Ah… Sungguh Nikmat Aroma Kamar Mandi (Part II)

Standar

Ingin keluar dari lilitan benang yang rapat itu. Aku merinding. Karena ini kali pertama. Dan tanpa rencana. Melainkan ada unsur paksa. Dari yang lebih tua. Demi profesi. “Mbak, biasanya ada nggak, bapak-bapak yang berkumis dan berbadan gempal sering main kesini?” tanyaku. Eh, si perek malah menjawab nyeleneh. “Jangan panggil Mbak atuh Mas, panggil saja Dede. Kan ukuran saya gede.” Jawabnya seraya mengerlipkan mata. Aku menanggapi dengan senyum. Lepas kontrol. Aku bisa terjun bebas kalau menuruti situasi ini. Dengan dalih numpang buang air kecil. Aku berhasil masuk dan observasi kamar-kamar yang tersedia didalam rumah sederhana ini. Busuk. Kamar mandi apa ini? Seperti sampah. Memang sampah. Ada bungkus mie instan di sudutnya. Puntung rokok. Bau pesing, nasi basi, telur busuk, taik tikus, aroma ketiak, bau badan, kontrasepsi yang terkoyak, bahkan pembalut becek. Hal ini yang biasa mendatangkan penyakit. Ditambah banyak kecoa, sarang laba-laba, sabun bertebaran tanpa tempat. Berdinding seng bergelombang. Berlobang pula. Ada foto aktor telanjang perut yang sixpack juga. Oh, ternyata perempuan yang otaknya melulu mesum juga seperti pria ya? Kolektor foto-foto seksi.

Aku keluar kamar mandi. Terkejut. Bercampur gugup. Perempuan yang tadi diluar berambut lurus panjang tinggi semampai dengan pakaian minim langsung mendorongku di pintu seng itu. Apa-apaan. Darahku melaju cepat kepusat syaraf. Aku terlarut. Sesaat terpikir. Bagaimana jika aku digrebek penduduk? Bagaimana jika ada razia satpol PP. Bagaimana jika polisi sedang patroli disini? Bagaimana jika di hari esok wajahku muncul di halaman depan koran. ‘Jurnalis muda terjebak bermain cinta.’ Reputasiku akan hancur. Serasa ingin mati saja. Aku terlarut. Dan Hampir. Ah, mau saja ketika di seret ke kamar yang sudah didekor sedemikian rupa agar tak terlalu terbuka. Dan dengan cepat, sigap, tepat, perempuan manis berkemeja hijau ini menindih tubuhku yang tersandar diranjang. Bukan tidak mau atau sok suci. Seperti ada yang menyentil aku di telinga sebelah kanan. “Hei Lin, kau sedang dalam tugas!” aku tersadar. Aku mendorong tubuhnya yang hampir telanjang ke tembok kamar. “Please mas, satu kali saja tanpa pamrih. Sudah lama tak ada yang kesini.” Tanpa pamrih gundulmu. Setan dan malaikat yang sedari tadi berkecamuk dalam otakku hampir bersalaman. Andai saja. Tidak ada waktu untuk berandai. Aku mendobrak pintu yang terkunci. Aku berlari. Keluar dari rumah itu. Tak berapa lama terdengar teriakan “Maaaliiing… Maaaliiing!!!” Sialan. Perempuan itu meneriaki aku maling. Hanya selang berapa detik, para penduduk kampung serentak keluar dari rumah dan berduyun-duyun mengejarku. Aku berlari. Terengah-engah. Penuh keringat. Aku menoleh kebelakang. Buset! Seperti pasukan pembur babi saja. Lari. Ada yang membawa obor, tombak, parang, pedang, samurai, senapan, dan tak lupa lampu senter. Aku berlari semakin cepat. Aku berlari ke arah semak-semak. Warga mengikuti kepadang rumput ini. Kakiku terantuk batu dan tersungkur. Jempolku berdarah. Aku langsung bangun dan kembali berlari. Aku tak tahu sudah berapa jauh aku berlari. Yang jelas sudah banyak gang yang kulalui. Hampir. Mungkin saja. Semakin jauh dari perkampungan. Dan sudah tak terlihat pasukan pemburu itu. Beruntung. Aku berpakaian serba hitam. Lagi-lagi. Rasa yang sama. Bau yang sama. Keringat yang sama. Dengan langkah gontai aku menuju kost dan membayangkan kamar segi empat. Di ujung dapur pula.

Sementara itu. Bos selalu menghubungi menanyakan berita yang dia suruh kepadaku. Apa boleh buat. Memang belum ada liputan kan? Waktuku selalu habis berkeliaran di wilayah kota. Dengan ransel yang dipenuhi berbagai buku. Sikat gigi, Sabun muka, Dan baju ganti. Namun, semua tak terpakai karena ku lebih sering menginap diluar. Seperti preman, menjadi gelandangan. Berjiwa petualang. Kadang terlambat makan. Tak ada sepeserpun uang pesangon. Aku tak habis pikir dengan sistem kerja disana? Memang seperti itu ya? Entah sudah berapa buah serambi mesjid menjadi tempatku bersandar menghabiskan malam. Entah, sudah berapa kolong jembatan yang menaungiku dari hujan. Aku berniat untuk berhenti saja. Aku lelah. Pasrah untuk hal yang selalu saja tanpa upah. Gerah. Penuh keringat. Daki, debu, asap, pasir, hitam, tanah, dan semua hal berbau kotor menyelimutiku.

Kiniku putuskan untuk berhenti saja. Aku ingin berhenti. Meninggalkan ketidaknyataan ini. Aku berjalan. Menuju kamar segi empat dan bertelanjang. Kertas yang behamburan. Ku gantung kamera di sudut cermin. Ku biarkan beberapa buku berserakan. Ah, ku berbaring menikmati bau badanku. Pahit. Asam, manis, dan kecut. Aku tak lagi menghitung berapa hari aku tak mandi. Aku memberanikan diri melangkah ke kamar mandiku. Selangkah. Licin. Selangkah. Putih. Penuh cahaya. Kamar mandiku. Aku masuk dengan visualisasi yang terang benderang. Taman-taman. Bunga mawar, melati, dan aroma herbal yang sangat menyengat hidungku. Ku basahi diri ini dengan segayung air. Ah… Aroma buah-buahan. Rasanya seperti lantai yang penuh kotoron disiram dengan larutan air sabun yang mengikis permukaan. Sungguh. Termat nikmat aroma kamar mandi ini. Membuatku betah dan berlama-lama didalamnya. Aku hilangkan semua keinginan bercampur tantangan disana. Ku selami aroma kamar mandi yang menyamankan jiwa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s