Terima Kasih Para Penulis

Standar

TERIMA KASIH, Harie Insani Putra, HE Benyamine

Hanya ungkapan rasa ketika di kamar sendirian

‘Ini tulisan yang gagal untuk serius’, Harie Insani Putra

Hari sudah malam, bahkan bisa dikatakan dini hari. Ketika dia menanyakan waktu kepadaku.

“Jam berapa Nda?”

“Jam Satu kurang Sepuluh menit!”

“Wah, aku harus segera pulang, tontonan favoritku akan segera di mulai!”

“Apaan Kak?”

“Dunia Lain!”

Dengan muka penuh keyakinan sambil tertawa. Hehehehe… sayang, perbincangan kita berakhir sampai disini. Ah, obrolan yang sangat panjang dan menuai hasil pemikiran. Berawal dari proses penulisan, percetakan, penerbitan, hingga tentang Tuhan. Semakin malam semakin mengasyikan. Namun sayang kak, waktu membatasi pemikiran yang kita bagi malam mini. Ya, seperti kata pepatah yang sudah sering terdengar ‘Waktu jua lah yang memisahkan kita.’ Sesosok lelaki berperawakan kurus dan begaya rambut belah tengah telah meninggalkan kedai minuman yang menjadi saksi bisu obrolan kita berdua.

“Hati-hati Kak!” Sambil menghadap Kak Harie yang menunggang motornya sembari memberi perhatian.

“Yu, sama-sama!.” Motorpun melaju hingga hilang dari pandangan mata. Kamipun bergegas kembali ke tempat peristirahatan masing-masing. Secara, aku berangkat menuju tempat ini bersama sekompi pasukan.

Hampir jam Dua pagi. Setelah aku selesai cuci muka, membersihkan yang lainnya, dan melaksanakan kewajiban, ku persiapakan diri untuk sejenak beristirahat merendahkan diri, Rebahan. Aku ambil buku-buku Novel dan Cerpen ringan di dalam tas ransel hitam yang selalu ku bawa kemanapun pergi. Sepuluh menit sesudahnya. Ah, aku tak bisa berkonsentrasi mengikuti alur cerita. Apakah mungkin karena pengaruh kantuk yang di tahan? Apakah karena belum makan malam? Ataukah karena yang tadi ku perbincangkan di Kedai Minuman? Perutku keroncongan.

Aku bangun dari posisi telentang lalu duduk bersila. Sesaat kupandang rak buku yang terpampang di hadapan. Kunyalakan sebatang rokok sambil melihat judul-judul yang selalu ku baca sampulnya namun belum pernah ku baca isinya, dengan segelas air minum bening yang sudah ku sediakan, ku buka halaman demi halaman buku yang sudah aku pilih. Mmmmm… , tak mengerti. Hanya membaca namun tak menyimak. Sebatang rokok sudah habis, tetapi tak ada satupun yang menarik perhatian. Kembali ku pandang judul-judul yang tertera di rak dan berbicara pada diri sendiri.

Cara Cepat Menjadi Jutawan, Personality Plus, Windows, Personal Attraction, Emotional Behavior, Bla..bla..blablabla! aaaakh!.” Judul british yang kadang membosankan bilaku tak mengerti. Ku pindah pandangan ke Rak buku sebelah kanan dan mengabsent. Ah, kesannya seperti perpustakaan saja.

La Tahzan for Love, Jerusalem, Syekh Siti Jenar, Risalah Qusyairiah, Asbabul Wurud, Mencari Tuhan Yang Hilang, Raihlah hakikat ….. blablabla!”  hadoooowwh!, pikiranku semakin berkecamuk. Aku tak bias tidur kalau belum membaca sesuatu yang membuatku terlarut. Aku tumpuk beberapa buku yang sudah ku baca dan kembali menyalakan rokok. Hasrat hati ingin menyalakan tv, namun kesadaranku menegah “Kalau aku menonton tv, maka tak ada lagi perhatian untuk membaca buku.” Ku urungkan niat menonton tv dan kembali menyender.

Sepasang mata ini tertuju ke sudut rak. Tangan menggapai dan mengambil satu buku yang tertumpuk kertas-kertas HVS yang sudah tidak terpakai.

The Secret Attractor Factor, hmmm… buku lama yang tak pernah ku baca sama sekali. Tertera nama ‘Syahril Syam, Mind Programmer’ di cover, beserta foto narsis Si Penulis. Ku buka tiap lembar halaman dan…, ya, cukup menarik. Ku cermati tiap halaman “Resonansi, oke.” Pikiranku tertantang dengan pendapat Si Penulis, semakin banyak semakiun menarik. Akupun bersemangat mengikuti penjelasan Si Penulis. “Frequency Following Response, frekuensi?.” Hatiku bertanya dan memory otak berputar. Kak Harie! Bukankah kita tadi membicarakan ini tempo di kedai kopi?. Perasaan berkembang. Tiap halaman semakin asyik menjerat perhatian.

