Jilbab Merah Muda Bagian II

Standar

Handphonenya tak pernah aktif lagi”
“Wah, dah jelas tuh. Pasti Isna selingkuh, hahaha!” ungkap Kiky mengejekku.
“Hush, kiky… Kamu ngomong gak pake saringan yah!” Timpal Andre.
“Kenapa? Apakah ada yang kalian sembunyikan dariku?” aku bertanya kepada mereka berempat.
Dengan langkah santai, Rio mendatangi dan duduk di sebelahku.
“Bro, jujur kali ini aku benar-benar melihat Isna jalan dengan cowok lain. Dengan mata kepalaku sendiri”
“Ah, itu karanganmu saja. Bukankah sudah terlalu sering kau ungkapkan hal seperti ini kepadaku”
“Dan kau selalu tak percaya bukan?”
“Ya jelas aku tak percaya. Isna mencintai aku. Dan akupun mencintainya. Dia tidak mungkin mengkhianatiku.”
“Percayalah, kali ini aku benar-benar melihatnya dengan cowok yang tidak lain adalah teman kamu di kost sebelah”
“Hah? Apa maksudmu”
“Iya An, mungkin kau sudah bisa menebaknya” kata kiky menimpali.
“Tidak mungkin! Itu tidak mungkin” jawabku dengan nada tinggi ketika berdiri.
“Tak ada yang tak mungkin sobat. Apalagi dengan wanita berparas cantik seperti pacarmu itu”
“Aku tak percaya!” jawabku singkat.
“Terserah, aku cuma mengatakan yang seharusnya ku katakan”
“Kita lihat saja nanti!” jawabku. Kikypun datang dan menepuk bahuku dan berkata.
“Begini saja sobat. Jika Andre Benar, kami akan traktir kamu Dugem di Athena malam ini. Malam minggu bro… Happy… Happy!” dengan tawa liciknya.
“Oke. Aku terima. Tapi jika salah, maka Band kita BUBAR!” ungkapku penuh emosi.
“Hei, Kamu dah gila An? Apa hubungannya Band kita dengan percintaan kalian? Kamu adalah aset terbesar kami, tanpa kamu Band kita tidak akan maju!”
“Tentu saja kita bubar. Karna dia lah yang telah memberikan Inspirasiku lewat lagu-lagu kita yang sudah tercipta”
“Sudahlah friend, jangan dimasukan kehati… Lupakan perkataan Rio” bujuk Andre kepadaku.
“Fine, tapi taruhan kita masih berlaku!”
“Taruhan yang mana An?”
“Jika perkataan Rio benar tentang Isna, aku terima tawaran kalian. Tapi jika Salah. Maaf mungkin tadi kali terakhir kali kita ngejam bersama. Deal?”
Mereka bertiga saling pandang satu sama lain.
“Dasar kamu keras kepala An. OK. Deal! Aku terima tantanganmu” dengan senyuman jahat ku tinggalkan mereka. Kiky mendatangiku dan memintaku untuk membatalkan kesepakatan barusan. Hmmm, tidak bisa, tak ada dalam kamusku membatalkan janji. Kiky pun memohon agar dia ikut nebeng dimotorku menuju kost. Okelah, aku berdua beranjak menuju kost.

Jalanan yang lumayan basah akibat curah hujan yang akhir-akhir ini selalu mengguyur kota Banjarmasin. Hal inilah yang membuat Banjir melanda kampung-kampung yang dekat dengan sungai. Air meluap tanpa jeda. Kasihan orang-orang di luar sana yang harus mengungsi beserta sanak saudaranya. Mana peran pemerintah sebagai wakil rakyat yang memperhatikan hal ini. Mereka hanya mengurus kepentingan pribadi. Buktinya, gedung DPR yang berlantai 18 tetap akan dibangun. Bukankah mubazir. Mana penanggulangan bencana oleh pihak mereka kepada rakyatnya yang membutuhkan pertolongan. Mereka hanya duduk-duduk, On-line, dan bersantai menonton hal-hal yang seharusnya tidak perlu di perlihatkan terhadap kalangan mereka. Skandal anggota DPR yang tertangkap basah oleh kamera pewarta foto salah satu media. Anggota DPR, Kok malah nonton Bokep di tempat kerja! Mau dibawa kemana akhlak negri ini, kalau wakil rakyatnya seperti itu, bagaimana rakyatnya? Ya, kesadaran memang perlu. Untungnya budaya malu masih ada di negri ini sehingga beliau rela mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wakil rakyat. Baguslah kalau begitu, salah satu penjiwaan besar yang ditampakkannya.

Hari sudah cukup reda. Aku mulai mengayuh motorku menuju kost yang berada tak jauh dari gedung Sultan Suriansyah. Sepanjang jalan yang basah dan banyak air yang menggenang di jalan raya. Sepertinya dampak negatif dari penebangan liar memang sudah sangat transparan di kalangan masyarakat yang merasakannya. Perlahan tapi pasti, tikungan pertama kulewati, melintas sebuah matic berwarna putih dari seberang. Lelaki itu, ya aku mengenalnya. Eman, Mahasiswa Jurusan Ekonomi yang tinggal di kost sebelah. Aku hanya pernah bertegur sapa ketika bertemu di Galaxy Bilyard. Selanjutnya memang tak ada tegur sapa yang terlalu berlebihan antara kami. Tapi, Wanita yang dibawanya? Aku seperti ingat perawakannya! Tak asing bagiku? Siapa dia? Motor itu melintas di sampingku. Sejenak perlahan tanpa helm dikepalanya. Tak ada pandang yang menyapa. Dengan cewek yang memeluknya erat. Rambut lurus cewek itu terurai panjang akibat hempasan angin. Dan… Aku mulai berprasangka. Dengan iseng aku menyapa tinggi. “Hei!” sekejap wanita itu berpaling dan…
Astaga! Brengsek! Betapa terkejutnya aku. Segera ku mengerem mendadak dan mengacungkan telunjukku kepada Isna. Pacarku, dia… Bangsat! dengan emosi yang mendadak meledak sambil kutunjuk dia yang mulai jauh dari pandanganku sampai hilang dari penglihatan.

Diruangan kamar yang berhambur. Seonggok pakaian kotor, sepasang foto, dan serentetan poster ku hamburkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s