Kampanye Neraka

Standar

Baru saja saya menyaksikan sebuah program yang memang saya jadikan sebagai program talkshow terfavorit. Memang subjektif kesannya. Tak apa. Sang bintang tamu mengatakan, kita sedang berada dalam undangan promosi lokasi prostitusi moral. Yakni, kampanye Neraka.

Ibarat promosi, kita adalah manusia polos tanpa ilmu yang tidak mengetahui apa-apa, sedang dibawa oleh para malaikat menuju surga dan neraka. Di surgalah, kita diperlihatkan kedamaian, kesejahteraan, penuh ketenangan dan tentram. Lantas dibawalah kita untuk melihat neraka yang didalamnya dipertontonkan kegembiraan, pesta pora, kesenangan dan sejumlah hiburan. Yang diisi para pesohor-pesohor bintang dunia, cantik-cantik, glamaour dan penuh gairah. Sang malaikat pun bertanya. “Jika diminta memilih, anda pilih yang mana?” maka kita pun menjawab. “Neraka. Karena menggembirakan dan menyenangkan.” Lantas kembalilah kita di kehidupan nyata.

Singkatnya, tiba masa pemilihan tersebut. Sebagaimana yang telah dijanjikan, maka dimasukkanlah kita ke dalam neraka. Tapi, alangkah terkejutnya kita dengan keadaan dan gambaran yang terjadi. Di dalam neraka, penuh dengan siksaan, orang-orang dibantai dan dibakar. Mereka yang memang tak bermolar digantung rambutnya. Disetrika punggungnya. Sampai mati dan dihidupkan lagi untuk disiksa. Mereka yang mengingkari janji dipotong lidahnya. Dipulihkan, lantas dipotong untuk ke sekian kalinya. Sampai mereka berucap tobat dan insyaf, namun apa daya. Sudah di dalam neraka. Maka kita pun melakukan pembelaan dengan bertanya kepada malaikat.

“Tuan Malaikat, bukankah neraka kemarin yang diperlihatkan tidak seperti ini?” lantas malaikat pun menjawab. “Kamu ini bagaimana. Kemarin, kan lagi kampanye. Promosi!”. Dan, apa lagi yang bisa kita perbuat.

Sebuah kelompok persaudaraan terbesar dunia pernah berucap, kebenaran yang kau dengar hari ini belum tentu menjadi kebenaran besok hari. Lantas, apa yang bisa kita percaya. Semua kembali kepada iman. Kepercayaan di dalam diri. Sebelum masuk neraka dan menyesal, alangkah baiknya kita bertafakur. Memikirkan baik dan buruk itu boleh, tapi terlalu membedakan bisa menjadi perpecahan. Alhasil, apa-apa yang kita janjikan tak semua bisa ditepati. Maka, berjanjilah sedikit saja, tapi berbuatlah kebaikan sebanyak-banyaknya. Tanpa harus menebar janji. Apalagi menjanjikan neraka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s