Kucing Betina dan 4 Anaknya

Standar

Dear Blog, sayang rasanya jika yang aku alami dini hari ini tidak abadi. Kembali ke laptop. Baru saja balik dari kamar mandi setelah buang air kecil. Buru-buru mencari minyak kayu putih untuk mengoleskan ke dua jari kaki kanan yang bengkak akibat digigit “King of The Bugs”. Atau orang Banjar bilang; “Salimbada”.

30 menit yang lalu. Aku memang sudah lama duduk di depan laptop sambil memperbarui beberapa blog yang saya kelola. Sembari minum, beberapa batang rokok juga telah berkurang dari bungkusnya. Karena sudah terlalu banyak minum otomatis saya juga harus membuangnya. Berangkatlah saya menuju toilet.

Namun, hasrat saya tertunda ketika satu langkah keluar dari ruangan. Ruangan ini lebih mirip ruang kelas sekolah. Memang ini sebelumnya ruang kelas belajar yang telah dibongkar menjadi seperti kantor percetakan, lebih tepatnya secretariat Event Organizer (EO).

Otomatis ketika keluar dan melangkahkan kaki pertama, yang diinjak adalah tanah. Suasana malam ini agak sedikit lembab karena hujan baru saja beranjak. Tinggal lagi beberapa dedauan yang berembun dan tanah lembek akibat deburan angin dan air. Semut besar yang berwarna hitam pun bermunculan karena udara dingin itu. Mereka berjalan-jalan berbaris-baris entah kemana berkumpul di tumpukan bata bekas yang tak lagi terpakai.

Namun, ada yang menunda langkahku ketika mendengar suara itu. Ya, suara anak kucing yang gelombangnya masih kecil sekali. Aku yakin, ini adalah anak kucing yang baru dilahirkan. Atau kucing betina yang baru saja dilahirkan. Keinginanku bergegas ke toilet ditunda sementara. Sampai ku menemukan dimana suara itu berasal.

Tak terlalu membutuhkan waktu lama menemukanya, mungkin kurang lebih semenit. Mata kucing betina yang berkaca-kaca dengan warna bulu kuning kejingga-jinggaan berhias putih bersih tampak menatapku takut. Di antara selangkangan dua tanganya terlihat bayi kucing kecil, imut, menyedihkan, yang tampak urakan karena tanah-tanah gembur itu meliputi sejumlah kaki, tangan, dan perut bayi mungil itu.

Si Kucing betina mengeong takut kepadaku. Mungkin takut jika buah hatinya direbut. Atau bisa juga keamanannya terancam. Ia mengeong keras. Aku merapatkan tangannku dan mengusap ke kepala kucing betina itu. Dia mulai meredam dan mendiam. Di antara kayu yang lembab dan gelap, hanya cahaya lampu pijar di ujung kelas sana.

Sejenak aku menemukan seekor bayi mungil itu dan perlahan mengangkatnya ke papan yang lapuk dari tanah gembur. Tubuhnya berlumpur. Kemudian satu lagi kuangkat. Dan satu bayi terakhir yang berada dihimpitan bata lebur bercampur tanah. Kasian sekali. Si betina hanya menyaksikan, mengeong, kemudian menjilati anaknya yang sudah kuletakkan di tempat yang cukup hangat. Aku beranjak masuk kembali ke dalam ruangan kantor mengambil beberapa lembar Koran untuk menjadi lantainya sekadar menahan dingin dan menciptakan hangat yang sedikit. Kemudian aku berpikir. Jika dalam kondisi transparant seperti demikian, kamanan dan kelangsungan hidupnya pasti akan lebih terancam oleh kucing jantan yang sering berseliweran di sekitar sini.

Aku berusaha mencari jenis kotak kardus apa pun itu. Kubongkar lemari dan menemukan kardus yang berisi tumpukan kertas. Ku pindah semua kertas tersebut ke sisi lain laci lemari kubawa keluar dan langsung memasukkan satu persatu bayi itu kedalam kotak. Sembari memekik beraduh, karena tanpa sadar, kaki kananku dikerubuti semut besar hitam itu. Sudahlah, untuk sementara kutahan sakit ini sembari menyapu agar kerubutan semut ini pindah. Setelah 3 bayi kecil itu masuk ke dalam kotak aku berlari ke pojok kelas dan meletakkannya di sana. Ku lihat kucing betina pun berlari mengikutiku untuk kembali melihat keadaan anak-anaknya di dalam kardus segi empat yang telah kulapisi dengan tumpukan kertas koran.

