Jilbab Merah Muda Bagian I

Standar

Burung berkicau dikala mentari pagi mulai membuka selimutnya. Harumnya embun mulai menerawang masuk dari jendela kamarku. Dingin sekali pagi ini. Suasana perkampungan yang tak asing bagiku. Aku harus beranjak bangun dah bersiap menuju kamar mandi.

Waktu menunjukan pukul delapan. Ah, aku hampir terlambat ke kampus. Hari ini adalah mata kuliah favoritku. Segera bergegas menuju kampus.
“Yank, kamu dimana?” sebuah pertanyaan sms yang masuk di hapeku. Hmmm, dari kekasihku.
“On the way menuju kampus. Sabar sayang!”
“Hati-hati dijalan ya sayangku. Aku nunggu kamu!.” hmmm. Memang pacar yang penuh perhatian. Sudah delapan belas Bulan ku menjalin hubungan dengannya. Dan semua lancar-lancar saja. Seorang wanita berparas cantik, berjilbab. Dan… Akh, aku takkan pernah bisa menuangkan kekagumanku padanya.

Terik mentari mulai menghiasi suasana. Mahasiswa dan mahasiswi mulai berhamburan dan menuju kantin. Aku hanya duduk di dalam kelas dan menyimak bahan yang sudah di berikan dosen. Isna, pacarku yang duduk di pojok sebelah kanan kelas datang dan menyapaku.
“Sayang! Kamu sudah makan?”
“Sarapan udah yang! Tapi makan siang belum!”
“Makan ke kantin yuk! Bareng aku seperti biasa!”
“Ah, kamu aja deh yank! Aku makan di kost aja ntar kalo dah pulang! Hemat beibh”
“Sayang! Ko gitu sih! Tenang aja aku yang bayarin kok!”
“Jangan yank, gak enak lagi, kamu dah terlalu sering banget traktir aku!”
“Udah ah! Yuk”
aku tak bisa mengelak lagi ketika dia menarik tanganku dengan paras manja. Huh, memang berat. Berat kalau aku tidak menuruti kemauannya. Memang, dia anak seorang pengusaha batubara di daerah Amuntai. Walau aku hanya seorang anak Pengusaha Kayu di Sungai Danau, toh jatah bulanan aku kalah banyak dengannya. Kota Banjarmasin menjadi saksi bisu kami menjalin kasih. Dimana aku sering menghabiskan waktu bersamanya.

Satu bulan berlalu. Entah kenapa aku merasa dia makin sulit ku hubungi. Aku mulai berprasangka buruk kepadanya. Jangan-jangan! Jangan-jangan! tidak! Ini hanya perasaanku saja.

Malampun tiba. Sudah seharian penuh aku berasama dengannya. Di tambah lagi media cetak dan elektronik penuh dengan berita Briptu Norman Kamaru. Brimop yang namanya melejit dari video gilanya di Youtube. Untung sekali dia, sudah berapa juta di kantonginya hasil dari panggilan-panggilan dari dunia entertainment. Sekarang Bollywood semakin marak dan mendadak laris dipasaran. Kembali, dan terulang kembali seperti dulu waktu zaman “Kuch-Kuch ho ta Hai” berjaya. Sahrukh Khan, nama Aktor Bollywod yang ditirunya. Ah, Aku jadi kekasihku yang sangat kucinta, karena dia mengidolakannya. ku tertawa dan tersenyum sendiri ketika mengingat masa-masa dimana kita saling berbagi sayang! Lucu sekali ya. Ingatkah dulu waktu kita belum jadian. Pertama telpon-telponan dan belum ketemuan? Ingatkah kau sayang? Waktu itu kau mengatakan apakah aku penasaran dengan rupamu? Ya, tentu saja. Kaupun menjawab “Kalau mau lihat aku, coba deh lihat Kareena Kapoor!” akupun tersentak. Terkejut. Masa iya? Secantik itukah kamu? Aku belum percaya sepenuhnya. Tapi, aku salut dengan kepercayaan dirimu. Dan dikala kita bertemu dan… Ah, aku tak bisa berkata-kata lagi. Terus terang, aku memang terpesona dengan kecantikan Indiamu layaknya Kareena Kapoor yang berjilbab. Dan kaupun sangat menyukai Shahrukh Khan bukan? sejenakku menarik nafas panjang. Serentak ku berpikir sehat. Wanita cantik sepertimu, tentu banyak lelaki yang menggilaimu. benar saja, aku harus mengalahkan beberapa kandidat yang berusaha keras mendapatkan cintamu. Ah, sudah lah! Aku jadi terlalu mendramatisir keadaan. Ku coba tuliskan apa yang ku rasakan sekarang.

Aku Rindu, dia Rindu, mereka rindu, ah, rindu itu merindukan mereka-mereka yang rindu kepadamu dikala rindu kepadaku. Namun aku rindu kamu tak seperti rindu mereka. Demikian pula rindu yang mereka rindukan kepada rindu. Ya, rindu itu rindu mereka!

Keesokan harinya, aku berjalan menuju kampus tercinta. Tak ada kabar dan ucapan selamat pagi darimu sayang. Aku mulai gelisah. Kamu tak masuk kuliah hari ini. Kenapa kau mulai terbiasa menonaktifkan handphone tanpa sepengetahuan dan izinku. Aku mulai berprasangka buruk.

Waktu keluar tiba. Jadwal kuliah pekan ini sudah habis. Rio, Rekan main Bandku sekampus mengajak latihan Band di Studio biasa. Okelah, sembari menenangkan pikiran, dan ke khawatiran kepadanya kekasihku. Aku berangkat menuju Studio.

Kami berempat, Rio, Andre, dan Kiky telah sampai di Studio. Rio Drummer kami yang bersolo Ria mulai menghentakkan suasana. Sejam bersama kami lewati dengan fun dan penuh keringat. Wajar saja. Kami selalu bermain dengan jingkrak-jingkrak. Walau tak pernah main di panggung. Berlagak saja seperti band-band papan atas.
“Malam ini, ada rencana kemana kamu An?” Tanya Rio kepadaku.
“Belum tau nih bro, aku bingung?”
“Tumben, biasa khan kamu ngajak Isna? Mana tuh, pacarmu orang India yang kearab-araban gitu!”
“Ah, kamu Ndre… Jangan berlebihan. Aku bingung. Sejak tadi pagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s