Siapa Yang Menikmati Hasil Tambang?

Standar

Dunia perusahaan batu-bara, kayu, lahan, emas, dan yang berhubungan dengan pertambangan kian ramai digeluti para pengusaha-pengusaha. Usaha tersebut menjadi tolak ukur usaha sukses dan menggiurkan bagi semua kalangan. Hasil yang didapatpun cukup memuaskan, bahkan lebih dari cukup. Lihat saja para penambang-penambang atau yang lebih tinggi seperti perusahaan-perusahaan tertentu di Kalimantan, mereka mampu mengelola kekayaan hasil pengerukan isi perut bumi tanpa beban. Memang dirasa, kekayaan yang mudah pencapaiannya akan mudah juga hasilnya, namun kata-kata yang mengandung mutiara tersebut sudah tidak digubris oleh kalangan-kalangan yang senang menumpuk harta kekayaan tanpa memikirkan ataupun sedikit belas kasihan kepada masyarakat kehidupan sosial yang merasakan dampak buruk akibat pengerukan sumber daya Alam tanpa batasan ini. Tidak hanya dunia tambang saja, kendati perindustrian kayupun merajalela.

 

Gejala yang ditimbulkan dikalangan masyarakat hanya keluhan, tidak bisa berbuat apa-apa, toh juga tidak ada jaminan apapun kepada penduduk sekitar wilayah penambangan atau penebangan liar lahan. Mungkin hanya sebagian kecil dari sebagian besar saja. Pasalnya perusahaan-perusahaan yang mengelola kekayaan alam dikalimantan bukan lagi berasal dari orang banua sendiri. Seperti halnya salah satu PT di ibukota, tengah mengincar enam hingga tujuh kontark pengelolaan lahan tambang (kontraktor) di Kalimantan melalui anak perusahaannya di Kalimantan itu sendiri.

 

Hal ini membuat saat-saat dimana kita orang banua tidak lagi merasakan bukti kekayaan daerah sendiri kepada penghuninya, melainkan kenikmatan oleh orang-orang luar tertentu yang mempunyai hak kuasa. Jika tahun lalu kontrak exsisting yang tengah digarap ada sebanyak 12 kontrak, berapa banyak lagi yang akan dikelola mereka pada tahun 2011 ini.

 

Pemikiran para pihak yang terlibat sudah tentu enggan mengungkapkan bagaimana kinerja persoalan pada tahun 2009 silam, tahun 2010 yang telah lalu ataupun 2011 kedepan. Pihak perusahaan yang terkait bergabung selama 2 bulan saja, baru untuk tahun 2010 lalu bisa memproyeksikan dan berlanjut hingga 2011 kedepan. Selama tiga tahun belakangan perusahaan terkait menargetkan total overbuden removal sebanyak 897juta BLM, dan total produksi batu bara adalah sebanyak 111juta ton. Adapun sejak 2009 lalu kontrak yang dimiliki perseroan dan pihak terkait untuk overbunder removal 285juta bcm, sementara untuk produksi batu baranya sekitar sebesar 35 juta ton. Jika di tentukan dalam jumlah rupiah, berapa kenikmatan yang mereka dapatkan? Kemana orang kalangan awam membawa sejumlah uang tersebut. Namun apa yang didapat dari pihak yang tidak terkait? Seperti halnya wilayah-wilayah sekitar lokasi industri dan pertambangan, apakah Banjir? Bencana alam? Tanah longsor? penggundulan lahan? penyempitan lahan? Atau kesejahteraan?. Kita tidak perlu menjawab dampak negatif itu semua karena sudah transparant dan terlalu tampak oleh kasat mata.

 

Yang dirasa hanya keluhan-keluhan tanpa pertimbangan. Semoga saja setahun kedepan tidak hanya menyadarkan para pihak terkait tetapi bisa lebih memahami kondisi pertambangan yang memprihatinkan kian tahun. Tidak hanya kondisi bumi kita sekarang, tapi kondisi kumpulan manusia yang merasakan ketidak nyamanan. Mudah-mudahan 2011 menjadi tahun yang terarah dalam pengelolaan pertambangan, industri dan pemerintahan tentunya. (anandarumi@yahoo.com. Terima kasih kepada Ibu Hj. Lusiana Quswini, SH. M. Pd yang telah memberikan saya inspirasi untuk membuat tulisan ini. Juga okezone, detik, dan harian terkait, Radar Banjarmasin sebagai sumber pemikiran)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s