Si Kucing Betina ku angkat dan kumasukkan ke dalam kota agar ia segera menyusi ketiga anaknya. Kedua matanya berbinar, entah, seakan mengucap terima kasih atau bagaimana maunya. Sekekali mengeong keras. Namun, aku bingung, suara bayi itu terbagi dua. Seolah-olah bergema dan masih ada di tempat sebelumnya.

Ternyata benar, suara bayi itu masih ada antara serpihan bata dan tanah lembur itu. Si betina juga keluar dari kotaknya dan mengeong ke arah tempat yang kumaksud. Kembali aku berlari ke tempat itu untuk menacari dimana satu bayi lagi yang tertinggal. Aku sengaja berlari karena menghindari kerumunan semut hitam besar berjejal di antara kisi-kisi tanah rerumputan serpihan bata bekas.

Aku mencari namun tak menemukan. Karena memang tak melihat apa-apa hanya mendengar suaranya, aku relakan tanganku untuk meraba ke tanah berharap jariku menyentuh tubuh bayi yang menyedihkan itu. Tapi tak ada yang kusentuh apalagi kutemukan.

Tak ada cara lain, tumpukan serpihan kayu, bata, dan tentunya tanah gembur itu aku gali. Beberapa bata aku angkat, dan akhirnya… aku menemukannya terguling dengan tanah. Tubuhnya yang berbulu putih berlumuran tanah. Kasihan. Aku angkat dia dan kembali berlari menuju kotak kardus. Kemudian meletakkannya. Si kucing betina memasuki kotak dan mulai menyusui sembari menjilati tubuh ke empat buah hatinya yang masih merah itu.

Sejenak aku menatap, melihat binar matanya seperti lebam dan berkaca-kaca. Suaranya perlahan mengeong mendesir memecah kesunyian malam. Ingin rasanya kubawa ke dalam ruangan, namun tak mungkin, karena di dalam sudah ada kucing pejantan hitam berwarna hitam berkalung kuning yang telah lebih dulu aku beri nama, Edgar.

Kucing Betina dan 4 Anaknya

Kucing Betina dan 4 Anaknya

Rasa cemas masih menghantui perasaanku dengan kucing betina dan empat ekor anaknya itu. Aku mulai berpikir bagaimana caranya agar dia merasa aman. Karena meski di dalam kotak. Jika si betina meninggalkan anaknya untuk mencari makan otomatis 4 bayi tersebut rawan kembali didatangi kucing jantan yang kerap kali membunuh dengan cara memakan atau menggigit bayi sejenisnya. Aku jadi ingat Unnie, kucing yang telah mengalami itu, 3 anaknya mati di tempat Unnie menyusui. Ah, tentang Unnie mungkin nanti akan kuceritakan di lain waktu.

Akhirnya aku mencari dan menemukan sebuah papan penutup sumur untuk menutupi sudut kelas dan merenggankannya untuk sekadar kucing betina keluar. Semoga baik-baik saja. Kutinggalkan dia. Aku berjalan menuju toilet di ruang kelas di pojok yang berlawanan. Sembari kutatap dia kebelakang, dan kucing betina mengeong berdiri menatapku. Aku hilang di antara gelap malam. Keluar kamar mandi dan masuk kembali ke dalam ruangan. Ah, aku jadi kepikiran bagaimana keadaannya sekarang. Apakah aku harus memeliharanya dalam jangka waktu berkesinambungan. Lalu, mau diberi nama apa nanti ia? Apakah perlu aku belikan kalung cantik untuknya seperti pada Edgar? Apakah pembaca juga punya usul untuk memberikan nama yang baik untuk si Kucing Betina yang baru melahirkan itu. Kita lihat saja nanti. []

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s