Lefilia Bagian II

Standar

Semangat menjalankan tugasnya. Berbekalkan alat tulis dan kamera.Berlagak laksana pecinta alam. Dengan lilitan selembar kain di kepala. Lefi mendaki. Rentetan pepohonan. Tanah yang mulai ambruk. Dan penggundulan hutan yang sudah sangat transparant. Lefi melangkah santai mengabadikan objek yang dkira perlu untuk bahan mentah tulisannya. Sekian kilometer dari puncak. Lefi menahan langkah menatap pada sebuah pondok. mengayun gontai. Ia menatap pada sebuah tumpukan kayu-kayu besar yang siap di antar melewati jalur sungai. Dia curiga kalau kayu yang berguling-guling itu adalah Hasil perambahan tanpa surat-surat sebgaimana mestinya. Lefi mengangkat tinggi kamera dan mulai mengganti Angel. sesaat. suara gemerisik dedaunan dan ranting sangat pekak di telinganya. dia tersentak. tapi tidak kaget. layaknya detektif, Lefi bersembunyi di timbunan ranting. seorang pemuda berperawakan yang tidak kecil berwajah geram menatap sekeliling. seperti mencari sesuatu yang sangat di benci. Lefi sadar kalau menyamar-menyamar seperti ini tidaklah mudah. dia berpikir. keringat yang bercucuran melahap detak jantung yang kian melaju ke aliran urat nadinya. desiran darah memberikan rasa was-was ketia iya mengintip pemuda itu di sela dedaunan. pemuda yang bertubuh kekar itu berlangkah menuju pondok. sedikit perasaan lega denga cucuran keringat di dahinya. melambat. Lefi berjalan. dan mengintip melalui viewfinder. merasa sudah cukup. lefi berniat kembali ke penginapan di suatu desa yang tidak jauh dari hutan tersebut. Matahari tengah tenggelam. secangkir kopi yang menemaninya melewati peraduan malum. di suatu kampung. dalam ruangan segi empat beratap rumbia berumpin bambu beralaskan pasir. tempat yang dia sewa untuk satu malam cukuplah untuk mengistrahatkan pikirannya yang rumit. Saat ini. sang mentari yang terlihat di timur sungguh sangat mebias indah di kelopak mata. dengan sebatang rokok dan menutup ranselnya, lefi siap melangkah ke peraduan hutan demi kepentingan publik dan info yang seharudnya mereka ketahui dan perhatikan. ah, hari memang tidak secerah kemarin. walau tak cukup deras, tapi hujan kali ini cukup membuat seluruh badan. Lefi mualai memberanikan diri untuk berteduh di Pondok yang sudah pernah dia temui di hari sebelumnya. Suara gergaji mesin yang mulai bergemuruh ditelingannya. Dia berpikir. Mungkinkah itu salah seorang pekerja? Hati kian bertanya. Dengan keyakinan pasti. Dia mengeluarkan kamera dan menanjak tinggi bukit. Suara gemuruh yang semakit dekat. Sdlangkah lagi. Di balik bukit. Betapa terkejutnya. Begitu luas wilayah yang jadi mangsa para penebang liar itu. Bukit yang tak lagi mempunyai rambut. Hanya rentetan akar berbaris. Sejauh mata memandang. Makin lapang. Lefi mengangkat tinggi kameranya mengambil sudut pandang seluas-luasnya. Memang, lebarnya lensa takkan pernah bisa mewakilkan apa yang dilihat mata seluruhnya. Kadang lefi takjub, kadang meringis penggundulan hutan yang sangat pekat dihadapannya. bergumam sendiri. Lefi mulai mengambil lensa tele dan mengambil gambar tujuh hingga tujuh belas orang yang beroperasi. Dari penebang hingga pengemudi truck. Dari kejauhan lefi sangat merasa tidak puas dengan jepretannya. Lefi mendekat. Sambil melangkah sambil menekan shuter. Lefi rela berkeliling menghindari hutan yang sudah seperti lapangan melewati wilayah yang tersisa sedikit dari pepohonan. Agar tak terlalu nampak. Sekitar dua ratus meter dari objek, lefi menekan rana kameranya dan tanpa dia sadari kakinya tersandung bebatuan gunung. Dia terjatuh dari pijakan. Tubuhnya terguling. Kepalanya terantuk bebatuan dan melesat kebawah hingga terhenti pada lubang besar kumpulan pohon yang berbaring menumpuk. bajunya sobek. kepalanya bercucuran darah. Tetesan darah yang terpoles di lensa hitam putihnya dia sapu agar tak mengganggu hasil. Dia tak peduli akan keadaannya. Melainkan disekelilingnya sekarang adalah sasaran empuk sebagai barang bukti. Dengan sigap lefi bangun dan terus mengambil gambar. Terdengar suara tembakan yang mengejutkan hingga seluruh tubuhnya bergetar. “Hei Bung, Apa yang kau kerjakan disini?” Lefi berpaling memandang ke arah datang nya suara. Tak disangka. Seorang pemuda yang pernah dia temui di hari sebelumnya.

 

Sementara itu, Lia yang sedang berkendara menuju perpustakaan sangat khawatir. dia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. apa yang dilakukan Lefi sekarang? Baik-baik sajakah? Lia mulai melamun membayangkan kekasihnya yang sedang bertugas. Hingga Lia tak menyadari kalau satu unit truck berhenti mendadak di depannya karena lampu merah. Lia menabrak buritan truck. Maticnya sudah tak layak bentuknya. Dia terpental jauh ke bawah truck.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s