Belum ada judul

Standar

Dia bertanya pada bulan, matahari, bintang, malam, siang, tumbuhan, penduduk bumi dan pada semua binatang yang bertutur.
rentetan dedaunan yang dililit oleh tumbuhan belukar tak mampu melepas jeratannya. Ini akan terasa sangat lama baginya untuk berkebun kasih.
Apa itu kasih? Ah, semua hanya omong kosong. Sudah terlalu sering aku membaca atau mendengar tentang kasih. Semua hanya sebatas mulut dan pendengaran saja. Aku tahu, cinta yang hakiki hanya kepada yang Maha Kuasa. Namun, bukankah karna kekuasaannya yang menanamkan rasa cinta di setiap jiwa makhluknya. Semua hanya tinggal bagaimana makhluk itu menggunakan cintanya.
Menarik nafas panjang melepas hujan menyambut kemarau. Mungkin belum musim yang tepat untuk menanam benih cinta. Namun, selalu ku coba.
Aku bukan pemimpi atau lelaki yang suka berharap. Bukan! Itu sungguh bukan diriku. Tapi, kali ini kehadiranmu justru mengkhawatirkanku. Aku mulai bersikukuh menggemburkan tanah putih ini dan menanam huruf demi huruf hanya karena kamu. Ku pelajari tentang tanaman-tanaman yang sempurna dari petani-petangi huruf sesuai dengan bidangnya. Wah, semakin luas saja ladang ini.
Harus ku akui, kali ini aku menyalahi. Menyalahi apa yang sudah aku yakini dalam hal pemimpi. Aku mulai berharap.
Semoga, tumbuh-tumbuhan yang aku tanam berbuah cinta yang manis rasanya. Tanaman yang ku tanam berdaun hijau segar suasananya. Ketikaku tersesat di kebunku sendiri. Berikan mata angin yang menuntunku ke dalam perhatianmu. []

Mtp, 22 Desember 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s