Ah… Sungguh Nikmat Aroma Kamar Mandi (Part I)

Standar

Sudah tujuh belas hari ini aku tak mandi. Mungkin sangat jarang ada pemuda yang mau bergelut dijalanan yang kesehariannya berkeliling kota demi sebuah berita. Pun kalau itu ada, pasti tidak betah layaknya orang gila yang acak-acakan dalam menulis berita sepertiku. Terkadang hari-hari dilalui dengan hanya berdiam diri di dalam kamar segi empat yang ukurannya hanya sebesar kamar mandi. Di ujung dapur pula. Aku tak habis pikir dengan pendapat seorang sahabat yang sangat mengidam-idamkan rumah mewah. Berlantai belasan. Beralaskan permaidani mahal dari india. Toh itu hanya sekedar dimata saja. Walau demikian tidak sedikit rakyat besar yang berebut tahta kerajaan, bersengketa, melemparkan kursi, meja, mikrophone, sendal, sepatu, demi Gedung tinggi yang mirip gapura. Ah, itu hanya persoalan perut semata. Demikian kuatnya orang gila yang duduk dikursi empuk sana rela bersilat lidah demi mainan mewah. Mobil mewah, rumah mewah, handphone mewah, sikat gigi mewah, sabun mewah, mandi mewah, berak mewah, atau sampah mewah. Semua hanya karena cinta mewah. Aku mulai keluar kamar dan berburu hal-hal yang berbau berita. Demi kepentingan publik semata. Tanpa pamrih. Dan memang harus begitu. Mungkin.

Siapa yang ikhlas menerima pekerjaan seperti ini. Setiap harinya menenteng kamera pinjaman dengan catatan kecil bersenjatakan bolpoint dan nongkrong disetiap sudut kota ketika ada acara. Bahkan selalu dituntut ada acara yang di ada-ada walau tak ada. Demi berita. Terkadang juga. Aku merasa teriris dengan ocehan rekan pewarta foto terkenal di jawa pada salah satu jejaring sosial malam itu. “Di Gajih berapa kamu kerja disitu?” aku tak harus menjawab karena aku sudah menerka apa yang akan dia jawab ketikaku jawab. “Kamu bodoh Lin, itu bukan pekerjaan, tapi pembodohan manusia?.” Dia hanya bercanda. Tidak serius. “Orang bilang pekerjaanku ini namanya freelance bro?” jelasku kepadanya dengan nada canda. “Kentutmu kambing! Sudahlah, tinggalkan saja freelance Bullshitmu itu. Mending kau cari pekerjaan yang lebih nyata. Hidup perlua uang sobat!” katanya dengan nada tinggi dan langsung menutup obrolan. Lupakan saja kawan. Manusia itu kadang besikeras dengan Idealismenya masing-masing. Tidak selalu rekan seprofesi membuahkan pendapat yang beraroma Mutualisme bukan?

Hari ini. Aku berjalan. Dikala hujan. Tanpa kendaraan. Tapi tetap dalam tekat yang paling dalam. Bayangkan saja. Sejenak terbayang, melilit diatas kepala. Sudah tujuh belas bulan tujuh hari aku jalani titian bahasa koran yang seperti sampah. Lebih tepatnya tak ada penghargaan. Memangnya ada peraturan tulisan itu dihargai? Dihargai berapa? Ya, seharga koran itu. Tidak juga. Nasibnya akan berakhir seperti alas orang-orang bersujud dihari raya. Atau jadi pembukus kacang dipinggir jalan. Padahal, dia mendapatkan susunan kalimat berita itu dengan proses waktu. Tentunya. Dan juga tenaga. Yang terbuang sia-sia. Kerugian fisik yang berbau gosong karena tersengat terik matahari. Asap, polusi udara, debu, nyamuk, pusing, darah tinggi, kangker, ginjal, mimisan, berminyak, jerawat, bau busuk, bau keringat, aroma keju, Berdarah-darah. Dan kadang marah. Jikalau hujan. Aku rela basah-basahan. Demi tulisan penuh harap cemas agar diterbitkan.

Hidup itu memang bukan pilihan sulit kawan. Tapi semua tau hidup yang benar tidaklah mudah. Rela tak mandi bukan karena hobby, melainkan karena kedaaan situasi yang dikebiri.

Tadi malam, salah seorang redaktur dikoran terkenal itu berbicara. “Lintang, aku ingin menaikkan namamu! Cari tentang perselingkuhan anggota dewan yang terjadi di lokalisasi!” Pintanya. Apa? Tidak salah pak. Bukankah ini tugas para jurnalis senior. Bukan pemula seperti saya. “Bila tulisanmu berhasil terbit di halaman depan. Kamu langsung di angkat menjadi pewarta tetap disini.” Bak dijatuhi tujuh puluh tujuh buah delima, mangga, alpukat, semangka, jeruk, strawbery, nenas, melati, anggrek, dan mawar. Sudah seperti taman bunga dan buah-buahan saja teras hatiku sekarang. Ya, ini yang ku impikan. Menjadi jurnalis tetap di koran terkenal ini. “Baik pak, akan saya laksanakan.”

malam ini. Sama saja seperti sebelumnya. Jalan yang sama. Tehnik sama. sudut yang sama. Bau yang sama. Kecuali misi dan rasa. Tepatnya komplek kecil di seberang sana. Orang bilang kupu-kupu malam. Sungguh cantik gelar itu didengar hingga menjadi judul lagu. Aku berjalan. Menyamar menjadi pelanggan. Perek mana yang tak tertarik dengan pemuda 27 tahun berhidung mancung, beralis tebal, berperawakan tinggi, dan metropolis. Bisa dibilang jurnalis narsis.

Pada suatu rumah yang tidak bisa dikatakan mewah. Beratap rumbia dan dengan kursi-kursi panjang diteras. Seperti warung remang-remang tipenya. Aku duduk dan memesan sebuah kopi hitam.”Dari mana mas? Keliatannya necis bener.” katanya menyapa sembari menggoda. Kadang rok pendeknya diangkat agak tinggi. Lalu mengantarkan kopi dan menunduk rendah dihadapanku. Terang saja seonggok daging yang terbelah sangat nampak seperti berebut..

to be continued.

2 thoughts on “Ah… Sungguh Nikmat Aroma Kamar Mandi (Part I)

  1. WithHeart

    ‘berak mewah, atau sampah mewah’
    Akh saya pikir itulah cermin orang-orang yang salah arah…..

    “Nasibnya akan berakhir seperti alas orang-orang bersujud dihari raya” Andai saja….

    Ini justru lebih baik dari pada jadi gelaran untuk duduk. Di Hongkong karena koran gratis, mereka sengaja ngambil banyak untuk alas selonjor, setelah jadi tak berbentuk langsung masuk tempat sampah. Gak peduli banyak pembaca yang gak kebagian. Mungkin lebih asik kalau jadi bungkus tempe atau kacang rebus, meskipun setelah itu sama aja menghuni tong sampah, tapi lumayan sudah berguna.

    Nice, realistis banget nih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s