Ketemu Hercules

Standar

Kali pertama ketemu Hercules. Maksudnya pesawat tempur Hercules ya. Kasiah banget gue. Padahal sebelumnya sih dah sering lihat juga di tv-tv. Tapi melihat dengan mata kepala sendiri dan masuk dengan kaki sendiri. Emang gak enak sih kalau masuk sambil gendongan!!!

Awalnya males banget keluar malam-malam. Tapi karena tugas adalah tugas, maka harus dilaksanakan. Landasan Udara Syamsudin Noor ternyata sedang melaksanakan latihan gabungan para pasukan penerjun elite dari semua angkatan. Baik itu TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, dan tentunya TNI Angkatan Udara dong. Masa yang jelas-jelas bidang udara eh gak ikut mengudara.

Masuk daerah militer kalau gak ada alasan yang penting-penting banget itu bakalan menyusahkan diri sendiri. Birokrasinya berat bro! Selain musti ini musti itu. Kamu juga harus ngisi ini ngisi itu. (Apaan ya? Gaje banget). Terus udah itu, kamu bakalan disuruh mencari sendiri dimana tempat yang dimaksudkan. Boro-boro ditemenin.

Berdoa Sebelum Berperang

Berdoa Sebelum Berperang

Akhirnya, ketemu dengan humas lanud (kalau dalam AURI istilah Humas bisa disebut dengan penerangan atau kapentak). Kemudian aku dibawa menuju landasan terbang Syamsudin Noor Banjarmasin di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Di lokasi wartawan yang ada hanya berdua, aku dan rekan pers elektronik dari TVRI. Pas datang, kita berdua langsung disuruh untuk segera wawancara. Setelah menjelaskan alasan, tujuan, skenario, jumlah penerjun, kronologis, dan akhir dari harapannya, kami langusung meninjau ke lapangan. Ya gak jauh-jauh amat sih. Deket aja tinggal beberapa langkah dari tempat kita wawancara.

Bayangkan, sejumlah 127 prajurit elite gabungan itu harus nentengin tas ransel-ransel yang lebih berat dari kompor merk HOCK. Kurang tahu juga ya berapa berat Kg tuh ranselnya. Sebelum masuk ke bokong Pesawat Hercules yang fenomenal, (yang katanya cukup cepat untuk mengirim sejumlah soal UN SMA yang hampir terlambat beberapa waktu lalu).

Kasihan sih kasihan, tapi itu,ah prajurit. Kamu harus rela dijajah terlebih dahulu sebelum dijajah orang lain. Maksudnya bersikap mengabdi kepada Negara terutama atasan yang pangkatnya lebih tinggi.

“Gak pengen foto-foto, Mas!” Kata salah seorang fotografer AURI yang cukup akrab denganku.

“Emang boleh ya?”

“Ya boleh dong, masa gak boleh. Mas nya gak bilang sih, dikira malah gak pengen. Kan jarang-jarang ada kesempatan kaya gini,”

“Sebenarnya gak terlalu pengen juga. Cuma saya ragu-ragu,”

“Lho, kok ragu-ragu to,”

“Gak papa, trauma aja kalo pemberitaan antara AURI Vs Jurnalis beberapa waktu silam,” kataku sembari bergumam dalam hati. Ntar asal masuk asal jepret, eh si petugas nanti bisa asal tonjok. Hihihih, sekadar sedia payung sebelum hujan reda. Kita sebagai wartawan jadi takut juga.

Narsis Di Bokong Hercules

Narsis Di Bokong Hercules

Maka setelah itu, berfotolah saya di bokong pesawat Hercules C-130 yang gagah perkasa itu. Gak cukup sekali, saya difoto dua kali. Gak cukup sendiri, saya berfoto bersama rekan dari TVRI. Gak cukup bersama rekan pers, kami berfoto dengan prajuri yang ranselnya di depan dan di belakang. Kebayang kalau aku yang punya badan sekurus ini nentengi tu ransel. Gak usah dibayangkan deh lebih baik.

Mereka semua baik, segala apa-apa yang wartawan inginkan selalu dipenuhi. Ini juga tentunya menjadi awal yang baik sebuah hubungan dan jaringan yang berkesinambungan. Wartawan itu memang harus sok-sokan namun tetap sopan. Kata bos di kantor, (Pimred, maksudnya) “Sedikit pina musti tetap tetap sopan,” begitu.

