Saya Menyesal

Standar

Saya menyesal sekali mengapa tidak dari pertama menjadi wartawan saya menulis esai. Saya kira terlalu banyak peristiwa dan kejadian yang terlewatkan. Dari tragedi perkelahian antara TNI dan Polisi karena persoalan tilang menilang. Sampai satu ketika di mana saya sekadar numpang “pipis” di toilet bandara Adi Soemarmo, Solo. Sebatang rokok belum dinyalakan, semangkok sup pun belum dihirup, tapi pesawat sudah buru-buru terbang lagi ke Bandar udara Syamsudin Noor Banjarmasin. Dan sayapun hanya bisa melihat Jokowi yang sekarang menjadi Gubernur Jakarta melambaikan tangan di jendela Trigana Air di sayap sebelah kanan. Dan sebuah kamera pun terbaring lemas di pangkuan paha.

Saya menyesal mengapa tidak dari pertama menjadi wartawan saya menulis esai. Malam ini saya mencoba mengingat semua pengalaman yang kurang lebih satu tahun, atau lebih tepatnya jenjang waktu 2 Oktober 2011 sampai dengan 10 Oktober 2012 ini bersemayam pikiran. Dari buruknya pelayanan rumah sakit di wilayah Banjarbaru dan Martapura, sampai para pelangsir yang sudah bekerjasama dengan aparat kepolisian. Dari aksi demo kenaikan BBM yang membabi buta, sampai pemilihan walkota yang sudah diskenario dengan matang para pelaku media.

Saya nmenyesal mengapa tidak dari pertama menjadi wartawan saya menulis esai. Ketika situasi tambang ‘emas hitam’ di Kalimantan Selatan lebih didominasi oleh penambang yang justru dari pulau seberang. Yang mana hutan sudah tak lagi dijamah para polisi hutan. Tetapi pebisnis yang berkantongkan uang mulai membakar untuk lapangan pekerjaan yang bisa memperanakan uang hingga tak bisa lagi dikata cukup sekadar mencari nafkah, tapi persoalan pesugihan.

Pemimpin salah satu redaksi ternama di Kalimantan pernah berkata saya,”Jadi wartawan itu melelahkan. Tapi jika sepenuh hati, maka akan menyenangkan,” begitu kiranya makna yang ia sampaikan meski saya tidak terlalu tepat ketika menuliskan.

Kembali kepada menyesal, mengapa di dini hari pukul 01.15 ini saya menulis hal yang ‘ngeyel’. Gak ada makna, gak ilmiah, gak mengedsiplinkan ilmu, gak nyastra, gak putis, gak gaul, gak skeptis, gak responsive, gak respect, gak nyetrik, gak idealis, gak kritis, gak materialistis, gak lokal, gak K-Pop, gak ngepop, gak ngerock, gak ngoyo, gak bagus, gak pasti, gak pinter, gak tepat waktu, gak bisa tidur, gak ereksi, gak alon, gak sinting, gak sableng, gak songong, gak goblok, gak bersyukur, bla… bla… bla…

Saya menyesal mengapa berhasil menulis tulisan seperti ini setelah saya kurang lebih satu tahun menjadi wartawan. Salah seorang teman saya bilang, “Jangan bangga jadi wartawan. Lo sudah susah-susah nyari berita, kejar-kejar narasumber, pada akhirnya tulisan lu disunting editor dan redaktur, kan? Lalu susah-susah dan jauh-jauh orang-orang distributor nganterin tulisan lu yang udah dicetak ke segala pelosok desa, pada akhirnya jadi bungkus kacang dan alas sajadah ketika lebaran, kan? Jadi ngapain lo bangga-banggain usaha lo yang tidak menjanjikan dari segi financial,” katanya dengan bibir memble dengan asap rokok yang menjebul dihadapannya sembari memilih kartu domino di kedua belah tangan.

Saya hanya bisa menjawab, “Ah, saya hanya berusaha benar sejak awal. Sisanya terserah redaktur. Soal bungkus kacang dan alas sajadah di hari lebaran, Ora ngurus atau kalau orang banjar bilang, unda kada maurusi, cuek ai unda,” jawabku meremehkan.

Saya menyesal mengapa bisa mengatakan hal itu kepada teman saya. Seperti beronani. Tidak percaya diri. Tidak bersyukur. Tidak bisa menyenangkan hati. Tidak bijaksana, tidak berani, tidak dewasa, tidak nikmat, tidak pantas, tidak patut, tidak beradab, tidak santun, tidak sadar, tidak bercahaya, tidak meresapi, tidak mereskebo, tidak sungguh-sungguh, tidak jujur, tidak bersih, tidak normal, dan tidak bagus untuk kesehatan jiwa.

Tapi saya akan lebih menyesal jika tidak menjadi wartawan, karena tidak akan bertemu dengan kawan-kawan nang melajari pina musti supaya wani, tidak ada pemimpin redaksi yang menegur saya liputan sendiri saat dilempar tentara dengan batu meskipun pakai helm pinjeman dari parkiran, Juga tidak akan paham soal politik hitam, politik suci, politik bisnis, politik agama, sampai politik sehat, sampai politik bangsat.

Mungkin saya tidak akan paham soal kesehatan jika tidak kuliah mengambil jurusan Kesehatan Masyarakat. Atau harus rogoh kocek kamar kost-kostan yang isinya hanya cucian untuk bayar semesteran di fakultas kedokteran, atau harus menulis di buku tata Negara dan dipeloncoi para senior IPDN agar bisa mengetahui dokumen rahasia pemerintah. Atau harus masuk jurusan manajamen pendidikan utuk mengetahui cara mendidik anak sejak di bangku SD. Atau saya harus mengambul jurusan komunikasi dulu untuk bisa berbicara dan menangkap semua pembicaraan dan menulis semua kata dalam bahasa yang akademis, realistis, mistis, sampai anarkis.

Saya akan lebih menyesal jika cita-cita saya sejak duduk di bangku pesantren tidak terkabulkan. Menjadi seorang wartawan. Begitulah maksud yang ingin saya sampaikan kepada Tuhan, haruskan saya berterima kasih?

 

Purnama Kingdom, Lantai II No 6,

01.40 saat Rama Satria Mencabik Indonesia Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s