Lefilia

Standar

Ia takut. Jikalau seseorang itu datang dan akan membunuhnya. Entah,sudah berapa hari, ia berada di dalam kamar yang terisolasi tanpa cahaya matahari. Ia sudah seperti orang gila. Kesehariannya mulai dihantui perasaan. memenjarakan diri sendiri. Tatapan kosong.
Rumah mewah tak menjamin kebahagiaan lia. Walaupun orang tuanya adalah seorang dewan yang setiap harinya duduk digedung perwakilan rakyat. Seisi rumah penuh dengan fasilitas yang tidaklah murah. Tapi hanya sampah. Tak ada yang memanfaatkan ataupun menggunakan barang-barang itu sebagaimana mestinya. Hanya menjadi pandangan saja. Ia menjadi pendiam setelah tahu kekasihnya mati. Hanya secarik surat yang pernah dia kirim selalu ia baca dengan linangan air mata. Kasus ditutup. Tak pernah di utus secara tuntas. Tak ada pengadilan. Tak ada pertanggung jawaban. Hanya tangisan. Dan seorang dewan sekaligus ayah demi kepentingannya sendiri.
Sebulan berlalu tanpa perubahan. Walau terkadang masih termenung dan menangis. Perbincangan ringan akan bisa dicerna. Suasana sarapan. Makan siang. Kesan makan malam. Dan selalu tidur di tengah malam.

Sebuah rumah yang tidak kecil untuk lingkungan perumahan. Jendela kaca dengan ukiran kayu jati bermotif seni. Pagar besi berwarna hijau yang mengelilingi tiap lekukan beton itu. Dengan garasi mobil yang tidak sempit. Penuh berbagai macam jenis bunga di tamannya. Ayah Lia seorang pengusaha batu permata sebelum berevolusi menjadi wakil rakyat. Terang saja, dengan keadaan ini Lia sudah merasakan kemewahan yang tiada tara. Keseharian sama saja seperti mahasiswi lainnya. Hanya saja,Dia lebih sering menghabiskan waktu dirumah bersama buku-buku kecil yang tak tipis pemberian kekasihnya. Dinding yang putih. Tangga yang meliuk. Kap lampu yang memancarkan emas. Hingga kursi tamu yang senyaman ranjang. Tidak jauh dari Kota Intan Martapura, bangunan tinggi laksana menara bersimbolkan Intan di atasnya menjadi saksi pertama mereka bertemu. Lelaki dengan perawakan tinggi berhidung mancung, selalu membawa ransel dan menenteng kamera. Lia, yang hobby menulis juga sangat menyukai fotografi. Observasi penelitian tentang fasilitas publik yang tidak terawat itu menjadikan Hal yang sangat cepat mempersatukan mereka.

Dua puluh tujuh bulan bukanlah waktu yang sesaat. Terkadang keseharian mereka diwarnai suasana kabut, kertas, asap, debu, sampah, caci maki, sumpah serapah, hutan rimba, bukit hijau, pasir pantai, lorong gelap, hingga rumah sakit. Satu hari bersama, satu malam, dua puluh tujuh jam, dua puluh tujuh menit, dua puluh tujuh detik, bahkan mungkin lebih dua puluh tujuh tempat yang menjadi pengalaman yang tidak menarik kalau tak diceritakan.

Lia selalu menemani Lefi kapanpun, dimanapun, dalam kondisi yang tak terduga. Tanpa perencanaan. Namun selalu menyenangkan. Selalu menjadi hari yang mengesankan tanpa jeda. Lia selalu mengajari Lefi dalam hal Menulis, diksi, paradoks, esai, puisi, prosa, bahasa, kosa kata, Manajemen, Organisasi, komunitas, traveling, tehnologi, bahkan novel. Lia seorang yang cerdas. Sarjana Komunikasi dan menlanjutkan tesisnya yang hampir rampung. “Aku akan ajarkan apapun yang kamu inginkan sayang! Tapi, ajarkan aku segala tehnik lukisanmu dengan cahaya” begitulah isi secarik surat elektronik Lia yang pernah dilayangkan ke kotak pesan masuk telepon genggam Lefi. Rasa luapan yang berbinar-binar, berkaca-kaca, dan bahagia. Lefi selalu menjadi guru yang baik. Penjelasan yang selalu nyaman di lumat dan di cerna Lia tentang Foto, Cahaya, Diafragma, Speed, Iso, Metering, POI, Spot, Potrtait, Landscape dan lain-lain. Lefi bukan pewarta foto yang handal. Dia hanya seorang pemuda sederhana yang suka membaca apa saja. Dari koran bekas hingga buku-buku di perpustakaan. Sampai dia membaca buku tentang cepat mengerti. Lefi, hanya Mahasiswa strata satu yang sudah tujuh tahun kuliah. Agak terlambat memulai. Lefi, selalu mengulang mata kuliah yang tertinggalkan akibat kegiatan Organisasi yang tak pernah dia kurangi. Hingga Tahun kedua mereka menjalin kasih. Lefi bekerja disalah satu media cetak terkenal di Kalimantan. Selain sebagai pewarta foto, lefi juga terkadang menulis artikel, puisi, esai, Opini, walau tak sebagus karya tulisan Lia. Paling tidak, Lia sudah menjadi guru yang baik dalam hal menulis.
Malam itu hujan turun bergoncang. Angin tak sunyi, pohonan tumbang, air menggenang dijalan, dan banjir berlama-lama mengairi perkotaan. Isu dan berita tentang penggundulan hutan semakin gencar di ceritakan, di caci-maki, sumpah serapah, bahkan tak sedikit yang hanya mengerutkan dahi. Tak ada pengertian akan keadaan yang makin membawa kemurkaan bagi kehidupan ini.

Dua puluh lima bulan setelah perjanjian suatu hubungan. Lefi ditugaskan pimpinan untuk mengusut tuntas masalah penebangan liar yang terjadi di wilayah terlarang. Lefi yang menggebu-gebu ketika mendengar janji manis sang pimpinan sangat semangat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s