Maaf, Saya Tidak Suka Anda (Part II)

Standar

Seperti orang yang menderita demam sebulan. Kali ini, beliau masih duduk dipojok sebelah kanan dengan ratu muka yang sama seperti sebelumnya. Aku masuk terlambat dan lirikan tajam mataku berbenturan dengan tatapan beliau. Ya, aku masih membawa perangai angkuhku seperti sedia kala. Walau duduk paling belakang, tak satupun kepala mahasiswa atau mahasiswi yang menghalangi tatapan beliau denganku. Hingga daftar hadir panggil tiba “Anda Ardana!” aku mendengar tapi tak menatap. Aku terus menulis apa saja yang bisa kutulis. “Nda, angkat tanganmu!” pinta temanku di depan. Aku menatap beliau yang sedari tadi menunggu. Dan, selesai.

Diskusi berlanjut penuh tawa canda. Metode bercerita yang dipraktekkan seorang mahasiswa sangat efektif. Sehingga, peserta didik cepat menangkap intisari dari pelajaran tersebut. Terlebih lagi dapat merespon balik dan menularkan kepada yang lainnya. Salut. Semua penghuni kelas pun tepuk tangan dengan meriah atas penampilannya. Tapi, lihat! Sedikitpun hiruk-pikuk tawa kita tidak merubah raut muka beliau. Canda tawa kita tak sedikitpun diterima. Masih saja dahi yang mengkerut. Bibir yang melengkung kebawah. Wajah coklat yang sedikitpun tidak menggurat senyuman. Hingga perkuliahan berakhir.

Lagi-lagi. Aku tak bisa terima ini. Sementara itu, waktu selalu mengejar dan tak pernah berhenti. Sejenak hening. “Anak-anak, maaf hari ini pertemuan kita yang terakhir. Yang belum sempat ikut midle bisa berururan dikantor. Ibu berharap setelah ini kita dapat bertemu dalam moment yang lebih bermanfaat.” Omong kosong. Entah angin apa yang membawa dosen ini bisa berbicara lembut. “Ibu minta maaf kepada kalian semua karena sering marah-marah. Itu karena kalian juga kan?” seketika senyuman langsung menggores mukanya. Giginya yang putih bersih menyilaukan semua hadirin. Raut mukanya tak lagi coklat seperti buah sawo. Tetapi berwarna kuning langsat dengan nuansa harum buah-buahan. Sungguh mahal sekali senyuman ini. Sangat sulit di dapatkan pada beliau. Mungkin ini pertama kali. “Sekali lagi ibu minta maaf kepada kalian semua, terutama kepada Anda” Bak dijatuhi buah-buahan. Aku tersanjung. Namun malu. Malu dengan rasa angkuhku sendiri yang melilit erat hati seperti kawat berduri. Aku sadar, tak pantas seharusnya yang lebih tua meminta maaf kepada yang lebih muda. Sekarang zaman sudah terlalu tua. Hingga manusia lupa dengan kodratnya. Dan terlarut dalam nafsunya. “Habis perkuliahan. Anda ibu undang makan malam dirumah. Ibu akan berikan apa yang Anda mau.” Ah, teramat mahal senyuman itu. Dan sungguh berharga tawaran barusan. Perkuliahan bubar. Aku pergi dari kampus dan menyiapkan diri menghadapi berbagai medan untuk bahan tulisanku lagi. Maaf bu, aku masih tak suka anda. Jalan yang berdebu. Malam yang rimbun. Aku takkan memaafkan diriku sendiri. Sampai mati. Sampai perkuliahan tak lagi dikebiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s