“Tingkat frekuensi otak, beta, alfa, teta, atau delta” lho! Kak Harie, Bukankah hal ini yang kita diskusikan tadi? Aku bertanya sendiri. Apakah ini suatu kebetulan? Semakin jauh ku melangkahkan jari ini, semakin cepat ku paham ketika menghubungkan dengan obrolan sebelumnnya dengan Kak Harie di Kedai Kopi. Semakin banyak halaman yang terlangkah semakin ku ingat dengan apa-apa yang sudah di lontarkan Kak Harie dalam penjelasannya. Wah, aku sangat senang sekali, bahagia, penjelasan Kak Harie sangat membantuku ketika memaham isi dari buku ini. Ah, saking kegirangannya, aku ingin mengucapkan rasa terima kasih dengan mengirim sms kepadanya, walau tak membaca sampai habis, aku sudah cukup senang dan paham. Namun ini sudah terlalu larut malam, mungkin smsku akan mengganggu waktu istirahatnya. Aku harus segera berterima kasih bagaimanapun caranya. Berpikir..berpikir..berpikir.,. hmmmm, seperti serial kartun 3D Jenius yang biasa d Global Tv itu. Ku tutup buku dan log in akun facebook di Software OperaMini hape. ‘Harie Insani Putra’ nama akunnya. Ah, nanti saja. Aku update status dulu ah! Yang berhubungan dengannya, berharap Kak Harie membaca dan kirim komentar ke statusku. Status selesai ku tulis dan ku publish. Namun yang terlihat….

‘Status anda terlalu panjang (maksimal 420 karakter)’

Oh, shit! Sudahlah. Tak jadi aku update status. Biar ku tulis di catatan facebook akunku dan kubagikan ke akun Harie Insani Putra.

Tulisan selesai. Siap di terbitkan di Beranda. Huft, aku berharap semoga saja tidak terjadi kesalahan server seperti hari-hari sebelumnya ketika aku menulis cerpen-cerpen jelek karangan sendiri. Manakala kasus server yang memutuskan dan menggagalkan koneksi sambungan di hape membuatku kesal. Ya, maklum saja! Secara aku tak punya laptop untuk menulis gampang, aku tak memiliki handphone mahal yang memudahkan pengetikan atau penulisan dan menyimpan dengan kapasitas besar. Aku hanya mempunyai satu unit hape lusuh denga casing patah namun memfasilitasi jaringan internet. Selalu dan hanya dari si mungil  super kecil ini yang ku manfaatkan membuat karya tulisan. Ah, aku mulai berpraduga! Bersangka buruk! Su’udzhon! Loading semakin lama semakin mematung. Dan yang terjadi…

 

‘Gagal menghubungkan ke internet.                                                                                                                                      Java.lang.SecurityException: Permision Denied

Klik di sini untuk memulai uji koneksi                                                                                                                                   coba lagi.

Aduuuuuh Sialan!!! Si Si Doel Anak Betawi Asli. Kesal, kecewa, hampir marah, ku sudahi dengan senyuman simple. Ya sudahlah, mataku sudah tak bisa lagi diajak  kompromi. Ku rapikan segalanya dan bersiap memejamkan mata. Hari yang akan menyibukkan telah menungguku beberapa jam lagi. Melelahkan, karena harus melaksanakan tanggung jawab mengantar undangan-undangan ke tiap sekolahan  untuk mengikuti Lomba Puisi Bahasa Banjar Se-Kabupaten Banjar. Aku rebahkan diri dan  teringat Kak Harie. Ku berniat dan berkata dalam hati.

“Kak Harie, terima kasih segala pemikiran Anda. Dari pertama perbincangan kita di manapun, kapanpun, selalu menjadi pelajaran  dan memotivasi diri saya agar giat menulis, apa saja ‘Tulis… tulis… dan tulis. Dan jangan pernah bertanya apa yang harus kau tulis. Tapi, tulis! Ya, Kak Harie memang Penulis. Saya mengerti itu.

Sejenak merenung dan flashback ke malam-malam sebelumnya. Aku teringat dengan perbincangan bersama Bang Ben, HE Benyamine. Kata beliau “Orang yang menulis sudah tentu suka baca. Namun, orang yang hanya membaca, belum tentu suka menulis.” Kata-kata yang sangat erat melekat di sudut memory otakku. Ya, Bang Ben benar. Tentu karena banyak baca menjadikan hasrat seseorang ingin menulis. Tetapi, kadang ku bingung! Dimana harus memulai dan kapan mengakhirinya.

Kak Harie, nanti saja ungkapan terima kasih untukmu. Demikian pula Bang Ben, yang selalu memberikan pencerahan pemahamanku tentang  sosial masyarakat dalam tulisan esainya. Hari esok akan ku mulai dengan kertas Putih dan pulpen Hitam. Sebagaimana Arsyad Indradi dan Hamami Adaby memulainya dulu ketika Tahun 70’an. Ku pejamkan mata dan mulai berdo’a…

“Bismikallahuma ahya, wabismika amut” []

 

*(Saya persembahkan tulisan ini sebagai rasa terima kasih kepada pembimbing dalam perbincangan Kalian dan Anda semua ketika di Kedai Minuman. Para pembaca yang Budiman. Senang rasanya walau hanya bisa membuat kalian tersenyum kecil, apalagi tertawa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s