Catatan Perjalanan, Selamat Datang di Bumi Antaluddin (Bagian 1)

Standar

Akhirnya, setelah berlalu-lintas yang cukup padat, dari Mingguraya Banjarbaru sampai secangkir kopi hangat plus sebungkus nasi kuning di Binuang, Kabupaten Tapin, kami berlima tiba di Kampung Tibung Raya, salah satu kelurahan di Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Lebih tepatnya di Kediaman salah seorang penulis dan sastrawan, Aliman Syahrani.

Waktu menunjukkan pukul 10.30 Wita. Aku, Sandi, Randu, Zian, dan Sisy segera menghamparkan diri. Lalu melepas segala atribut yang membuat berat badan bertambah 3 hingga 4 kilo dari sebenarnya. Di beranda rumah bernuansa merah muda sembari melepas kepenatan berkendara.

Seperti biasa, Sandi yang mempunyai kebiasaan tidur sesaat sebelum waktu fajar terlihat sangat lelah dan ingin segera memejamkan mata. “Jaka, tih masukkan haja ka dalam, panas diluar sini,” ucap Aliman yang entah datang darimana menggunakan logat bahasa Kandangan yang cukup kental. Lelaki itu, aku sempat terkejut. Dan diluar dugaan, membaca novelnya berjudul Palas, aku kira penulisnya adalah seorang tua yang hampir renta. Ternyata bukan seperti itu. Justru Sebaliknya.

Seusai kami bertiga, (Karena Sandi dan Randu sudah lebih dahulu mengenal Aliman Syahrani) memperkenalkan diri, sebagai pembuka topik, kalian tau apa yang pertama disinggung? Adalah Cerpen Sandi Firly yang terbit di Harian Nasional Kompas. Sandi hanya tertawa sekadarnya menyikapi respon dari kawan-kawan. Ditambah lagi Randu yang memutar topik menjadi isi wawancaranya dengan Andrea Hirata. Sedangkan Aku, Zian, dan Sisy menyimak dengan seksama sambil membalas celetukan-celetukan yang membuat kita sama-sama tertawa. Semisal, “Jaket Sisy manis, mirip jaket berbulunya milik Selena Gomez,” ujarnya. “Berarti jaketku mirip Justine Bieber,” jawabku, Kali kedua setelah pertama Randu bilang di warung Kopi simpang empat Kandangan. (Sesaat sebelum tiba di rumah Aliman). Perbincangan renyah itu membuat matahari tersipu untuk menunjukkan kegarangan.

Cuaca memang sedang tak murung, tetapi cukup rasanya membuat kami tidak terlalu kepanasan. Masih ada dua orang yang kami tunggu, Yaitu Muda Sagala. Atau yang akrab disapa Adul. Atau lebih dikenal dengan Banjarbaru Dalam Lensa (BDL), owner akun facebook yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Banjarbaru sekitarnya. Kedatangan BDL dengan sahabatnya ingin belajar fotogragfi, katanya, dan suka menyanyi, Mina, membuat topik pembicaraan berubah, “Berawal sastra, mendadak fotografi”.

Kedatanganya diiringi dengan Kayla Untara, seorang rekan sastra dari Barabai, begitulah nama pena dan akunnya di facebook. Jika aku tak salah, ia lebih sering disapa Fuad. “Kamu nggak menulis lagi Kay?” ujar Randu menyapa Fuad yang sedang sibuk dengan handphonenya. “Belum, masih melakukan riset sedikit-sedikit. Sebenarnya, sih, lagi disibukkan dengan pekerjaan, bagawi nang ai,” ungkapnya. Kalau boleh dihitung, telepon genggamnya lebih sering berbunyi ketimbang orangnya.
Bukannya menguping, tapi Fuad lebih sering berurusan dengan yang namanya usaha. Tak salah rasanya kalau aku lebih menilai Fuad sebagai pengusaha, pembicaraannya seputar balok, berkas, sampai sebidang tanah. Dan, mungkin masih ada yang belum sempat terdengar denga sengaja, batu bara dan emas permata.

Secara bergantian, sahabat Aliman yang juga berencana ikut bertolak ke Loksado pun berdatangan. Aku tidak ingat namanya satu persatu. Tapi waktu di rumah itu, lelaki yang disapa Usai, membawa satu buah kresek yang tidaklah kecil. Setelah dibawa masuk ke dalam rumah, tak lama datanglah hidangan-hidangan segar dikala cuaca hangat. Adalah Timun Suri, atau biasa orang Banjar bilang, Bilungka Masak. Ah, sudah seperti Ramadhan saja rasanya.

Semangkok Timun Suri sudah dilahap. Segelas sirup pun sudah mengobati sedikit dahaga. Randu dan Kayla beranjak dari tempat duduknya. “Mau kemana?,” aku bertanya singkat sambil memegang segelas sirup. “Mau kebelakang, tempat fitnes.” Jawabnya.
Aku berpaling dan kembali bertanya. “Memangnya ada tempat fitness?,” menghadap Sandi. “Ada, usaha milik Aliman,” singkat sambil mengehembuskan asap rokok. Sesaat, semua menyusul untuk melihat-lihat tempat fitness yang berada tepat di belakang rumahnya Aliman.
****

Dentuman house musik menggema di ruangan itu. Ruangan berukuran yang tidak terlalu besar, kalau boleh dikira-kira, setengah dari lapangan futsal. Entah berapa ukurannya saya tidak sempat mengukurnya. Isinya sejumlah atribut fitness seperti barbel, ini itu tidak tau namanya. Namun, entah saya tidak teliti, tidak terlihat treadmill disana.