Setelah semua prajurit siap ditempat yang sudah ditentukan, kita menuju ke tepi landasan untuk mengambil dan menyaksikan bersama take off pesawa Hercules tersebut. Awalnya sih sempat ditawarin juga. Tapi gak dulu deh, apalagi udah malam banget kan. Di langit kan, gak ada listrik. Ada sih listrik, tapi kenceng banget. Bising lagi. Suaranya listrik menggelegar dan mampu membuat suasana malam seperti siang. Walau hanya sekejap. Tapi menakuktan.

Cuaca memang sedang buruk, kata Komandan, jarak tempuh menuju Kaltim bisa jadi lebih dari satu jam. Latihan operasi militer gabungan itu sengaja dilaksanakan malam hari karena skenarionya latihan ini adalah operasi rahasian. Sebab, daerah yang didatangi sudah dikuasai oleh musuh. Jadi pasukan ini dikirim untuk membuka akses denga pertempuran disana. Di sana, (di dua lokasi yang mana mereka keseluruhannya akan diterjunkan) sudah stand by beberapa pasukan. Pokoknya begitulah ceritanya. Sampai wilayah berhasil diamankan oleh Angakatan Bersenjata Republik Indonesia. Merdeka.

Memasuki Hercules C-130

Memasuki Hercules C-130

Setelah data dan pengambilan gambar dirasa cukup. Kita masuk ke ruang tamu Danlanud Esron. Danlanudnya Syamsudin Noor yang baru nih, menggantikan Danlanud sebelumnya, Letkol Pnb M Mukshon. (Sempat menyayangkan juga, 2 tahun berkarier di jurnalis, sering ketemu dan bergaul serta berbincang dengan beliau, eh malah gak sempat foto bareng. Padahal sertijab beberapa waktu yang lalu adalah momentum yang pas untuk foto bersama. Tapi ya sudahlah, semoga di lain waktu jika aku berkesempatan ke Makassar diharusnya mampir ke AURI dan bertemu dengan Komandan Mukhson untuk menyelesaikan urusan kami yang belum terselesaikan, berfoto bersama. Itung-itung sebagai kenang-kenangan).

Kami disuguhkan nasi kotak dari restaurant Lombok ijo. Alhamdulillah, tadi berangkat aku gak sempat juga makan malam. Rejeki nih, gak boleh ditolak. Setelah kenyang, kita ngombrol sembari basa-basa menghabiskan sebatang rokok. Sembari banyak nanya. Aku sih berharap segelintir orang yang bergaul dengan kami rekan Pers gak bosan, abisnya, kalau ketemua banyak nanya mulu. Kepo banget sih jadi wartawan.

“Sebenarnya di AURI itu ada berapa jenis seragam, Ndan?” tanyaku.

“Sebenarnya ada empat. Kalau motif loreng yang saya pakai sekarang ini untuk lapangan. Kalau yang orange itu untuk tim teknis. Kalau dinas Harian yang warna biru langit itu. Beda lagi kalau acara besar ke militeran, mirip sih, tapi aksesorisnya lebih banyak,” paparnya yang saat itu memakai baju loreng hijau yang biasa kita lihat para tentara memakainya. Pokoknya yang biasanya kita tahu deh. Kalau gak tahu berarti gak biasanya dong.

Itu para AURI yang beseragam terusan berwarna Jingga atau bahasa kerennya Orange membuat saya trauma. Maksudnya gak trauma-trauma banget sih, tapi ingat kan? Pasti inget dong! di videonya wartawan Riau TV yang mana fotografer Riau Post pada main gulat dirumput setelah motret pesawat jatuh. Bahaya banget ya. (Kalau salah tolong dibeneri aja, agal lupa juga fotografer Riau Post, bukan?).

Setelah obrolan cukup, kita pamitan untuk pulang dan bersegera istirahat. Secara, besoknya atau lebih tepatnya hari ini kita para Pers harus siap-siap lagi buat Ujian Nasional. Yang ujian sih SD, tapi kita-kita ya harus ikut juga. Demi pemberitaan. Perlu gak perlu yang penting kita udah ngasih tau. Gitu tu komitmen surat kabar dan media elektronik.

Setelah menukarkan ID Card dengan di pos penjagaan, aku beranjak pulang dengan motor butut. Kusempatkan pula mampir ke kantor mengopy beberapa file foto dan membawa pulang Koran hari ini. Malam yang dingin, lalu lintas yang tenang, seonggok terang bulan special keju kubawakan untuk para rekan yang sedang bekerja di sekretarian EO tengah malam ini. Terutama beberapa snack dan minuman, untuk kekasihku yang merajuk dari tadi siang. []

 

Banjarbaru, Senin, 6 Mei 2013 02.00 Wita

Dengan alunan “Kangen” by Dewa 19

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s