Go To Loksado (Bagian 2)

Standar

Semua perkakas sudah pas. Bahan bakar sudah terisi penuh. Kayla berangkat dengan motor Vixion hitam putihnya disusul BDL bersama Mina yang berniat singgah ke pasar dulu untuk membeli buku. Karena BDL telah berniat untuk memberikan beberapa buku untuk sejumlah anak-anak di Loksado nanti. Randu menggebar Blade Black Orangenya bersama Zian. Disusul Aku dan Sisy yang menguntit mereka di belakang. Rasanya sudah tak sabar untuk segera menikmati suasana pegunungan dan sampai di bunyi-bunyian burung-burung dan air-air dari hulu.

 

Untunglah, cuaca sewaktu berangkat relative cerah. Aku pun menyempatkan diri untuk membeli Koran. Mungkin karena itu pula, aku tertinggal jauh di belakang mereka. Ya sudah, selama ada penunjuk jalan yakinlah tidak akan tersesat. Benar kata Randu, jalan menuju loksado itu bisa digambarkannya dengan goyangan tangan seperti penari rap. Tak hanya naik turun curam terjal berliku, tetapi juga berkelok-kelok seperti shock motor. Banyak persimpangan yang dilalui. Untung saja jalan raya lumayan mulus, tidak terlalu banyak jalan berlobang seperti yang terlihat di perkotaan. Melewati lika-liku hamparan aspal yang tidak pendek itu bisa saja membuat seorang ibu hamil tiba-tiba brojol. Baru saja kita menambah kecepatan 60km/jam di jalan lurus, mendadak di salah satu tikungan menjadi naikkan hampir 45 derajat. Sepeda motor yang 4 tak dan berkopling saja sempat ngos-ngosan menaiki tanjakan itu, apalagi automatic? Entahlah, hanya BDL yang merasakannya bersama Mina menaiki Yamaha Mio berwarna hijau itu. Aku mulai merasa menjadi pembalap moto GP.

 

Kira-kira sekitar 16 km perjalanan yang ditempuh 30 menit, sejuknya hawa pegunungan sudah mulai terasa meski tak terdengar kicauan burung karena hari memang sudah cukup sore. Randu yang sudah berasa seperti Pedrossa dengan Hondanya sering Aku balap ketika tanjakan. Aku menjadi Valentino Rossi.

 

Di sisi-sisi jalanan tak lain dan tak bukan adalah jurang. Diselingi dengan suasana hijau dan perkampungan kecil-kecilan. Kemudian beberapa pepohonan dan bebatuan. Ada pula beberapa bagian pegunungan yang sudah diberi peringatan, “Hati-Hati 50 Meter Lagi Tanah Longsor” cukup membuat kita wasapada. Terlebih jika terjadi hujan deras. Sirkuit memang sedang basah. Gerimis mulai turun, kami semakin berhati-hati memacu si putih (SP). Beberapa tikugan yang cukup tajam sudah dipasangi cermin cembung yang bisa melihat pengguna jalan lainnya setelah tikungan. Aku berasa yakin sekali sedang di sirkuit.

 

Tampaknya, alam pegungunan di lokasi lebih menginginkan rahmat dari sang Ilahi. Menjelang perkebunan kelapa sawit yang terhampar luas, kami sempat kebasahan dan kebingunan mencari teduhan. Karena lokasi itu sangat jauh dari perkampungan penduduk pribumi. Hingga ada sebuah pohon kelapa sawit yang sedikit mepet ke jalanan. Kami berempat singgah sekadar memasang jas anti air. Hanya Randu yang memakainya, sedangkan Zian hanya bertebuh di balik jubah itu tanpa banyak berkata mereka langsung cabut. Aku sedikit lebih rumit memakai pakaian anti air ini, di mulai dari jas sepatu, celna karet parasut, barulah jubah anti air yang membuatku menjadi penyanyi yang beken di tahun 90-an, Rama Aiphama. Di tambah lagi Sisy yang juga memakai jubah dari Ujung rambut sampai ujung kaki. Sesuatu banget, kan?

 

Randu memang lupa daratan. Baru saja aku ingin mengejar, mereka telah hilang di beberapa tikungan. Aku khawatir mereka hilang ditikungan karena terperosok di sela-sela rumput. Untunglah hanya sekadar kekhawatiran. Aku sudah menjadi pembalap.

 

Sampai di pintu gerbang Selamat Datang di Objek Wisata Loksado, kami berteduh sejenak, karena Randu dan Zian sudah lebih dulu beertahan disana. Sembari minum Pulpy Orange dan menyalakan sebatang rokok. Kami sempat berbincang-bincang. “Waktu aku wawancara dengan Andrea…” begitulah Randu memulai diskusi pendek itu. Dibalas dengan Zian yang tampaknya tak terlalu suka dengan cerita demi cerita meski tetap menghormatinya. Kami sempat berpose-pose aneh untuk mengabadikan momen di pintu gerbang selamat datang itu. Anggaplah, aku sedang ganti ban pada pit stop ketika sirkuit basah dalam pertandingan moto GP yang masih berlangsung sengit.

 

Yamaha Vixion hitam putih terlihat dari jauh. Aku langsung melambai-lambaikan tangan agar ia berhenti. Kayla berhenti dengan pakaian yang tidak kering. “Munyak aku, hujannya bepagat-pagat, jadi baik selajurakan ai dah biar basah,” ungkapnya kepada kami berempat. Perbincangan berlanjut dengan beberapa batang rokok sembari menunggu BDL dan Mina yang masih tertinggal jauh di belakang. Pedrosa, Rossi, dan Hayden sedang bercengkrama dalam pit stop.

 

Kumpulan awan memang masih terlihat gelap. Namun tetes demi tetes air yang jatuh darinya sudah tak lagi cepat. Kondisi memungkinkan kami untuk meneruskan perjalanan hingga sampai ke Loksado yang sudah cukup dekat. Tanpa banyak tanya, kami berlima berangkat tanpa menunggu BDL dan Mina. Selamat datang di Loksado. Awal perjalanan yang membuat kami sering berfoto. Kemudian jatuh dalam salju sungai Malaris yang memesona. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s