Tanpa disuruh dan meminta izin, hampir semua di antara kami berhamburan. Ada yang ke pojok kanan, kiri, mengangkat barbel, berputar-putar, dan melongok saja menatapnya. Semua seperti mendapatkan mainan baru. Mencoba ini itu. “Jangan yang berat-berat dulu. Kaina urat takajut,” ujar BDL. Maklumlah, yang jarang berolahraga akan merasa. Aku sendiri mencoba. Ya, satu dua tiga alat disana sempat membuat urat belikat sebelah kanan seperti berdebat. Ah, untuk beberapa menit aku mengeluhkan itu. Sejenak. Tak sedikit juga sok kuat tapi letoy. Ada pula yang baru mencoba satu alat sudah bermandikan keringat berpeluh basah. Ada juga yang baru sebentar sudah berasa kekar. Dan ada lagi yang dari tadi duduk sambil menghabiskan sebatang rokok saja.

Setelah semua dirasa cukup, kami sudahi perkenalan dengan alat berat itu. Adzan dzuhur tiba. Sebagian dari kami sholat berjamaah di Mesjid Darul Khalik yang jaraknya tidak jauh dari rumah Aliman. Usai menunuaikan kewajiban sebagai muslim, barulah kami menuju rumah makan. Makan siang sebelum berangkat ke Loksado itu lebih baik daripada tidak makan sama sekali. Apalagi ditraktir.

Sekitar pukul 01.05 pm, Kayla mengajak kami makan siang. Semua berangkat menggunakan motor masing-masing berboncengan kecuali Aliman yang lebih afdol makan di rumahnya. Sandi dengan Kayla, Zian dengan Randu, Mina dengan BDL, dan Sisy bersamaku. Sebelum berangkat aku sempat mengingat perkataan Randu yang menggetarkan. “Kalian harus tahu, pusat perkembangan sastra dunia itu ada di Asia. Dan di asia pusatnya di Indonesia. Indonesia pusatnya di Kalimantan, lebih khusus di Kalimantan Selatan. Di Kalsel pusatnya di Banjarbaru. Dan di Banjarbaru pusatnya di Guntung Manggis,” ungkapnya kepada kami semua yang mengiyakan saja.

Kami singgah di Warung Katupat/Nasi Aisyah Kandangan dan langsung memesan sejumlah Katupat Kandangan dan Nasi Kuning. Sembari menunggu, beberapa bungkus kacangn dan kerupuk peye dilahap. Entah bagaimana awalnya, Aku, Sisy dan Sandi sempat memperebutkan Nasi Kuning. Tersebab, dua piring Nasi Kuning itu adalah jatah terakhir.
Pas, ai. Gasan bubuhannya ini bedua,” Ujar Randu menujuk aku dan Sisy. “Aku memesan bedahulu,” sahut Sandi yang duduk di sebelah Sisy. Posisi waktu itu adalah meja panjang segi empat. Aku, Sisy, Sandi, Zian, dan Mina satu baris berhadapan dengan Randu, Kayla, dan BDL.
Ya, sudah. Ulun Nasi Putih saja,” kataku.
Di Guntung Manggis, gin, ada jua Nasi Kuning, wal ai,” Randu menimpali.
Tapi, kan, bukan Nasi Kuning Kandangan,” tegas Sandi.
Tap, kan, Nasi Kuning jua.”
Nasi Kuning Guntung Manggis lain lawan Nasi Kuning Kandangan,”
Yang lain itu ketupanya,”
Kada jua, ketupat Kandangan tetap ketupat Kandangan, Guntung Manggis kedada ketupat.”
Perdebatan berhenti dibarengi dengan diamnya Randu sambil menggenggam merasukkan semua jari tangan dan menggoyang-goyangkan badan. Sembari semua hidangan yang dipesan telah tiba dihadapan.
****
Piring sudah terlihat putih sebagian. Ada yang mengambil sebilah tusuk gigi, dan ada pula yang sudah menyalakan sebatang rokok. Beberapa gelas es teh manis dan hangat telah berkurang. Perbincangan demi perbincangan telah dilewati. Singkat kata, semua biaya Kayla yang menanggunggya. Semua raut muka di atas meja terlihat sangat bersyukur sekali. Sejenak, setelah mempersiapkan beberapa bawaan kami kembali menuju rumah Aliman dan mengepak barang.

Tiba di rumah Aliman. Ia menawarkan untuk memakai mobil, karena rekannya yang juga orang Kandangan turut serta memakai mobil. Tetapi kami konsisten untuk lebih memilih menaiki motor. Sedangkan Sandi, lebih prepare ikut dengan mobil karena ingin tidur. “Ente ni wal ai, mun guring baik di rumah,” ujar Randu. “Aku beluman guring lagi, mengantuk banar,” jawab Sandi. Singkat kata. Semua bersiap dan menuju Loksado. Awal perjalanan yang membuat kami sempat terpisah dan kebasahan. (bersambung)

One thought on “Catatan Perjalanan, Selamat Datang di Bumi Antaluddin (Bagian 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s