Menikmati Air Terjun Riam Hanai (Bagian 3)

Standar

Sebuah warung makan lebih tepatnya. Dan di seberang warung makan itu ada sebuah tempat bersantai di pinggir sungai yang lebih mirip dengan lampau di tengah-tengah hamparan ladang. Kami bersantai sekadar melepas penat dan menikmati secangkir kopi hangat. Sandi tiba beserta beberapa rekan Aliman dengan mobil APV berwarna biru. Kami menunggu BDL dan dan Mina. Sembari berfoto ria dan berbincang seadanya.

Aku tak tahu pasti berapa jumlah rekan Aliman saat itu. Kalau tidak salah sekitar 8 orang. Di tambah kami bertujuh. Jadi secara keselurhan kami berjumlah 15 orang. BDL tiba dengan sok kelewatan di hadapan kami semua. “Eh, datangan dimana buhanmu? Beapa disini, kasi batarus ke rumahku. Rumahku di atas situ na!” ucapnya sebagai salam pembuka.

Kamera telah dikeluarkan dari ransel yang hangat itu. Beberapa kawan-kawan Aliman juga demikian. Dan BDL… jangan ditanya, dari pertama tiba dia sudah berautis ria dengan lensa telenya mengarah ke segala sudut mata angin. Setelah obrolan dirasa cukup dan sejumlah frame mulai mengisi memory card, kami meneruskan perjalanan melewati beberapa jembatan gantung yang bergoyang.

Tidak sedikit jembatan yang membuat cemas dan jantung berdegub kencang. Untunglah kami yang berperawakan tidak terlalu besar dan agak kurus tidak terlalu mempersoalkan. Tapi tetap saja, jika memakai motor melwati jembatan itu, salah seorangnya harus turun jalan kaki agar mudah menyeimbangkannya. Tapi itu hanya terjadi kepada pendatang baru di Loksado. Melihat penduduk setempat yang melewatinya, biasa-biasa saja.

Kampung itu dinamakan Desa Loklahung. Hal itu juga terlihat jelas di beberapa plang milik pemerintah, sekolahan, dan kantor kelurahan. Hahahaa.. aku sempat tertawa kecil melihat sebagian kawan-kawan yang berfoto di plang itu. Mereka menutupinya sebagian hurupnya sehingga ketika kita membaca menjadi “Desa ***lahung”. Tapi sayang, ketika aku sadar. Aku sudah melewatkan moment itu untuk mengabadikannya di dalam bingkai.

Tak terlalu jauh dari jembatan gantung pertama, kami mendapati rumah yang cukup panjang. Dan itu adalah sebuah balai adat Malaris. Tempat biasa suku dayak Malaris melakukan berbagai upacara adat bagi kalangannya. Tidak ada lagi roda 4 yang bisa akses melalui wilayah ini. Sandi bersama rekan Aliman yang lain memilih berjalan kaki menuju ujung kampung. Dan sedikit lebih di depan yang menggunakan motor, Randu, Zian, BDL, Mina, Aku dan Sisy tentunya.

Aku sempat bingung mengapa jalan ini buntu. Ternyata satu-satu jalan menuju air terjun itu adalah melewati jembatan gantung. Sekali lagi. Rasanya ingin sekali cepat-cepat sampai di ujung sana agar tidak ikut bergoyang terlebih ketika berhenti di tengah-tengah jembatan. Untunglah, kalai ini aku menyempatkan diri berhenti ditengah-tengah untuk sekadar mengabadikannya. Sambil bergoyang-goyang.

Pepohonan, batu-batuan dan semilir angin menerobos rerumputan kian terasa. Matahari sudah berani menampakan diri setelah alam ini basah keseluruhannya. Aroma alami khas pegunungan merasuk ke dalam tubuh dihiasi gemuruhnya air yang mulai terdengar. Ya, itulah… Air terjunnya. Air terjun Riam Hanai, begitu sebagian orang menyebutnya.

Aku tak habis pikir dan mereka tidak banyak pikir. Randu dan Zian tampak terburu-buru melepaskan jahitan benang yang melilit tubuh mereka. Sejenak, tubuh itu langsung basah tenggelam dalam aliran sungai yang cerdas dan deras. cukup deras untuk melarutkan satu hingga dua orang anak kecil seumuran jagung. Disusul Sandi yang tiba berjalan kaki mengikuti jejak langkah keterburu-buran mereka berdua, Zian dan Randu. Sedangkan aku, hanya terpana melihat percikan cahaya matahari dari sela-sela pepohonan. Pelukis cahaya bilang, itu adalah Ray Of Light (ROL). Tak ada pilihan, Sisy menjadi model dadakan. Yang penting ada sosok manusia dalam satu frame foto. Meski wajahnya tidak terlalu dilibatkan.

Tak lama hal itu diikuti jamaah fotorafer lain rekan Aliman yang datang berbarengan. Shuter demi shuter dibuang-buang tak kenal hemat. Begitu pula BDL yang tiba langsung berteriak seperti orang kesurupan. “ROOOOL… ROL… ROL!!!!!!!!,” begitu kiranya.

Sampai-sampai hal itu menjadi alasan utama untuk tidak menoleh ke Randu, Zian, dan Sandi yang sedari tadi melambai tangan sembari berteriak, “Hei, tolong foto kami!,” begitulah sapanya. (bersambung)

One thought on “Menikmati Air Terjun Riam Hanai (Bagian 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s