Jilbab Merah Muda Bagian III

Standar

Dengan perasaan kesal aku mulai memukul-mukul dinding kamar. Kiky yang sedari tadi di depan pintu segera masuk dan memegangi kedua tanganku sembari menasihati.
“Sudah An! Sudah! Kamu tak bisa menyelesaikan masalah dengan cara seperti ini”
“Lepaskan aku ky. Lepas! Aku sudah muak. Dia sudah menghancurkan perasaanku! Dia mengkhianatiku ky! Dia sudah mengkhianatiku! KEPARAT!”
“Sudah! Cukup An. Suaramu bisa mengundang suara orang sekampung datang kesini!” aku termenung sendiri. Dengan rambut acak-acakan, dengan perasaan kesal, air mataku bergulir di kedua pipi. Perasaan sakit di hati yang mengikis kondisi kejiwaan. Aku seperti tak ingin hidup tanpa perhatian darinya. Kiky mulai mengeluarkan handphonenya dan menghubungi teman-temanku yang lain. Aku sudah tak bisa berkata-kata. Hanya menangis penuh perasaan luka.
“Sudah An. Sabar. Kuatkan dulu hatimu! Jangan menangis dong. Kamu tidak malu denganku wanita yang ada di depanmu sekarang. Cowok kok cengeng. Gak gantle lu!”
Sialan. Aku bergumam dalam hati. Kiky memang wanita, tetapi Berkelakuan dan berpakaian layaknya laki-laki. Mempunyai suara bagus dan pandai memainkan gitar. Aku menatapnya tajam dengan penuh benci.
“Whehehe. Santai bro! Jangan marah ya. Aku cuma bercanda. Sebentar lagi Rio dan Andra datang kemari” Ungkap Kiky kepadaku.

Tak lama kemudian. Kiky yang meninggalkanku ke seberang jalan, datang membawakanku sekaleng minuman dingin.
“Tuh, Buatmu An”
“Apaan nih?”
“Kamu mau minum tidak? Tak suka? Ya sudah, buatku saja!” masih sempatnya dia mengajakku bercanda dikala kekalutan sedang melanda hati ini. Aku paham maksudnya. Ia ingin menghiburku. Beberapa saat setelah minum. Aku mulai lega. Aku menyapu perlahan air mata yang membasahi mukaku. Sambil menyandarkan diri di pintu lemari baju. Bayangan itu kembali melintas dipikiranku. Rasa sakit dan sungguh sakit ku rasakan. Mungkin inilah yang dinamakan sakit hati. Aku jadi ingat lirik seorang almarhum “Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati!” kiky mengambil sebatang rokok dan menyalakannya di hadapanku.
“Ini, Untukmu!”
“Tidak, Terima Kasih Ky.”
“Kamu tak ingin mencobanya? Merokok itu dapat mempercepat kinerja otak dan melepaskan stress tau nggak!”
“Sudah setahun lebih aku berhenti. Aku tak pernah mencobanya lagi”
“Ya coba lagi dong!” dengan perasaan ragu, ku ambil satu batang rokok yang sudah dinyalakakan itu dari tangannya. Diapun menyalakan sebatang lagi untuknya sendiri. Tak lama kemudian, Rio dan Andra tiba dikamarku. Dengan nada mengejek mereka mentertawakan keadaanku sekarang. Muka yang basah karena air mata dan keadaan yang suram. “Hei, kenapa kamu Bro? Habis ngiris bawang ya? Hahahaha!” aku hanya memandang tajam dan menikmati sebatang rokok yang ditangan. “Aku sudah dengar cerita kiky barusan di telpon. Kita berangkat yuk!” bujuk Rio kepadaku. Aku terdiam dan berpikir sejenak. “Mau kemana?” Tanyaku. “Hello! Bukankah kita sudah sepakat bro?” aku terengah dan mengingat kembali. Mereka akan membawaku ke dunia gemerlap malam yang tak pernah sekalipun ku jejakkan kaki disana. “Ayolah An! Kitakan sudah sepakat. Tepati janjimu. Ya, hitung-hitung merayakan band kita yang gagal bubar, kan?” Dengan lemah gontai aku mengangguk. Mereka bersorak. Entah karena apa? Aku tak tahu. Mungkin karena telah berhasil membujuk rayuku setelah sekian kali gagal. Aku tak bisa berpikir jernih lagi. Perasaanku hancur. Hatiku remuk akibat ulah Isna yang mengkhianatiku. Waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Mereka beranjak. Aku hanya terdiam dan bingung apa yang harus dilakukan. “Aku pakai baju apa ya?” Tanyaku. Mereka saling pandang dan tertawa. “Hahaha, dasar An… An! Pakai baju dinas bro, kita akan ada pertemuan resmi dengan anggota DPR di dalam sana!” Brengsek. Mereka mentertawakan seraya mengejekku. Aku tak tahu harus membalas dengan cara yang bagaimana. Biarlah berlalu.

Udara dingin menusuk pori-pori. Malam mulai memberikan suasana gerimis. Padatnya kota Banjarmasin membuat perjalananku terasa lama sampai ketujuan. Sangat terasa. Kurang lebih tujuh belas menit, Hotel Banjarmasin International sudah terlihat jelas dihadapan. Parkiran penuh. Mungkin karena ini adalah malam Minggu. Tidak hanya dari kalangan pemuda, melainkan tak sedikit sopir truck batu bara yang parkir disana. Aku tak tahu, entah karena urusan bisnis atau melepas stress dalam gemerlap dunia malam. Ada juga mobil berplat merah yang kulihat. Aku mulai berprasangka. Apakah mereka datang karena urusan kantor di balroom? Hotel? Pub? Atau Discotheque? Ah, pikiran berkecamuk. Aku tak ingin berpikiran buruk. Ku berjalan bersama mereka memasuki lift dan menuju lantai lima. Welcome The Athena .

Ruang segi empat yang gelap. Pekat. pengak. Penuh asap rokok. Aroma alkohol dan bau badan. Mataku memerah akibat polusi udara dalam ruang gelap ini. Gelap. Hitam dan sesak. Hanya kilauan cahaya lampu sorot warna yang membias siluet para kepala dan perawakan penikmat malam yang tampak pada kasat mata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s