua karna tuntutan kerja orang tua, suasana damai yang kurasa disana takkan lekang dimakan oleh waktu, jalan-jalan yang indah, senyap, sampai-sampai aku menikmati perjalanan kaki seorang diri dari Baciro hingga keliling Malioboro. Bayangkan!, sendiri tanpa kartu identitas satupun yang kusimpan di saku aku menikmati perjalanan kaki tanpa beban tanpa perasaan bersalah. Hahaha!, ketikaku sampai dirumah sewaan di Baciro, Ayah dan ibuku marah-marah.

“Nanda, kenapa keluar gak bilang-bilang?, mama cariin kamu sampai ketoko buku seberang.” Secara aku memang suka baca sejak kecil, sampai-sampai sering duduk manis di toko buku seberang yang sering terhampar bebas dan luas.

“he, maaf mah, habis Jogja ramai namun tenang”

“kamu ini, tidak punya KTP, SIM, atau Identitas lainnya juga tidak ada, gimana kalau tersesat?, mau kembali kemana kamu?”

Memang, saking tenangnya suasana jogja. Hanya melewati jalan pintas bersama mereka berdua aku sudah mengingatnya, sepanjang jalan Maliboro ku jelajahi sendiri. Saking terkenangnya kios dirumah di Pelaiharipun terpampang nama Malioboro. He, semakin larut saja aku mengingat tentang pengalaman aku sendiri, ya sudahlah.. kembali ke benang merah.

Beliau~Hands Ranjiwa~ dengan berbekal ijazah akademis berkawan dengan seniman Jogja, jadilah ia seorang pelukis jalanan. Yang anehnya, kenapa beliau bisa terdampar di Minggu Raya? Beliau mengatakan baru 7 bulan berada di Banjarbaru ini. Berawal dari bekerja di salah satu pengembang perumahan. Beliau mengakui kalau bekerja di kantoran bukan pilihan, bekerja di dalam ruangan ber-AC membuatnya tidak betah, tetap saja beliau nyambi sambil tetap melukis sampai sekarang. Studio seni terbuka yang berada di sudut Minggu Raya ini mencoba, merekrut, dan menaungi anak muda yang sering mangkal di Minggu Raya agar menjadi generasi terarah dan menyalurkan tempat untuk mengembangkan bakat dalam berkesenian.

BERSAMBUNG..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s