Selimut Dusta

Standar

Seorang wanita berparas muslim India selalu menemani komunikasiku di Ramadhan, Syawal, hingga sya’ban. Kadang bertanya kadang bermimpi, malam-malam tak lagi sunyi. Walau mata ini tak merasakan parasnya dengan melihat langsung, hanya sebatas perbincangan di jejaring sosial. selalu saja goresan senyum terukir di saat suaranya menggema. Hanya suaranya. Terkadang dengan penuh keyakinan kutanyakan, bagaimana rupamu sesungguhnya? Bukankah foto bisa menipu dengan segala kecanggihan tehnologi yang kian berkembang bak lajunya pesawat terbang. Biarlah waktu yang menjawab. Manusia hanya berencana, Tuhan jua yang menentukan. tentunya ada waktu yang tepat untuk kita bertemu. Ketika matahari mulai tenggelam, ketika matahari terbit, atau ketika matahari tak akan pernah terbit lagi. Waktu meniti dalam sucinya putih dan bersih Hari kemenangan sedunia. Cafe Abu-abu dengan lilin-lilin mungil di atas meja bertaburan pernak-pernik kaca halus menjadi suasana yang tak terbayangkan sebelumnya pertemuan pertama. Ya, pertemuan pertama. Pertemuan pertama yang akan ku buat begitu mengesankan. Pakaian serba hitam di kenakan. menambah aroma kepercayaan akan diri. Sesudahnya, di tempat yang diharapkan dan dia mencoba membuat telepon genggamku bergetar karena panggilan. Bukan waktu yg singkat untuk segera datang. dengan pasti yang penuh tidak keraguan. Ada hasra hati menaiki motor butut yang juga berwarna hitam.
Malam minggu. cafe selalu ramai di kunjungi orang-orang di daerah. Dengan cahaya lilin yang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s